Tim Sumatera 3 Sebelum Meninggalkan Stasiun Gambir, Jakarta

Foto Selengkapnya

Lampung? Mendengar nama propinsi itu, yang mencuat pertama kali di kepala saya adalah gajah. Apalagi kalau bukan Way Kambas, yang menjadi lokasi penangkaran gajah sumatera di Lampung. Sehingga, mengetahui Lampung sebagai destinasi pertama kami sebagai Tim  4 Sumatera 3, imajinasi pertama saya adalah naik gajah layaknya atraksi di kebun binatang atau sirkus.

Tentu saja, untuk mewujudkan khayalan itu, saya harus ke Lampung. Untuk mencapai Lampung dari Jakarta - titik keberangkatan Tim 4 - dibutuhkan waktu kurang lebih tujuh jam.  Ini perhitungan waktu dari Stasiun Gambir hingga mencapai 'bibir' Lampung, yakni Pelabuhan Bakauheni. Saya dan dua teman setim, Yusman Firmansyah dan Abner Krey, menggunakan Bus Damri bisnis dengan tiket masing-masing seharga Rp115.000,-. Jika menggunakan Bus Damri eksekutif, harga tiketnya Rp150.000,-. Beda keduanya hanyalah ketersediaan toilet.

Kami mulai meninggalkan tanah Gambir pada Minggu (2/10) pukul 22.00 WIB. Diperkirakan, butuh waktu sekitar sembilan jam untuk mencapai Bandar Lampung, ibukota Propinsi Lampung. Pelabuhan Merak, Banten, menjadi gerbang keluar dari Pulau Jawa. Untuk mencapai Pelabuhan Bakauheni, Lampung, kami harus menyeberangi Selat Sunda selama kurang lebih lima jam dengan Ferry KMP Nusa Jaya.

Selama di atas laut, kapal yang kami tumpangi berjalan dengan kecepatan lebih lambat dari biasanya. Hal ini kami ketahui dari komentar seorang pengunjung (yang tidak ingin disebutkan namanya). “Seharusnya, ferry bisa mencapai Bakauheni selama 3,5 jam.” Kami sendiri merasakan pergerakan ferry yang tidak begitu cepat. Ombak yang tenang, hanya dengungan mesin kapal yang tertangkap di telinga.

Terlebih lagi, kami mengambil ruang VIP. Masing-masing harus membayar Rp5.000,- Berbeda dengan ruang ekonomi yang tidak dipungut biaya. Selain ketersediaan AC dan keempukan kursi, pembeda antara kelas VIP dan ekonomi adalah jenis hiburan yang disediakan. Di ruang VIP, hiburannya adalah mini-theatre yang memutar film-film asing. Sementara, hiburan di ruang ekonomi adalah musik dangdut.

Suguhan film-film berbahasa Perancis hingga Thailand, kursi yang nyaman, AC yang dingin, dan rasa penat yang menyusup, membuat kami beristirahat lebih cepat. Apalagi perjalanan malam membuat kami tidak bisa menikmati suasana di luar yang gelap dan berangin kencang.

Subuh menjelang. Ferry KMP Nusa Jaya merapat di Bakauheni. Satu per satu penumpan naik kembali ke dalam bus. Bus pun merayap perlahan meninggalkan bibir pelabuhan. Tiga jam kemudian, bus singgah sebentar di Kalianda. Memberi kesempatan bagi penumpang untuk sarapan atau sekadar cuci muka.

Perjalanan pun dilanjutkan hingga satu jam kemudian tibalah kami di Bandar Lampung, tepatnya di depan Stasiun Tanjung Karang. Pendamping kami dari Rakata Adventure, David, telah menunggu di sana. Dialah yang akan mendampingi kami selama mengunjungi tiga propinsi, antara lain: Lampung, Bengkulu, dan Sumatera Selatan.

Gajah di Way Kambas yang seharusnya kami kunjungi di hari pertama, sesuai itinerary, terpaksa harus kami lewati. Terlebih dahulu, kami akan menikmati pesona Teluk Kilauan. Seperti apa perjalanan kami ke Teluk Kilauan? Ikuti terus catatan petualangan kami.

Komentar (0 Komentar)

     atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Cari Penawaran Terbaik di Sini

    Peringkat Grup Petualang

    Selengkapnya

    Jurnal Petualang Lainnya