Bus menuju Kota Baru yang terisi penuh penumpang

Foto Selengkapnya

 

A journey is best measured in friends, not in miles ~ Tim Cahill

Kalimantan merupakan pulau terbesar ketiga di dunia, dan wilayahnya terbagi menjadi tiga Negara: Indonesia, Malaysia dan Brunei Darusalam. Ada banyak sungai besar yang mengalir di pulau ini. Potensi sumber daya hayatinya luar biasa, yang dilestarikan lewat taman perlindungan. Belum lagi jika bicara tentang potensi sumber daya alamnya. 

Informasi di atas saya dapat dalam beberapa menit berkat kecanggihan Google. There’s no shame in doing that. Cuma, membaca paragraph di atas, saya merasa tidak benar-benar  mengenal Kalimantan. Atau Indonesia. Saya merasa saya menjadi orang yang punya informasi, tanpa mendapat maknanya (the generation that had information, but no context – Meg Wollitzer). 

Saya memulai perjalanan (baca: petualangan) ini dengan harapan dapat mengubah itu semua. Saya mau menyaksikan sendiri  keindahan Kalimantan. Mengalami sendiri gaya hidup, tradisi dan kebudayaan masyarakat lokal. Merasakan sendiri kuliner Kalimantan. Dan itu saya dapat langsung, dari hari pertama petualangan.

Hari pertama kami diisi dengan perjalanan panjang menuju Kota Baru, Kalimantan Selatan. Sampai di Banjarmasin via pesawat pukul 11.30, kami langsung menuju terminal. Pukul satu tepat, kami memulai perjalanan 8 jam ke Kotabaru, termasuk perjalanan air via kapal feri selama 45 menit. Praktis tidak banyak yang bisa kami lihat hari itu. Makan siang pun tidak sempat.  Sampai akhirnya kami berhenti sebentar untuk istirahat dan makan (sore?).

Kami berbincang-bincang sambil makan dengan seorang warga lokal yang juga menjadi penumpang di bus. Tiba saatnya bus harus jalan kembali, kami bergegas membayar makanan kami, hanya untuk mengetahui bahwa makanan kami telah dibayar semua oleh warga lokal tersebut. Kami kaget. Kami hampiri ia kembali. Di feri, kami berbincang lebih lanjut. Kami mengetahui bapak itu bernama Rusman, pegawai Dinas Kesehatan setempat. Banyak hal yang kami bicarakan selama perjalanan. Kami berpisah ketika ia turun dari bus di tengah-tengah hutan gelap.

Saat bus kami turun dari feri, ada satu penumpang lain yang naik dan duduk di sebelah kami. Beberapa saat kami diam-diaman, sampai akhirnya salah seorang dari kami mulai berbasa-basi. Obrol punya obrol, kami mengetahui bahwa penumpang ini namanya Guntur, adalah anak dari pemilik Pulau Samar Gelap, destinasi kami untuk keesokan hari. Ia antusias mengetahui ada rombongan dari luar pulau yang hendak ke Samar Gelap. Ia menawarkan bantuan speedboat, guide sampai penginapan di pulau tersebut. Kami pun bertukar nomor handphone dan berjanji saling mengontak.

Pukul 20.30, bus kami tiba di terminal Kota Baru. Di depan bus riuh ramai, karena cuma ada satu ‘taksi’ berkapasitas belasan orang yang stand-by, sedang penumpang bus ada 20-an orang. Di tengah keramaian, kami diajak salah seorang penumpang untuk ikut ke pusat kota. Ada temannya yang menjemput, katanya. Jadilah malam itu kami selamat, tidak harus berjalan beberapa kilometer di tengah kegelapan dan dinginnya angin malam. Teman baru kami ini, namanya Umar, bahkan membantu mencarikan penginapan. Setelah ngobrol-ngobrol, Umar juga tertarik untuk bergabung bertualang bersama kami. Ia seorang perantau, baru dua bulan berada di Kalimantan Selatan.

Saya senang, bukan karena traktiran makan gratis, bukan karena ketemu guide lokal, atau karena dapat tebengan pulang. Saya senang, karena saya merasakan saya benar-benar menjalani petualangan ini. Ini bukan suatu cerita yang saya baca di blog travelling orang. Ini petualangan kami sendiri. Dan dalam hati, kami bertekad, apapun yang akan kami hadapi, kami akan menjalaninya dengan antusias.

 

Komentar (0 Komentar)

     atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Cari Penawaran Terbaik di Sini

    Peringkat Grup Petualang

    Selengkapnya

    Jurnal Petualang Lainnya