Daun Rendong yang bisa dijadikan obat terhadap luka bakar kulit.

Foto Selengkapnya

Alam menyediakan segalanya untuk seluruh makhluk hidup yang berpijak diatasnya, segala rupa sumber penghidupan dan hingga populasi satwa liar tak pernah lepas dan selalu terkait satu sama lain.

Salah satunya adalah kawasan hutan situ gunung, sukabumi jawa barat yang menjadi pelatihan jungle training kami sebelum mendaki puncak gunung Binaiya sebagai salah satu destinasi wisata nanti. Bagaimana tidak, hutan yang berbatasan dengan dua kabupaten yakni Bogor dan Sukabumi memiliki tipografi hutan tropis dengan curah hujan terbesar di jejeran Pulau Jawa.

Berbagai macam tumbuhan yang bisa dijadikan makanan cukup banyak tersedia jika kehabisan logistik perjalanan dikawasan yang terkenal dengan Macan Tutul dan rumah bagi satwa primata Owa Jawa. Misalnya saja tepus, tumbuhan dengan tinggi 3-5 meter dengan ciri daun lebar memanjang dan batang berdiameter 10 centimer ini bisa dimanfaatkan sebagai pengganti makanan sementara, yakni dengan menebang batang pada bagian bawahnya. Kemudian dikupas ruas batang tersebut hingga menemukan bagian paling tengah dan pada bagian itulah bisa dilahap ketika dalam keadaan darurat, adapun bentuk batangnya hampir sama dengan pelepah pisang, namun ruasnya lebih rapat.

Soal rasa jangan ditanya, agak tawar dan sedikit sepat. Maklum saja tumbuhun ini selalu tumbuh disekitar jalur air dan paling cepat tumbuh besar disetiap tunasnya. selain itu terdapar juga tumbuhan bernama Begonia, bentuknya mirip dengan jenis talas. namun yang membedakan adalah, tumbuhan ini memiliki bulu halus yang terdapat pada batang hingga daun. sedangkan bagian yang bisa dijadikan makanan adalah bagian batangnya yang berwarna merah muda, caranya dengan mengupas kulit batang hingga bersih. tumbuhan ini memiliki rasa yang cukup ekstrim, karena memiliki rasa asam yang tinggi, ada baiknya dengan membumbuinya dengam garam agar rasa asamnya sedikit berkurang.

Selain itu, keberadaan kawasan tepat di bawah Gunung Gede dan Pangrango ini juga memiliki apotik hidup terlengkap di Indonesia. Bahkan disekitar tahun 1850-an pernah seorang peneliti berkebangsaan Inggris yang bernama Alfred Wallace sengaja datang Indonesia hanya untuk mencatat berbagai tumbuhan yang bisa dimanfaatkan oleh manusia, dirinyapun membuktikan dengan segudang catatan mengenai flora terbesar yang tersimpan di museum biologi dinegaranya.

Beberapa diantaranya adalah daun Rendong yang berbentuk wajik dengan memiliki ruas daun agak lebar dan sedikit berbulu, tumbuhan ini bisa dimanfaatkan sebagai obat luka bakar dan luka pada kulit bagian lainnya. Jenis daun yang satu ini banyak ditemukan pada ketinggian 1075 meter diatas permukaan laut.

Selain itu ada juga daun pulus yang bisa dijadikan racun untuk berburu binatang seperti kelinci, tikus ayam hutan dan berbagai binatang lainya yang bisa dijadikan makanan. yaitu dengan mengerus daun lalu mengoleskannya pada pisau atau jebakan untuk binatang buruan. Maka binatang tersebut akan mengeeliat dan mengalami kejang-kejang, karena efek yg ditimbulkan dari daun tersebut adalah rasa nyeri dan gatal. Jika tidak hati-hati, malah diri kita yg akan merasa gatal-gatal.

Dari beberapa jenis tumbuhan yang tersedia dikawasan situ gunung menambah keyakinkan kami menuju salah satu puncak 'seven summit Indonesia' yang berada dikawasan taman nasional Manusela, Maluku bahwa negri ini kaya dengan beragam flora dan fauna yang bisa dimanfaatkan.

Negara ini memang kaya, terutama hutan, laut dan pegunungan. segalanya tersedia untuk memenuhi segala kebutuhan hidup. Tentunya dengan tidak mengekspolitasi terlalu berlebihan dan menggunakan secukupnya. Cukup menjaga dan melestarikan, sudah cukup untuk memenuhi anak cucu di masa mendatang.

Namun setiap daerah memiliki keunikan berbeda, kami berharap bisa menemukan pengetahuan baru yang tentunya tidak sama dengan kawasan hutan Situ Gunung di tanah jazirah empat raja. (dharma)

Komentar (0 Komentar)

     atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Cari Penawaran Terbaik di Sini

    Peringkat Grup Petualang

    Selengkapnya

    Jurnal Petualang Lainnya