Foto Selengkapnya
iNengah Salin, lahir 27 April 1963 di Dusun Yoh, Desa Pengotan, Bali. Anak ke-8 dari 12 bersaudara dan merupakan bapak dari 2 orang anak perempuan. Nang Salin adalah sapaan ramahnya, sejak lahir indra pengelihatan beliau hanya memiliki sedikit kepekaan terhadap cahaya dan warna, tidak terhadap bentuk “wajah seseorang, babi dan ayam, susah sekali membedakannya jika melihat rupa” ujar Nang Salin.
Tapi itu merupakan anugrah yang Tuhan berikan kepada Nang Salin hingga sekarang beliau menjadi pelatih musik tradisi Gamelan Bali di desanya dengan misi melestarikan Budaya Bali di tengah masa transisi ini agar nafas dari agama Hindu yang telah berabad lamanya ini tetap berhembus.
Ding Dong Deng Dung Dong merupakan nada-nada dasar yang Nang Salin sering ucapkan ketika dia melatih para murid-muridnya. Dengan kepekaaan pendengarannya beliau melatih semua muridnya. Pria yang bisa bermain semua alat musik Bali ini pun mengatakan tidak pernah ada hambatan dengan indra pengelihatannya yang berbeda dari orang lain. Masa-masa awal beliau belajar dilakukan secara bertahap mulai dari mendengar, lalu mempraktekkan dalam pikiran, setelah itu dia langsung mengambil alat musik Bali dan memainkannya.
Musik yang sering Nang Salin ajarkan terhadap murid-muridnya ini adalah musik-musik yang dimainkan untuk mengiringi tarian-tarian Bali, yang diperuntukan untuk kebutuhan upacara agama. Pria asli Desa Pengotan ini pun tidak pernah menganggap dirinya sebagai pelatih/pengajar, beliau selalu menekankan terhadap murid-muridnya ‘mari kita belajar bersama-sama’ dengan pedoman : “Kita tau dari belajar” itulah yang membuat pria ini terus berkembang dalam keilmuan pola-pola tabuh Bali.
Tidak pernah menekan atau menuntut muridnya karena menyadari bahwa kemampuan seseorang berbeda-beda yang juga beliau selalu terapkan dalam pola pengajarannya “Tapi yakin bahwa semua orang pasti bisa” ujarnya di akhir percakapan.
Nang Salin pun menunjukan kepada kami permainan sulingnya, dan alat-alat musik kecil lainnya yang ia selalu bawa kemana-mana di dalam tas kecilnya. Dengan penuh senyum dan keramahan hati, beliau pun mengundang kami ke Pura Desa yang terletak di Dusun Yoh, untuk melihat proses latihan dalam rangka mempersiapkan upacara agama yang akan dilaksanakan 7 hari ke depan.
Penasaran? Ikuti terus cerita perjalanan tim Jawa III yang akan melihat proses latihan gamelan Bali di Pura Desa yang akan dilatih langsung oleh salah tau pria Indonesia luar biasa, Nang Salin.
“Ini adalah suatu keharusan, agar tidak punah, karena bagaimanapun ini sangat berkaitan dengan agama, yaitu sebagai nafas hindu. Apabila punah, maka hilanglah ciri khas Bali. Ini memerlukan regenerasi berkelanjutan” - Nang Salin, 2011
Komentar (0 Komentar)
Cari Penawaran Terbaik di Sini
-
Rp 2,487.000
-
Rp 1,257.000
Peringkat Grup Petualang
-
#1
Jumlah vote : 5391
-
#2
Jumlah vote : 3962
-
#3
Jumlah vote : 2238
-
#4
Jumlah vote : 2188
-
#5
Jumlah vote : 1415
Jurnal Petualang Favorit
Jurnal Petualang Lainnya
-
Dan Pemenangnya Adalah...
Oleh: Aku Cinta Indonesia
4 komentar
-
Masjid Agung Palembang: 263 Tahun Merentang Zaman
Oleh : Lalu Abdul Fatah- Sumatera 3
35 komentar
-
Cerita Tentang Triton dan Irish
Oleh : Yakub Hari Kristianto- Papua 2
10 komentar

