Foto Selengkapnya
Desa Pengotan, Bangli, Bali memang terkenal memiliki potensi alam berupa hutan bambu yang tersebar sangat luas di daerah Desa Pengotan ini. Maka jangan heran apabila Anda akan sering-sering bertemu banyak perabotan, alat-alat, rumah, bahkan alat musik yang terbuat dari bambu di sepanjang daerah ini. Ya, salah satunya adalah Gerantang dan Rindik yang merupakan alat musik tradisional asal Bali yang terbuat dari bambu, dan akan menjadi bahan tulisan saya kali ini.
Sore ini diantar oleh Bli Bayer (fasilitator Baliwoso) kami mengunjungi 1 rumah di pinggir jalan yang tertutup oleh tanaman bambu (sampai-sampai saya tidak sadar bahwa disitu ada rumah, hehe) Bli Bayer mengantar kami ke rumah milik Nang Rayi yang merupakan pembuat alat musik yang terbuat dari bambu khas Bali ini, apalagi kalau bukan Gerantang dan Rindik.
Gerantang dan Rindik merupakan alat musik pukul yang terbuat dari bambu yang disusun secara horizontal. Untuk membuat 1 buah Gerantang atau Rindik memerlukan waktu kurang lebih selama 1 bulan. Proses pembuatannya pun cukup rumit, yang pertama adalah memilih bambu sebagai bahan dasar utama, dan tidak sembarang bambu dapat digunakan menjadi bahan dasar alat musik ini.
Hanya orang-orang tertentu seperti Nang Rayi saja yang dapat membedakan bambu-bambu mana yang dapat digunakan, bambunya pun tidak sembarang bambu biasa, tapi bambu khusus yang jenisnya diambil dari pinggir danau atau disebut juga bambu petung jempit. Selanjutnya, bambu memasuki proses dasar yang merupakan pengeringan, setelah itu dipotong-potong sesuai ukuran agar mencapai nada yang diinginkan, lalu dipasang berurutan secara horizontal dan dilakukan pengetesan bunyi. Apabila bunyi tidak sesuai maka urutan bambu akan di bongkar dan dipotong-potong kembali sampai mendapatkan bunyi yang pas.
Gerantang dan Rindik memiliki sedikit perbedaan, Rindik adalah inovasi baru dari Gerantang yang memiliki tumpukan setengah bambu diatasnya sehingga suaranya lebih bergema. Harganya pun berbeda, untuk 1 set Gerantang dihargai Rp 300.000,- dan Rp. 600.000,- untuk 1 set Rindik.
Nang Rayi yang lahir di tahun 1944 ini memiliki tempat pembuatan Gerantang dan Rindik sejak tahun 1995 dan sudah mulai memainkan Gerantang sejak masih duduk di kelas 3 SD. Beliau membuat Geratang dan Rindik tidak hanya sekedar untuk mencari uang, tapi juga dalam rangka untuk terus melestarikan kesenian daerahnya. Terbukti dalam perjalanannya bermain Rindik beliau telah 2 kali membentuk sanggar seni yang menspesialiskan pada bidang alat musik ini, yang pertama pada tahun 1989 diberi nama “Eka Jaya Semara” dan yang kedua pada tahun 1998.
Gerantang atau Rindik ini dapat dimainkan secara tunggal mau pun berkolaborasi, Gerantang dan Rindik tunggal biasanya dimainkan oleh 2 orang untuk 1 setnya, tetapi tidak jarang juga hanya ditabuh oleh 1 orang. Sedangkan secara kolaborasi dapat dimainkan bersamaan dengan kendang, ceng-ceng, suling, dan lain-lain yang biasanya Gerantang dan Rindik berfungsi sebagai melodi dalam sebuah lagu. Alat musik ini pun juga mempunyai fungsi lain, yaitu sebagai pengiring tari khas Bali bernama ‘Tari Joget’ yang biasa dibawakan untuk upacara agama di pura. Juga biasa dimainkan dalam kesenian ‘Gong Gebyar’.
Itulah sekilas cerita tentang alat musik bambu khas Bali yang berada di Desa Pengotan ini. Apabila kawan-kawan ada yang berprofesi di bidang kesenian dan ingin mengetahui langsung seperti apa Gerantang dan Rindik itu, kawan-kawan dapat mengunjungi rumah Nang Rayi yang berada di Jl. Nusantara, Kintamani, Bangli atau bisa menghubungi beliau langsung di 085339137959.
Salam Kesenian!
Komentar (0 Komentar)
Cari Penawaran Terbaik di Sini
-
Take the road less travelled on this trip through Guatemala, Honduras, Nicaragua and Costa Rica, Save 15%
Rp 11,726.000 -
Rp 15,430.000
Peringkat Grup Petualang
-
#1
Jumlah vote : 5391
-
#2
Jumlah vote : 3962
-
#3
Jumlah vote : 2238
-
#4
Jumlah vote : 2188
-
#5
Jumlah vote : 1415
Jurnal Petualang Favorit
Jurnal Petualang Lainnya
-
Dan Pemenangnya Adalah...
Oleh: Aku Cinta Indonesia
4 komentar
-
Masjid Agung Palembang: 263 Tahun Merentang Zaman
Oleh : Lalu Abdul Fatah- Sumatera 3
35 komentar
-
Cerita Tentang Triton dan Irish
Oleh : Yakub Hari Kristianto- Papua 2
10 komentar

