Foto Selengkapnya
Air terjun memang selalu menjadi favorit saya jika sedang travelling. Di benak saya bahkan saya lebih menyukai air terjun dari pada pantai dan laut. Air terjun berbentuk lagoon dengan warna air hijau tosca yang terletak di tengah-tengah hutan serta tidak ada orang lain yang berada di air terjun tersebut, akan membuat saya kegirangan sesaat, dan pasti akan langsung berenang di air terjun tersebut sampai kulit jadi keriput karena menahan dingin. Dari beberapa air terjun yang sudah saya kunjungi, air terjun terindah berada di Pulau Moyo Sumbawa, berbentuk lagoon kecil dengan air jernih dan pancuran air terjun yang tidah terlalu deras, dan berada di tengah hutan. Mandi di air terjun seperti ini bisa bikin lupa diri.
Di Biak, sekitar 1 jam ke arah Biak Utara, terdapat Air Terjun Wafsarak. Berbeda dengan air terjun yang sudah saya kunjungi sebelumnya, di mana kita harus trekking terlebih dahulu sebelum sampai di air terjun, maka Air Terjun Wafsarak ini berada hanya sekitar 200 m saja dari pinggir jalan. Mudah untuk menemukannya, karena di pinggir jalan terdapat plang besar yang menandakan bahwa anda telah sampai di Air Terjun Wafsarak.
Jika Anda membawa mobil, tidak terdapat area parkir khusus, maka parkir saja mobil anda di depan rumah penduduk di pinggir jalan, jangan lupa untuk memberikan semacam uang parkir kepada keluarga yang pekarangannya dipakai sebagai tempat parkir. Bahkan turun dari mobil pun kami sudah dapat mendengar suara gemericik air, menandakan lokasi air terjun memang tidak jauh dari jalan utama. Baru kali ini pula saya menemukan air terjun indah dengan warna air hijau tosca, yang dapat ditemukan tanpa harus berlama-lama melakukan trekking masuk ke dalam hutan.
Berjarak sangat dekat dengan air terjun tersebut, terdapat rumah Ibu Elena, usianya sekitar 30 tahun, kepada beliaulah pengunjung diharuskan membayar iuran masuk sebesar Rp 35.000/grup, serta jangan lupa untuk mengisi buku tamu yang telah disediakan. Ibu Elena mempunyai 4 putra dan putri, Susi 5 tahun, Alfonsiana 3 tahun, Noak 2 tahun dan yang paling kecil adalah Yacobus yang baru berusia 8 bulan.
Saat kami tiba, putra putri Ibu Elena dan beberapa anak kecil lainnya tampak sedang mandi di aliran air terjun yang berada tepat di depan rumah mereka. Menurut keterangan Pak Yanto supir kami, rumah Ibu Elena tersebut baru ada sekitar 3 tahun lalu, sebelumnya tempat tersebut adalah merupakan area parkir bagi para pengunjung air terjun.
Tidak ada pengnjung lain selain kami berempat pagi itu, air terjun berwarna hijau tosca berbentuk lagoon terlihat dihadapan kami. Anak-anak kecil warga sekitar yang melihat kami membawa kamera langsung beraksi memanjat bebatuan, hingga ke puncak air terjun dan mulai melakukan atraksi meloncat dari puncak dan menceburkan diri ke lagoon yang berada di bawah mereka. Tidak lama kemudian, 2 laki-laki bule asal Prancis datang bergabung bersama kami di Air Terjun Wafsarak, dan melakukan hal yang sama, yaitu terjun dari puncak air terjun.
Bila Anda punya cukup waktu, trekking saja naik keatas mengikuti jalan tanah berbatu, sekitar 30 menit, maka Anda dapat menemukan bagian lain dari Air Terjun Wafsarak, lagoon-lagoon dengan ukuran yang lebih kecil menyambut Anda. Berenang, berendam, dan loncat-loncatan adalah kegiatan wajib saat Anda mengunjungi Air Terjun Wafsarak, airnya tidak terlalu dingin, sepi pengunjung, dan kita bisa memilih ukuran lagoon yang diinginkan. Jika tidak mau berendam di lagoon yang dalam, kita bisa berendam di lagoon yang lebih dangkal, sensasinya sama, menyegarkan dan seperti berada di kolam renang pribadi yang dikelilingi oleh rindangnya pepohonan.
Komentar (0 Komentar)
Cari Penawaran Terbaik di Sini
-
Rp 15,598.000
-
Rp 2,487.000
Peringkat Grup Petualang
-
#1
Jumlah vote : 5391
-
#2
Jumlah vote : 3962
-
#3
Jumlah vote : 2238
-
#4
Jumlah vote : 2188
-
#5
Jumlah vote : 1415
Jurnal Petualang Favorit
Jurnal Petualang Lainnya
-
Dan Pemenangnya Adalah...
Oleh: Aku Cinta Indonesia
4 komentar
-
Masjid Agung Palembang: 263 Tahun Merentang Zaman
Oleh : Lalu Abdul Fatah- Sumatera 3
35 komentar
-
Cerita Tentang Triton dan Irish
Oleh : Yakub Hari Kristianto- Papua 2
10 komentar

