Foto Selengkapnya
Rabu, 12 Oktober 2011.
Itinerary kami tidak memasukkan Pulau Kemaro sebagai lokasi kunjung. Tapi, kami bertindak fleksibel. Sebagaimana seorang traveler seharusnya begitu. Apalagi dalam rangka bersenang-senang dan menikmati. Jadi, pengaturan yang terlalu ketat juga tidaklah asyik.
Maka, setelah menyusun ulang itinerary di kamar hotel yang terletak di Jalan P Tendean, kami pun mengagendakan untuk mengunjungi Pulau Kemaro. Delta di hilir Sungai Musi ini juga menjadi alasan kuat kami untuk 'turun' ke sungai yang jadi kebangaan masyarakat Palembang ini. Kalau sekadar melintas di atas Jembatan Ampera dan menikmati dari atas, tentu tak akan meninggalkan kesan mendalam. Jadi, totalitas dalam jalan-jalan juga diperlukan. :))
Kami naik perahu motor atau orang Palembang menyebutnya ketek di depan Benteng Kuto Besak. Kami yang 'buta' harga, dipatok Rp 100 ribu untuk 4 orang. Seharusnya sih masing-masing orang Rp 10 ribu. Tapi, memang pengalaman pertama sering kali 'berharga'. Kami pun setuju dan naiklah satu per satu. Bang Ian, supir kami, tidak ikut serta. Hanya saya, Bang Abner, Umen, dan Bang David saja.
Jarak antara Jembatan Ampera dan Pulau Kemaro memang tidak begitu jauh. Kurang dari 1 jam perjalanan bisa ditempuh membelah Sungai Musi yang berair kecokelatan.
Kami pun tiba di Pulau Kemaro. Berhenti sejenak di sebuah warung yang menjajakan minuman dingin di situ. Udara sedang panas-panasnya. Untung saja di Pulau Kemaro banyak pohon rindang nan tinggi. Angin berembus sepoi-sepoi cukup melenakan.
Dari obrolan dengan salah satu pengunjung yang ikut nongkrong di situ, terkuaklah sejarah penamaan pulau ini. Dinamakan Kemaro karena pulau kecil ini tidak pernah kebanjiran sekalipun air Sungai Musi meluap. Padahal tepian daratan yang lainnya sepanjang Sungai Musi, akan terendam. Pulau ini tetap kering. Entahlah, ada penjelasan ilmiah apa di balik itu. Itu hal menarik pertama.
Kami mulai berjalan ke arah Klenteng Soei Goeat Kiong yang warna merahnya begitu 'menantang' di antara pepohonan hijau di sekelilingnya. Kami ingin melihat-lihat dalam klenteng yang lebih populer disebut Klenteng Kuan Im ini. Tapi, klenteng yang dibangun sejak tahun 1962 ini rupanya sedang diperbaiki. Tampak beberapa tukang sedang sibuk bekerja. Diawasi oleh penjaga klenteng.
Kami menuju sisi lain. Sebuah pagoda berlantai 9 yang dibangun tahun 2006 tampak menjulang di tengah-tengah Kemaro. Di sisi lainnya yang berada di tepi sungai, juga terdapat beberapa patung yang khas Budha. Foto-foto narsis dengan berlatar pagoda ini pun tercipta. Sayang rasanya, jauh-jauh ke sini tanpa berfoto narsis :))
Hal menarik kedua adalah legenda cinta tragis yang terdapat di pulau ini. Legenda yang terjadi pada zaman Kerajaan Palembang ini berawal saat Siti Fatimah, putri Raja Palembang, yang dilamar oleh saudagar sekaligus Pangeran Tiongkok bernama Tan Bun Ann. Siti Fatimah mengajukan syarat pada Tan Bun Ann agar menyediakan 9 guci berisi emas. Keluarga Tan Bun Ann pun menerima. Untuk mengurangi risiko perampasan oleh bajak laut, guci berisi emas itu pun ditutupi dengan asinan sawi. Sesampai di dekat Pulau Kemaro, Tan Bun Ann terdorong untuk memeriksa isi guci. Melihat isinya yang cuma asinan sawi, ia pun kesal dan membuang guci-guci itu ke sungai. Guci terakhir yang ia lempar ternyata pecah dan di situlah ia melihat keping-keping emas.
Merasa terlambat menyadari hal itu, Tan Bun Ann segera terjun ke sungai. Karena tak muncul-muncul alias tenggelam, pengawalnya pun ikut terjun mencarinya. Dua orang tersebut tenggelam pula. Siti Fatimah pun berinisiatif terjun dengan niat membantu sambil berkata, "Jika ada tanah yang tumbuh di tepi sungai ini, maka di situlah kuburan saya." Ketiganya ternyata tidak pernah muncul ke permukaan. Maka, untuk mengenang mereka, dibuatlah makam di Pulau Kemaro ini. Anda bisa temukan makam tersebut di depan klenteng.
Keberadaan klenteng Budha ini menjadi daya tarik sendiri bagi para penganut Budha untuk datang sembahyang. Terlebih saat perayaan Cap Go Meh, umat Budha ramai berdatangan. Tidak hanya mereka yang warga Kota Palembang, tapi juga warga daerah lainnya di Indonesia. Bahkan, warga Hongkong, Singapura, China, dan lain-lain juga datang berombongan ke sini.
Umat non-Budha pun banyak yang datang ke sini, seperti kami. Sekadar belajar sejarah, legenda, melancong, memotret, sekaligus menikmati liukan riak air Sungai Musi.
Anda telah berada di Palembang? Sayang sekali jika Pulau Kemaro dilewatkan.
Komentar (0 Komentar)
Cari Penawaran Terbaik di Sini
-
Rp 2,487.000
-
Rp 1,255.000
Peringkat Grup Petualang
-
#1
Jumlah vote : 5391
-
#2
Jumlah vote : 3962
-
#3
Jumlah vote : 2238
-
#4
Jumlah vote : 2188
-
#5
Jumlah vote : 1415
Jurnal Petualang Favorit
Jurnal Petualang Lainnya
-
Dan Pemenangnya Adalah...
Oleh: Aku Cinta Indonesia
4 komentar
-
Masjid Agung Palembang: 263 Tahun Merentang Zaman
Oleh : Lalu Abdul Fatah- Sumatera 3
35 komentar
-
Cerita Tentang Triton dan Irish
Oleh : Yakub Hari Kristianto- Papua 2
10 komentar

