Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 02 Sep 2014 18:55 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Sst, Madura Punya Pulau Gili Secantik di Lombok

Rudi Candra
detikTravel Community
Foto 5 dari 5
Narsis dulu di pulau Gili Labak
Narsis dulu di pulau Gili Labak
detikTravel Community - Pulau Madura, makin menarik untuk dikunjungi para traveler, semenjak ada Jembatan Suramadu. Tapi tahukah para traveler, di dekat Sumenep, Madura, ada Pulau Gili Labak yang secantik pulau Gili di Lombok.

Kalau berbicara tentang objek wisata yang ada di kota Sumenep di Madura, mungkin yang langsung terbersit dalam pikiran kita adalah pantai Lombang yang terkenal karena cemara udangnya atau makam raja-raja Sumenep yang biasa dikenal dengan sebutan Asta Tinggi.

Bila Anda sedang berplesiran di Sumenep, tidak ada salahnya untuk mencoba mengunjungi salah satu pulau terpencil nan eksotis, yakni Pulau Gili Labak. Dijamin Anda tidak akan menyesal berpetualang ke pulau yang satu ini.

Saya bersama rekan-rekan memulai petualangan ini dengan naik angkot dari kota Sumenep menuju pelabuhan Kalianget, dengan ongkos angkot Rp.10.000 per orang. Waktu tempuh dari kota Sumenep ke pelabuhan Kalianget kurang lebih 20 menit. Sebenarnya dari pelabuhan Kalianget ini kita bisa melakukan pelayaran ke pulau Gili Labak dengan menyewa perahu nelayan.

Sebaiknya Anda menyewa perahu beberapa hari sebelumnya, karena belum tentu ada perahu yang melayani pelayaran ke Pulau Gili Labak tiap harinya. Tetapi saya memilih alternatif lain untuk menuju ke Gili Labak, yakni melalui Pulau Talango yang tidak jauh dari pelabuhan Kalianget.

Selain karena waktu pelayarannya ke Gili Labak lebih singkat, juga kebetulan ada teman saya yang tinggal di pulau Talango ingin ikut serta ke pulau Gili Labak. Saya pikir akan lebih seru kalau pergi ramai-ramai.

Untuk sampai ke Pulau Talango dibutuhkan waktu kurang lebih 10-15 menit dengan menaiki perahu. Ongkos perahunya sangat murah, hanya Rp 2000 / orang, sedangkan kalau membawa sepeda motor dikenakan tambahan biaya sebesar Rp 5.000. Sesampainya di Pulau Talango, kami disambut oleh teman lama kami dan mengajak mampir terlebih dahulu ke rumahnya untuk sekedar bersilaturrahmi, karena saat itu masih dalam suasana lebaran.

Teman kami itulah yang membantu mencarikan perahu untuk disewa ke Pulau Gili Labak, karena dia memiliki banyak kanalan nelayan-nelayan dan paham betul mengenai akses ke Pulau Gili Labak. Harga sewa perahunya Rp 500.000 dengan kapasitas 10-15 orang. Setelah semua perlengkapan telah siap, lalu kami bertujuh langsung naik ke perahu untuk memulai petualangan menuju Pulau Gili Labak.

Oh ya, jangan lupa bawa bekal makanan dan minuman ya, karena di Gili Labak tidak ada warung. Setelah dua jam mengarungi lautan, pulau Gili Labak mulai terlihat. Sungguh tidak sabar kami ingin segera menginjakkan kaki di pulau itu. 30 Menit kemudian, jangkar telah ditancapkan, tanda bahwa perahu kami akan bersandar di pantai Pulau Gili Labak. Segera saya mengambil ponsel dan mengabadikan pemandangan indah yang ada di hadapan saya.

Air lautnya sangat jernih, sehingga kita dapat melihat terumbu karang dan biota laut lainnya. Pasir pantainya juga putih bersih. Cuaca saat itu sangat panas, sehingga kami memutuskan untuk beristirahat sejenak di rumah warga. Warga di pulau ini sangat ramah dan baik terhadap wisatawan.

Bahasa mereka sehari-hari adalah bahasa Madura, tetapi mereka juga fasih berbahasa Indonesia lho. Pulau Gili Labak ini masih sangat sepi, hanya ada beberapa rumah penduduk. Bagi wisatawan yang berkunjung ke pulau ini, diharapkan berperilaku dan berpakaian sopan, karena penduduk di sini masih sangat menjunjung tinggi adat istiadat dan norma agama.

Di sini tidak ada air tawar, melainkan air payau yang digunakan untuk memasak, diminum, dan MCK (Mandi, Cuci, Kakus). Begitu pula dengan listrik, karena jaringan listrik masih belum sampai ke pulau ini, penduduk disini menggunakan panel surya (canggih juga ya mereka). Untung saja pulau ini masih ter-cover jaringan telepon seluler. Ya, bisa dikatakan fasilitas di pulau ini masih sangat minim.

Setelah puas berbincang-bincang dengan penduduk Pulau Gili Labak, lalu aktivitas kami selanjutnya adalah berfoto narsis di pinggir pantai. Kemudian kami mengitari pesisir pantai pulau Gili Labak yang tidak begitu luas ini.

Waktu menunjukkan pukul 16.00 WIB, kami harus meninggalkan pulau  cantik ini dengan perasaan sedikit kecewa, karena tidak berkesempatan menyaksikan sunset di pulau ini. Nelayan yang mengantarkan kami, menuturkan bahwa semakin sore, air laut akan semakin surut dan di bawah terdapat banyak karang, kalau dipaksakan dapat merusak perahu kami.

Dengan alasan keamanan, kami akhirnya menuruti perkataan nelayan tersebut. Sebenarnya bisa saja menginap di pulau ini dengan menumpang di rumah warga, namun kami tidak membawa perlengkapan yang cukup untuk dapat menginap disini. Setelah berpamitan ke warga, kami segera naik perahu dan melakukan perjalanan menuju kota Sumenep.

By the way, waktu yang paling tepat mengunjungi Pulau Gili Labak menurut para nelayan adalah sekitar bulan September, karena ombak tidak begitu besar. Ok, sekian dulu cerita perjalanan saya ke Pulau Gili Labak, semoga menambah referensi tempat wisata bagi teman-teman traveler sekalian. Selamat liburan!
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
Load Komentar ...
NEWS FEED