Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 29 Sep 2015 13:50 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Membidik Ray of Light di Gua Suci, Tuban

Mas Edy Masrur
detikTravel Community
Foto 1 dari 5
Ray of Light di pintu gua
Ray of Light di pintu gua
detikTravel Community - Tidak kalah dengan Gua Jomblang di Gunung Kidul, Gua Suci di Tuban juga memiliki fenomena ray of light. Apabila datang pada saat yang tepat, traveler dapat menyaksikan keindahannya yang luar biasa.

Salah besar jika Anda mengira Gua Suci adalah gua yang dianggap suci. Situs bersejarah peninggalan masa keemasan Majapahit ini dinamai Gua Suci hanya karena berlokasi di Dusun Suci, Kelurahan Wangun, Kecamatan Palang, Tuban.

Namun jangan pula beranggapan gua ini biasa-biasa saja. Menurut saya, gua ini istimewa. Di antaranya warna dinding gua, pahatan-pahatan kuno, serta ray of light dari celah atap dan mulut gua sukses memukau mata saya.

Gua Suci berjarak sekitar 20 km dari Kota Tuban. Jika Anda berminat menyambangi gua yang diperkirakan ada sejak tahun 1026 ini dari Kota Tuban, ambil arah Pantura ke Kecamatan Paciran, Lamongan. Sebelum tugu perbatasan Kabupaten Tuban-Lamongan, silakan belok kanan melewati jalan pengubung Kecamatan Palang dan Widang.  

Jika sudah terlihat bukit kapur di antara persawahan, itu artinya Anda sudah dekat dengan tujuan. Semakin mendekati lokasi, terdapat beberapa papan petunjuk arah ke Gua Suci.

Jangan ragu bertanya. Saya pun begitu. Setiap warga yang saya tanya menyambut dan menjawab dengan ramah. Karena jika tak bertanya, bisa jadi Anda melewatkan gua ini. Maklum, sama sekali tidak terlihat ada gua di kawasan ini.

Papan nama Situs Gua Suci pun tak tampak jelas jika kita sedang berkendara. Untunglah seorang warga yang baik memberi tahu saya bahwa gua ini terletak di seberang sepetak lahan sawah yang saat itu tak ditumbuhi tanaman.

Kendaraan bisa diparkir di sebuah warung dekat papan nama Situs Gua Suci. Sediakan uang seikhlasnya untuk ongkos parkir. Pak Isnawan, penjaga parkir, memastikan tak butuh waktu lama untuk jalan kaki menuju gua.

Dan Pak Isnawan benar. Tak sampai lima menit, gua yang berstruktur bebatuan kapur berpahat unik sudah tampak di depan mata. Terdapat sebuah papan informasi yang menyatakan bahwa Gua Suci merupakan salah satu situs bersejarah yang dilindungi kelestariannya.

Tanpa ragu, saya pun mendekati beberapa celah di balik bebatuan itu. Sama sekali tidak seperti gua umumnya yang bermulut tunggal. Gua Suci memiliki banyak celah kecil dan lorong-lorong pendek yang saling terhubung.

Dinding gua didominasi warna cokelat dan merah bata. Seluruh dinding gua bertekstur pahatan berundak dan rapi. Pahatan itu diyakini buatan manusia pada masa Kerajaan Majapahit. Bahkan, gua yang ditemukan pada tahun 1970-an ini pun konon buatan manusia pada masa itu.

Di hampir semua bagian, atap gua berbentuk kerucut dan berlubang di ujungnya. Lubang itulah yang menjadi sumber cahaya. Pantulannya membuat warna dinding gua tampak eksotik.

Jika datang pada saat yang tepat, Anda akan menemui ray of light yang muncul dari mulut atau celah gua. Saya saat itu berada di sana sekitar pukul 09.00 pagi. Beruntungnya saya disuguhi sorot cahaya matahari yang masuk ke sisi gelap gua melalui salah satu lorong gua.

Hati-hati jika masuk ke lorong ini. Tangga kayu yang ada sudah rapuh. Salah satu pijakannya pun telah lepas. Kabarnya, saat matahari tepat di atas kepala, ray of light juga dapat disaksikan dari lubang-lubang di atap gua.

Jujur saja, yang mebuat saya tertarik mendatangi Gua Suci adalah ray of light-nya. Namun setelah melihat dengan mata kepala sendiri, dinding dan atap gua ini pun menjadi daya pikat tersendiri. Sayangnya, sebagai situs bersejarah, gua ini sama sekali tidak dikelola oleh pemerintah setempat.

Pengunjung yang tidak bertanggung jawab pun leluasa membuang sampah dan mencorat-coret dinding gua. Padahal, sudah ada papan peringatan larangan perusakan di sana dengan ancaman hukuman Pasal 26 UU Nomor 5 Tahun 1992, yaitu pidana penjara selama-lamanya 10 tahun dan atau denda setinggi-tingginya Rp 100 juta.

Sepulang dari Gua Suci, saya tak menyia-nyiakan pemandangan yang tak kalah unik. Jaraknya sekitar 1 kilometer dari Gua Suci. Bukit bekas lahan penambangan kapur menyisakan ruang-ruang atau pilar-pilar tinggi.

Saya menemukan satu spot yang menarik, sebuah tebing yang menjorok ke jurang, berlawanan arah dengan bukit kapur bekas penambangan. Duduk di sana seperti berada di masa rumah batu. Asal tetap waspada, spot yang lumayan ekstrem ini menarik untuk dicoba.









BERITA TERKAIT
BACA JUGA
Load Komentar ...
NEWS FEED