Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 13 Mar 2016 12:40 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Melongok Persiapan Acara Tahlil Masyarakat Ternate

Moch Nuzulul Arifin
detikTravel Community
Foto 1 dari 5
detikTravel Community - Laskar Gerhana di Ternate tidak hanya berburu GMT. Kebudayaan dan tradisi lokal masyarakat Ternate juga mereka nikmati dalam petualangan yang seru.

Di setiap langkah pada daerah baru, pasti ada sesuatu yang unik. Demikian juga saat penulis temui adat peringatan hari kematian anggota keluarga di Desa Kastela, Ternate.

Sebagaimana di Jawa, ternyata di Ternate pun masyarakat masih memiliki tradisi yang cukup kuat. Termasuk salah satu diantaranya adalah peringatan hari kematian bagi anggota keluarga yang meninggal dunia.

Jika di Jawa ditemui adanya peringatan satu hari sampai tujuh hari. Kemudian dilanjutkan dengan 40, 100, hingga 1000 hari. Maka demikian juga di sebagian masyarakat Ternate. Hal ini penulis jumpai saat secara tak sengaja menemui seorang keluarga yang sedang mengadakan persiapan hari ke-9.

Saat berkunjung ke Benteng Kastela yang terletak di Desa Kastela, Kecamatan Pulau Ternate, penulis hendak mencari tempat untuk buang air kecil. Mengingat kondisi penulis yang tidak fit pasca kecelakaan di Jawa, maka penulis mencari rumah penduduk yang terdekat.

Beruntung, di dekat rombongan Laskar Gerhana memarkir mobil terdapat sebuah rumah penduduk. Setelah berbasa-basi sejenak, penulis diizinkan untuk menggunakan fasilitas kamar mandi keluarga.

Perasaan lega pun menghinggapi. Namun mata tak bisa lepas dari kesibukan luar biasa dari si empunya rumah. Usut punya usut, ternyata sang tuan rumah sedang  melaksanakan persiapan peringatan 9 hari meninggalnya seorang anggota keluarga.

"Nenek sudah cukup umur. 86 tahun," demikian papar Pak Komeng, salah seorang cucu yang almarhumah.

Hari ke-9, merupakan peringatan terbesar sepanjang 11 hari pelaksanaan peringatan acara tahlil bagi si mayat. Berbeda dengan di Jawa, dimana hari ke-7 merupakan hari terbesar untuk menutup rangkaian 7 hari doa dan tahlil. Selanjutnya, peringatan akan dilanjutkan dengan 25 hari, 35 hari, 44, dan 45 hari. Namun ada juga sebagian masyarakat yang mengambil kelipatan 15. Yaitu dengan peringatan 15, 30, 44, dan 45 hari.

Peringatan hari ke-9 ini bisa diikuti oleh puluhan warga. Tak pelak, persiapan besar-besaran pun dilakukan. Nampak ibu-ibu menyiapkan sayur-mayur serta ikan. Tak lupa membungkus pali-pali, yang di Jawa disebut lontong, sebagai pengganti nasi. Jika lontong dibungkus dengan daun pisang atau plastik, maka pali-pali dibungkus dengan daun pandan besar.

Sementara para lelaki menyiapkan parutan kelapa yang dibuat dengan cara 'kukurang kelapa' (memarut kelapa) khas masyarakat ternate. Jika dengan cara konvensional, diparut butuh banyak waktu, maka dengan kukurang kelapa, tak sampai 3 menit, sebuah kelapa pun bisa menjadi parutan kelapa yang lembut.

Nah, kekepoan penulis ternyata cukup membuat para ibu-ibu senang. Sehingga dengan penuh paksaan mereka meminta penulis untuk mencicipi masakan mereka. Maka untuk menghormati tuan rumah, penulis pun mencicipi sedikit masakan mereka yang bumbunya cukup pas di lidah. Pedas dan gurih yang sangat selera saya banget.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
Load Komentar ...
NEWS FEED