detiktravel

Yulastriany|12707|JABAR|16

Sejarah di Kaki Gunung Ciremai

yulastriany - d'Traveler - Senin, 04/07/2011 10:40:40 WIB
detikTravel Community -  <p>Situs Linggarjati merupakan bangunan cagar budaya yang dilindungi oleh Undang Undang No. 5 Tahun 1992, tentang Benda Cagar Budaya, Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Serang.<br /><br />Gedung Perundingan Linggarjati terletak di Desa Linggajati, Kecamatan Cilimus, di kaki Gunung Ciremai. Jarak dari kota Kuningan kira-kira 14 km ke arah Utara dan 26 km dari Cirebon ke arah Selatan. Gedung ini dulunya hanya merupakan gubuk milik Jasitem (1918) hingga pada akhirnya oleh Pemerintah diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk dipugar dan dijadikan situs.<br /><br />Dari arah Cirebon bertemu pertigaan yang dikenal dengan nama Gibu, melewati jalan menanjak sekitar 5 km dan cukup banyak kelokan, kami tiba di depan Situs Linggarjati. Tepatnya di Jalan Naskah. Diberi nama Naskah sesuai dengan naskah hasil perundingan Linggarjati pada masa itu.</p> <p>Seperti yang sudah kita ketahui pada masa itu tanggal 10 s.d. 13 November 1946 gedung ini digunakan sebagai tempat perundingan antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Belanda. Indonesia diwakili oleh PM Sutan Syahrir dengan anggota A.K. Gani, Susanto Tirtodiprojo dan Mr. Mohamad Roem. Sementara itu dari Belanda diwakili oleh Dr. Van Debour. Sebagai Penengah dari Inggris diwakili oleh Lord Killean. Hasil perundingan tersebut adalah naskah Perjanjian Linggarjati yang terdiri dari 17 Pasal yang ditandatangani di Jakarta pada tanggal 25 Maret 1947. Oleh karena itu lah kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 diakui oleh dunia.<br /><br />Pintu utama gedung Linggarjati tidak dibuka untuk umum. Pengunjung boleh masuk ke gedung lewat pintu di sisi kanan pintu utama di mana tersedia meja piket atau penerima tamu. Boleh juga masuk melewati pintu di sisi gedung dan pintu belakang. Secara keseluruhan luas Situs Linggarjati kira-kira 800 meter persegi dengan gedung tipikal gedung kuno dengan langit-langit yang tinggi dan luas. Terdapat 8 kamar dengan 2 tempat tidur di masing-masing kamar.<br /><br />Benda-benda di dalam gedung masih terlihat utuh. Meskipun nampak tua (dan antik) namun kebersihannya terjaga. Di ruang tamu terdapat seperangkat sofa, jam bandul setinggi orang dewasa, foto-foto dan diorama Perundingan Linggarjati. Ruangan berikutnya, 5 kali lebih luas dari ruang utama, menampilkan meja-meja perundingan yang digunakan pada masa itu, lemari-lemari arsip yang nampak masih kokoh, foto-foto para Pejuang Indonesia dan sebuah piano tua yang terletak di sudut. Menurut Kepala Situs, Bapak Ruhiat Hardianto, piano tersebut masih 40% berfungsi.<br /><br />Kami suka berlama-lama di Situs Linggarjati. Halamannya yang luas diteduhi pohon-pohon rindang menambah kedamaian ketika kami duduk di teras sambil ngobrol dengan pak Ruhiat tentang sejarah situs ini. Pagi itu suasananya terasa tenang, damai, Petugas yang ramah-ramah dan ada penjual Tahu Gejrotnya!</p> <p>Kunjungan kami waktu itu bertepatan dengan kunjungan serombongan anak sekolah yang dipimpin oleh Guru mereka. Betapa antusiasnya anak-anak itu mendengar informasi dari Petugas. Ternyata anak-anak sekolah jaman sekarang tidak melulu larut dalam gelombang teknologi dan informasi yang bebas nian merasuki jejaring pemikiran mereka. Buktinya mereka masih mau mengunjungi Situs Linggarjati dan menikmati pesona pemandangan di sekitarnya. Mereka masih mau memerhatikan salah satu bukti perjuangan berat para Pejuang bangsa ini... bangsa kaya raya yang harus dijaga bersama. Bukan hanya nama baiknya saja yang harus dijaga, melainkan juga semua isi di dalamnya; budaya, seni, adat, dan keragaman.</p>
Foto Terkait
 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        

Redaksi: redaksi[at]detik.travel
Moderator: admin[at]detik.travel
Media Partner: promosi[at]detik.com 
Iklan: sales[at]detik.com
 

Follow us on @detiktravel

Contact Us

redaksi[at]detik.travel
admin[at]detik.travel
sales[at]detik.com