Titisari Raharjo|6883|BENGKULU & LAMPUNG|44

Magisnya Candi Muaro Jambi

Titisari Raharjo - d'Traveler - Selasa, 21/06/2011 13:00:48 WIB
detikTravel Community -  <p>Dari namanya saja kita sudah bisa menebak di mana letak candi ini. Kompleks candi Muaro Jambi memang terletak di propinsi Jambi. Saya sendiri sebenarnya heran mengapa kebagian berkunjung ke candi ini, karena cukup jauh dari rute Bengkulu - Lampung. Tapi ah tidak apa-apa, berdasarkan hasil desk research kecil-kecilan, candi ini memang bagus dan layak untuk dikunjungi sepertinya.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Perjalanan menuju Muaro Jambi saya mulai dari Lubuk Linggau, berdasarkan jarak dan kondisi jalan, kami menaksir kurang lebih akan memakan waktu 7 jam. Berangkat pagi-pagi dari Libuk Linggau untuk menuju kompleks candi ini yang tepatnya berada di kecamatan Muaro Sebo, kabupaten Muaro Jambi, lewat kota Sarolangun. Suasana di perjalanan sangat menyenangkan.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Jalan yang dilewati cukup baik, halus, dan lurus. Tidak banyak tikungan dan lubang seperti layaknya jalanan di Sumatra. Matahari bersinar cerah, langit biru berhias awan putih, angin nampak menggoyang ilalang yang ada di sepanjang jalan, ditambah alunan lagu dari Beach House kesukaan saya. Sebenarnya dalam hati saya ingin mengemudikan mobil, karena suasana yang sangat mendukung, sangat bersemangat. Perjalanan panjang saya habiskan dengan ngobrol bersama Mas Eko dan Mas Yopie, pendamping perjalanan saya.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Selain ngobrol, saya juga sempat menulis beberapa catatan kecil tentang perjalanan saya, sambil terus sibuk online dengan ponsel saya. Saat sudah masuk ke wilayah Muaro Sebo, saya mulai memperhatikan rumah-rumah penduduk. Rumah adat di Jambi sama seperti rumah adat di Sumatra pada umumnya, yaitu rumah panggung. Namun di Jambi ada perbedaan bentuk arsitektural, yaitu tangga. Jika di Bengkulu, rumah panggungnya memiliki tangga di samping rumah, sedangkan di Jambi tangganya terletak di depan rumah.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Saat itu sekitar pukul 13.30 ketika saya melintas, suasana sangat sejuk, terlihat nyaman sekali anak-anak bermain di teras rumah panggung mereka. Seperti perkiraan, saya tiba di Candi Muaro Jambi tepat 7 jam setelah berangkat. Kami pun langsung masuk ke kompleks candi. Sebelum parkir, ada petugas yang akan meminta retribusi kepada para pengunjung, termasuk retribusi parkir kendaraan.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Dekat dengan parkiran mobil, ada sebuah pos yang waktu itu penuh bapak-bapak, dan beberapa anak muda, nampaknya mereka adalah para pemandu wisata yang siap mengantar pengunjung dan menjawab segala keingintahuan kita tentang candi Muaro Jambi. Hari itu seorang anak muda seumuran saya yang kebagian mengantar, Borjoe namanya.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Pemberhentian pertama adalah di ruang koleksi. Ruangan ini merupakan gambaran umum apa saja yang akan kita kunjungi di kompleks Muaro Jambi ini, termasuk penjelasan mengenai sejarah, lokasi, dan benda-benda yang bisa ditemui di candi. Borjoe pun mulai menjelaskan dengan runtut dan detail mengenai kompleks candi yang luasnya mencapai 26000 ha ini. Saya pun baru tahu jika ternyata ada 82 situs yang mengandung candi, namun baru 8 yang sudah dipugar, sisanya masih berupa menapo, gundukan tanah yang menutupi candi.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Kompleks Muaro Jambi ini merupakan candi Buddha, dari kerajaan Melayu Kuno yang dipercaya dulunya merupakan candi yang selain digunakan sebagai tempat ibadah, digunakan juga sebagai pusat pendidikan agama Buddha. Setelah dari ruang koleksi, maka kami semuapun berjalan masuk ke kompleks candi. Candi yang berada di kompleks ini adalah candi-candi besar, yang dahulunya juga merupakan candi utama, yaitu Candi Gumpung, Candi Tinggi I, Candi Tinggi II, Candi Kembarbatu, dan ditambah dengan Telago Rajo, sebuah telaga yang terletak di kawasan yang sama.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Nama-nama tersebut diambil dari nama yang diberikan oleh para warga desa, bukan nama resmi penemuan arkeolog karena prasasti yang menceritakan tentang candi-candi ini belum ditemukan. Candi-candi di Muaro Jambi ini terbuat dari batu bata, bukan batu kali, sehingga warnanya merah. Lokasi Candi ini, termasuk dengan situs candi lainnya yang belum dipugar, berada di sepanjang sungai Batanghari yang mengalir di Jambi. Sungai tersebut kemudian dialirkan ke kanal-kanal yang menghubungkan antar satu candi ke candi yang lain, dan telaga difungsikan sebagai pengatur air di kawasan candi. Unik sekali konsepnya, dan sangat membanggakan bahwa nenek moyang kita telah memiliki konsep tata kota yang matang.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Candi-candi ini, tidak terbangun kembali dengan sempurna, dikarenakan arkeolog kesulitan menemukan informasi yang sebenar-benarnya mengenai bentuk candi tersebut, jadi kebanyakan hanya terbangun separuh. Lebih baik hanya terbangun separuh daripada arkeolog harus mengarang bentuk candi ini yang sebenarnya tanpa dukungan data dan informasi yang akurat. Tapi itu bukan masalah, karena menurut saya, aura magis candi itu sudah bisa saya rasakan walaupun belum terbangun sempurna.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Selebihnya, untuk menikmati kawasan ini, kita bisa berjalan-jalan di kawasan candi yang luas dan rindang, sangat asri. Sore harinya setelah berkeliling, saya pun bergabung dengan anak-anak sekitar yang bermain, dan merasakan sejuknya bersepeda keliling kompleks candi dengan meminjam sepeda mereka. Inilah liburan, jadi kapan liburan anda di kawasan Candi paling terawat di Sumatra ini?</p>
Foto Terkait
 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        

Redaksi: redaksi[at]detik.travel
Moderator: admin[at]detik.travel
Media Partner: promosi[at]detik.com 
Iklan: sales[at]detik.com
 
Must Read close

Follow us on @detiktravel

Contact Us

redaksi[at]detik.travel
admin[at]detik.travel
sales[at]detik.com