detiktravel

Gigih Gesang|42472|KALBAR 2|38

Mengenal Bentuk Rumah Betang Ensaid Panjang

Gigih Gesang - d'Traveler - Kamis, 09/12/2010 09:40:04 WIB
detikTravel Community -  <p style="text-align: justify;">Petualangan kami memasuki hari ketiga. Setelah sebelumnya mengunjungi Taman Wisata Baning, Museum Kapuas Raya dan Bukit Kelam, tujuan kami berikutnya adalah Rumah Betang Ensaid Panjang. Sama seperti rumah betang yang kami datangi sebelumnya, dalam rumah ini bermukim seluruh warga kampung yang masih memiliki pertalian darah. Dengan ukuran yang sedemikian besar dan panjang, seharusnya banyak sekali orang yang berada dalam rumah. Tapi saat kami tiba, rumah ini layaknya tidak berpenghuni, hanya ada beberapa orang yang menyambut kami. Menurut penuturan bapak Sembai, tuan rumah kami, hampir seluruh warga berada di ladang saat siang hari. Tapi tenang saja katanya, saat matahari hilang di batas cakrawala, seluruh penghuni akan keluar dari bilik masing-masing dan bercengkrama bersama di pelataran rumah Betang tempat saat ini kami berada.<br /><br />Sebelum membahas mengenai kehidupan warga yang bermukim di rumah ini, ada baiknya bila kita mengetahui lebih dulu seperti apakah rumah betang itu. Seluruh aspek kehidupan masyarakat berlangsung di tempat ini, jadi cerita tentang mereka akan lebih terasa hidup bila kita mengetahui setting tempat cerita&nbsp; terjadi. Pertama saya akan mengulas mengenai tempat pertama yang saya jejaki. Di tempat ini kami, seperti semua tamu lainnya, disambut oleh tuan rumah.<br /><br />Tempat ini bisa disamakan dengan pelataran, Ruai kalau orang sini bilang. Ruai adalah bagian kedua dari rumah Betang suku Dayak Desa yang mendiami wilayah Ensaid Panjang. Ruangan ini memang diperuntukkan untuk bercengkrama seluruh penghuni rumah yang memiliki panjang 120 meter ini. Tempat ini juga biasa digunakan untuk menyambut tamu, menyelenggarakan pesta, rapat desa dan segala aktifitas sosial kemasyarakatan lainnya. Lebar ruangan ini sekitar 4 meter, sebuah lebar yang sangat cukup untuk memenuhi peruntukkannya. Kalikan saja panjang dan lebarnya, maka yang kita dapatkan adalah ruangan seluas 480 meter persegi. Hal ini membuat warga yang ingin mengadakan pesta tidak perlu lagi menyewa ballrom di sebuah hotel berbintang lima. Ruai adalah bagian kedua dari lima bagian rumah Betang Ensaid Panjang yang memiliki nama dan fungsi yang berbeda-beda.<br /><br />Bagian pertama dari rumah yang memiliki lebar sekitar 12 depa ini bernama Padung. Lebar Padung sendiri sekitar 2 depa. Depa adalah satuan ukur yang jaraknya sepanjang rentangan tangan orang dewasa. Bila dikonversikan dalam satuan meter, 1 depa dapat disamakan dengan 1,5 meter. Dalam ruangan yang memiliki lebar 3 meter ini, peralatan untuk bekerja disimpan dan dipersiapkan. Kapak beliung, bubung, pukat, pemansai dan peralatan bekerja lainnya dapat kita lihat disini. Mungkin nama-nama yang telah saya sebutkan menimbulkan keingintahuan tentang bentuk dan fungsi dari peralatan kerja tersebut. Tapi saya tidak akan membahas mengenai itu dalam tulisan ini. Akan lebih baik bila tulisan mengenai nama dan fungsi bagian rumah Betang ini saya lanjutkan. <br /><br />Seharusnya tulisan ini berlanjut ke bagian kedua, tapi bagian kedua rumah yang memiliki panjang sekitar 120 meter ini sudah saya terangkan sebelumnya. Jadi saya akan lanjut ke bagian ketiga yaitu Teluk. Posisi bagian yang memiliki lebar 2 meter ini, berada setengah meter di bawah bagian sebelumnya. Bagian ini memang sengaja dibuat lebih rendah untuk memudahkan pekerjaan utama yang dilakukan di sini, yaitu menumbuk padi. Para wanita yang bertugas melepaskan bulir padi dari batangnya dapat duduk di ujung Ruai sambil menumbuk padi, sehingga dapat mengurangi rasa lelah mereka dan tentu saja agar dapat bercengkrama dengan penghuni rumah lainnya. <br /><br />Fungsi utama Teluk sebenarnya untuk jalan. Pintu masuk berada di dua ujung Teluk sebelah kiri dan kanan. Seluruh penghuni dan tamu dapat memasuki rumah melalui tangga yang berada di dua pintu masuk tersebut. Diperlukan tangga untuk masuk ke rumah karena memang rumah ini tidak langsung ddirikan di atas tanah. Rumah berdiri di atas kayu penyangga yang memiliki tinggi 3 meter lebih. Hal ini dimaksudkan untuk melindungi rumah dari serangan binatang buas dan terjangan banjir. Kayu penyangga adalah kayu Ulin Asli, sehingga mampu bertahan hingga ratusan tahun lebih. <br /><br />Tidak ada aturan yang menyebutkan memalui pintu yang mana kita dapat memasuki rumah.&nbsp; Penghuni dan tamu yang masuk atau keluar bisa melalui pintu yang mana saja. Tetapi bagi tamu yang datang dalam satu rombongan harus masuk hanya melalui satu pintu. Tidak diperbolehkan bagi mereka untuk masuk melalui pintu yang satu, sedangkan sebagian yang lain memasuki pintu yang lainnya. Bila ini dilanggar, maka sanksi adat yang berbicara.<br /><br />Apa yang dikatakan oleh hukum adat mengenai pelanggaran ini kita bahas lain kali, sekarang mari kita lanjut ke bagian keempat rumah yang sudah berusia 20 tahun ini. Ruangan yang bernama Bilik adalah ruang utama dari rumah panjang yang terdiri dari 26 bilik ini. Masing-masing bilik ditempati oleh satu kepala keluarga yang masih memiliki pertalian darah dengan kepala keluarga lainnya. Satu bilik memiliki panjang dan lebar enam meter. Ruangan yang utamanya diperuntukkan untuk tidur ini terdiri dari dua bagian yaitu Bilik Baruih (bilik bawah) dan Bilik Atuih (bilik atas). Bilik pertama diperuntukkan bagi anak-anak dalam keluarga, dan bilik berikutnya digunakan oleh kedua orang tua. <br /><br />Bagian terakhir dari rumah ini adalah Pelaboh. Ruangan ini menggenapi kelengkapan yang perlu ada di dalam sebuah rumah. Pelaboh berfungsi sebagai dapur bagi masing-masing keluarga. Meskipun mereka tinggal dalam satu rumah betang, bukan berarti hanya ada satu dapur untuk semua keluarga. Tapi jangan berpikir dengan dapur yang terpisah, maka mereka tidak peduli dengan kondisi dapur tetangganya. Bila ada keluarga yang mendapatkan hasil buruan yang memuaskan, maka masakan hasil buruan akan dibagikan kepada seluruh penghuni rumah Betang suku Dayak Desah ini. Sebuah bentuk perhatian dan tentu saja akan mempererat tali persaudaraan. <br /><br />Seperti itulah gambaran bentuk rumah betang Ensaid Panjang, semoga dapat memberikan gambaran yang cukup jelas dan terang. Saya lampirkan juga beberapa foto untuk lebih memudahkan Anda dalam membayangkan bentuk asli rumah tradisional suku dayak ini. Panggung utama cerita telah disiapkan, maka saatnya cerita mengenai kehidupan penghuni rumah betang ini saya sampaikan. Tapi tidak di sini, silahkan menikmati di tulisan saya setelah ini.</p>
Foto Terkait
 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        

Redaksi: redaksi[at]detik.travel
Moderator: admin[at]detik.travel
Media Partner: promosi[at]detik.com 
Iklan: sales[at]detik.com
 

Follow us on @detiktravel

Contact Us

redaksi[at]detik.travel
admin[at]detik.travel
sales[at]detik.com