detiktravel

Zulfi Rahardian|725|Bengkulu dan Lampung|44

Bung Karno, Fatmawati, dan Bengkulu

Zulfi Rahardian - d'Traveler - Rabu, 10/08/2011 11:48:02 WIB
detikTravel Community -  <div>Perjalanan ke Bengkulu terasa sangat spesial bagi saya. Ini adalah pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Pulau Sumatera. Begitu saya menginjakkan kaki di bumi Bengkulu, saya mulai penasaran dengan bandaranya yang bernama Bandara Fatmawati. Tidak asing lagi, itu adalah nama istri ketiga dari Bung Karno, sang proklamator. Saya mulai bertanya-tanya dalam hati, mengapa nama Fatmawati begitu spesial di kota ini hingga dijadikan nama bandara. Tanpa sempat mencari tahu lebih lanjut, saya langsung meninggalkan bandara karena tidak sabar untuk segera berkeliling kota. Dalam daftar rencana perjalanan kami hari ini ada dua nama tempat yang menyita perhatian saya, yaitu rumah pengasingan Bung Karno dan rumah Ibu Fatmawati. Saya semakin penasaran ada apa dengan Bung Karno, Fatmawati dan Bengkulu.</div> <div>Selepas siang, saya dan rekan saya, Titis, tiba di pusat kota dan segera menuju Rumah Pengasingan Bung Karno. Rumah dengan halaman luas yang tertata rapi tidak tampak sebagai sebuah rumah pengasingan. Kemudian, saya langsung masuk ke dalam dan menemukan beberapa hal yang menarik di dalam. Pintu dan jendela rumah masih asli dengan aksen khas Tionghoa. Pemilik rumah ini sebelumnya memang orang Tionghoa, namun akhirnya dipilih sebagai rumah untuk Bung Karno dalam masa pengasingannya di Bengkulu. Di beberapa sudut ruangan di dalam rumah terlihat koleksi buku yang sering dibaca oleh Bung karno selama masa pengasingannya. Selain membaca buku, Bung Karno juga banyak menghabiskan waktu dengan bermain sandiwara tonil Monte Carlo. Banyak properti sandiwara yang pernah digunakan oleh Bung Karno masih tersimpan rapi di rumah tersebut.</div> <div>Saya sempat bertanya kepada petugas penjaga rumah mengenai alasan kenapa Bung Karno diasingkan ke Bengkulu. Menurutnya, Bung Karno diasingkan oleh pemerintah Belanda saat itu karena dianggap melakukan gerakan politik yang berbahaya. Sebelumnya Bung Karno sempat diasingkan di Ende, namun kemudian pemerintah Belanda berniat memindahkannya ke Bengkulu dengan alasan karena Bengkulu saat itu dianggap sebagai daerah yang rawan terhadap malaria. Oleh karena itu, pemerintah Belanda ingin agar Bung Karno terserang Malaria selama masa pengasingannya. Namun pemerintah Belanda saat itu tidak tahu bahwa Bengkulu justru memiliki banyak pohon kina yang justru merupakan obat paling ampuh untuk penyakit malaria. Sampai saat ini, masih banyak pohon-pohon kina dapat ditemukan di Bengkulu.</div> <div>Hingga akhir masa pengasingannya selama 4 tahun di Bengkulu, bukannya terkena penyakit malaria, Bung Karno justru bertemu dengan Fatmawati yang kemudian menjadi istrinya. Fatmawati sendiri adalah anak dari Hassan Din, pemimpin Muhammadiyah Bengkulu saat itu. Sedangkan Bung Karno saat itu juga aktif mengajar di Muhammadiyah. Kisah cinta yang tumbuh di antara keduanya terekam pada salah satu sudut ruangan di dalam rumah pengasingan. Perhatian saya tidak bisa lepas dari dua buah foto yang terpajang di sudut ruangan tersebut. Satu foto menggambarkan figur Bung Karno yang sedang berpidato dengan penuh wibawa. Sementara, foto yang berada persis di sebelahnya merupakan foto surat-surat cinta Bung Karno kepada Fatmawati. Di sini kita bisa melihat dua sisi dari sang proklamator.</div> <div>Tak cukup puas dengan hanya mengunjungi rumah pengasingan Bung Karno, saya bersama tim segera meluncur ke rumah Ibu Fatmawati yang tidak berada jauh dari situ. Rumah Ibu Fatmawati berada di Jalan Fatmawati, nama yang sengaja diberikan sebagai bentuk penghormatan kepada Ibu Fatmawati. Namun, rumah tersebut merupakan rumah replika. Rumah aslinya berada di jalan S. Parman, tetapi kini sudah tak ada lagi. Rumah Ibu Fatmawati ini menyimpan kenangan masa-masa Fatmawati saat masih gadis sebelum menjadi istri Bung Karno. Di salah satu ruangannya terdapat mesin jahit yang mengingatkan kita akan bendera sang saka merah putih yang digunakan pada saat proklamasi merupakan hasil karya dari Ibu Fatmawati.</div> <div>Kisah tentang Bung Karno di Bengkulu tidak hanya sampai di sini. Menjelang sore, saya bersama tim berkeliling kota untuk melihat setiap sudut kota sambil menunggu terbenamnya matahari. Kemudian kami melewati sebuah masjid besar di tengah kota yang sering disebut Masjid Jamik. Masjid ini ternyata merupakan hasil karya dari seorang arsitek besar yang juga presiden pertama Republik Indonesia, Bung Karno. Tidak heran bila masjid di Jalan Suprapto ini menjadi salah satu ikon kebesaran Kota Bengkulu.</div>
Mau jalan-jalan ke Jepang gratis? Ayo ikutan program Dream Destination Japan. 3 Petualang yang beruntung akan berangkat ke Jepang dan memperebutkan Grand Prize Rp 10 juta. Ayo daftar di sini.
Foto Terkait
 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        

Redaksi: redaksi[at]detik.travel
Moderator: admin[at]detik.travel
Media Partner: promosi[at]detik.com 
Iklan: sales[at]detik.com
 

Follow us on @detiktravel

Contact Us

redaksi[at]detik.travel
admin[at]detik.travel
sales[at]detik.com