detiktravel

Kampung Baduy Dalam

Nurul Huda - d'Traveler - Kamis, 15/09/2011 15:19:00 WIB
detikTravel Community -  

 

Suku pedalaman ini mendominasi wilayah Banten. Suku Baduy dibagi menjadi dua, yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Saya melakukan kunjungan dua hari satu malam ke kampung suku Baduy Dalam bersama 17 teman backpacker dari komuniitas Forum Backpacker Indonesia pada weekend awal September kemarin. 

Kami berkumpul di stasiun Tanah Abang pukul 07.00 WIB untuk berangkat menggunakan kereta api tujuan Rangkasbitung. Dari Rangkasbitung perjalanan dilanjut dengan menyewa ELF tujuan Ciboleger, perjalanan memakan waktu kurang lebih dua jam.

Setibanya di Ciboleger kami bertemu dengan guide kami, Pak Agus Bule. Dia yang akan mengantar kami menuju kampung Baduy Dalam. Di rumah Pak Agus sudah siap dengan empat anak Baduy Dalam (Jali, Juli, Sapri, dan Idong) yang akan mengantar kami bersama Pak Agus. Konon menurut Pak Agus Bule, setiap kali beliau kedatangan tamu, anak-anak Baduy Dalam sudah berada di rumahnya untuk mengantar tamu, padahal sebelumnya dia tidak memberitahukannya.

Jaro dan Kepala Adat (pu'un)

Suku Baduy (Dalam dan Luar) terdiri dari kurang lebih 57 kampung atau desa. Di mana suku Baduy Dalam terdiri dari tiga Kampung (Cibeo, Cikatawarna, dan Cikeusik) dan sisanya adalah suku Baduy Luar. Keduanya dibawahi oleh tujuh Jaro (kepala adat), yaitu:

Kampung Cobeo dipimpin oleh Jaro Sami (Baduy Dalam),

Kampung Cikata warna oleh Jaro Jaming (Baduy Dalam),

Kampung Cikeusik oleh Jaro Alim (Baduy Dalam),

Jaro Dainah (Baduy Luar),

Jaro Sedi (Baduy Luar),

Jaro Arji (Baduy Luar), dan

Jaro Warga (Baduy Luar).

Khusus untuk suku Baduy Dalam, selain Jaro, ada juga seorang Pu'un atau orang yang dianggap sakral oleh masyarakat Baduy Dalam, yaitu :

Pu'un Jasdi di Kampung Cibeo,

Pu'un Sangsang di Kampung Cikatawarna,dan

Pu'un Yasih di Kampung Cikeusik.

Keberadaan pu'un seringkali disalahgunakan oleh orang-orang yang berkunjung ke Baduy Dalam, dari mulai pejabat, pengusaha, dan para orang ambisius. Mereka minta kekayaan, jabatan, dan kesuksesan duniawi dari meminta jampi-jampi seorang pu'un dengan syarat-syarat tertentu. Tak diragukan memang karena seorang pu'un konon memiliki kelebihan dibanding orang Baduy kebanyakan. Kedudukan seorang pu'un bagi Baduy Dalam sangatlah berarti. Dari mulai penentuan masa tanam dan masa panen, pemberian sanksi adat, mengobati orang sakit, sampai dengan menentukan waktu Kawalun (puasa orang Baduy Dalam).  

Seorang pu'un diperlakukan spesial oleh masyarakat suku Baduy Dalam karena kelebihannya tersebut diatas. Pu'un sudah terbiasa berkholwat di tempat tertentu hingga berminggu-minggu lamanya, jarang sekali keluar rumah, dan tempat mandi pu'un juga di khususkan. Perkataan seorang Pu'un selalu ditaati oleh warga Baduy Dalam.

Jabatan seorang pu'un bukanlah sembarang didapat. Mereka adalah orang suci dari keturunan suci dan memiliki kebiasaan dan hati yang bersih. Menurut cerita yang beredar, seorang pu'un dapat membaca pikiran seseorang (jika anak Baduy saja dengan instingnya bisa mengetahui ada tamu diluar sana dalam jarak 14 km, bagaimana dengan seorang pu'un, pastilah jauh lebih tinggi dari keempat guide kami yang diceritakan oleh Pak Agus Bule).

Rumah, Pakaian, dan Alat Musik Tradisional Baduy

Rumah Baduy Dalam terbuat dari bahan-bahan yang sangat mudah diurai oleh tanah, sebagai berikut.

Rumah berbentuk panggung dengan ketinggian kurang lebih satu meter.

Atapnya dari ijuk atau kadang daun pohon kelapa.

Rangka rumah dari kayu Jati, Kayu pohon kelapa, dan kayu albasiah.

Pintunya hanya satu (didepan saja, tidak ada pintu belakang).

Pengait antar rangka kayu terbuat dari pasak yang dibuat dari kayu.

Jarak antar rumah sekitar 3 meter.

Kampung Cibeo sendiri terdiri dari kurang lebih 98 rumah yang dibangun secara gotong royong oleh warga. Sekali bergotong royong membangun rumah, dalam sehari mereka bisa mengerjakan hingga maksimal15 rumah. Dalam prosesi pembangunan rumah selalu diawali dengan upacara, dan prosesnya melibatkan pu'un dan seluruh warga Baduy Dalam, baik laki-laki maupun perempuan, anak-anak maupun dewasa.

Pakaian adat orang Baduy terdiri dari pakaian bawahan yang menyerupai rok sebatas lutut, baju yang menyerupai baju koko, dan kamben atau ikat kepala. Yang membedakan suku Baduy Dalam dengan suku Baduy Luar adalah warna ikat kepala, warna putih untuk Baduy Dalam, dan warna hitam untuk Baduy Luar.  Sedangkan untuk wanita nya memakai kain rok berbentuk selendang sebatas mata kaki, dan pakaian lengan panjang, ditambah selendang kecil yang mereka kaitkan di leher.

Kami mencoba meminta kenang-kenangan ikat kepala kepada anak baduy dalam, tapi mereka sangat enggan melepaskannya. Nampaknya kain ikatan kepala itu bernilai dan sangat sakral bagi mereka. Semua busana yang dikenakan dibuat dan ditenun sendiri oleh para wanita suku Baduy Dalam. Hasil tenunan mereka sangat halus dengan motif bertemakan alam. Kadang mereka menjajakan hasil tenunan kepada para tamu yang bertandang kesana.

Alat musik mereka adalah angklung, digunakan pada saat upacara adat dan penyambutan tamu, sedangkan aksesoris yang sering mereka gunakan antara lain anting, kalung, cincin, dan gelang yang semuanya dibuat dari bahan-bahan alam nonlogam. Satu ciri lagi bagi seorang Baduy Dalam adalah selalu terselip golok di pinggang dan tas khusus yang di silangkan di bahu. Jika bepergian keluar kawasan, bekal salin dan makanan ditenteng didalam buntelan kain.

Agama, Kepercayaan, dan Bahasa

Pada dasarnya mereka sangat mempercayai karma. Keyakinan yang mereka anut adalah Sunda Wiwitan, sama dengan suku Sunda zaman lampau. Tapi berbeda dengan sunda wiwitan yang diajarkan oleh Raden Kiansantang dari tanah Pasundan. Diduga Sunda Wiwitan yang dianut oleh suku Sunda adalah pecahan dari Sunda Wiwitan yang dianut oleh suku Baduy Dalam.

Suku Baduy dalam memprioritaskan Tuhan di urutan pertama, disusul dengan Warga Baduy dan Alam di urutan kedua, serta Mekkah atau Ka'bah di urutan Ketiga (menurut informasi guide Agus Bule). Baduy Dalam menganggap mereka dipercaya oleh Tuhan untuk mengatur dan menyatu dengan alam untuk keseimbangan alam semesta. Oleh karenanya mereka sangat menjaga amanah tersebut dengan menjaga kelestarian alam dan lingkungan.

Jalan di kampung Baduy Dalam mengikuti pola air mengalir, hanya ada jalan setapak tanpa bentuk campur tangan dan disain tangan ataupun bekas cangkul.

Untuk percakapan sehari-hari sesama suku Baduy Dalam dan Baduy Luar, mereka menggunakan bahasa sunda dengan logat Rangkasbitung. Sedangkan Bahasa Indonesia sudah sebagian fasih mengucapkan, terutama untuk penduduk berusia dibawah 35 tahun. Mereka biasa menggunakannya jika berinteraksi dengan tamu dari luar.

Adat Perkawinan, Pemakaman, dan Kawalun (Puasa Orang Baduy Dalam)

Jika seorang anak wanita Baduy Dalam sudah menginjak usia 14 tahun, si orang tua akan segera menjodohkannya dengan Laki-laki Baduy Dalam. Bagi kaum laki-laki, sebelum dijodohkan mereka bebas memilih perempuan mana yang akan menjadi istrinya nanti. Namun jika belum ada pilihan, mereka wajib menurut terhadap jodoh pilihan orang tuanya atau pilihan seorang pu'un. Setelah mereka dipertemukan, maka sepasang cincin akan disematkan di  jari manis kedua mempelai sebagai bukti mereka akan menikah nantinya. Cincin tersebut didapat dari seorang pu'un dengan bahan perak putih. Hanya seorang pu'un yang berhak membuat cincin dari logam. Tenggang waktu antara saat pemberian cincin dengan pesta adat pernikahan adalah 10 tahun. Hal ini dimaksudkan untuk mengetes kesetiaan masing-masing pasangan. Setelah melewati masa penentian 10 tahun barulah digelar adat pernikahan kedua mempelai, karena sudah dianggap mampu menjaga hubungan cinta tanpa perselingkuhan. Pernikahan dilakukan oleh pu'un sebagai penghulunya. Barulah pesta diadakan dan mereka resmi menjadi suami istri.

Rata-rata suku Baduy Dalam di kampung Cibeo memiliki anak 4-5 orang, padahal mereka sama sekali tidak mengenal KB (Keluarga Berencana).

Pada saat seorang Baduy Dalam meninggal dunia, upacara adat pun diadakan, dipimpin oleh seorang pu'un dengan mengadakan ngariyung upacara pemakaman. Jika meninggalnya di dalam kawasan Baduy Dalam, maka upacara segera diadakan. Namun jika meninggalnya di luar kawasan Baduy Dalam, jasad akan di simpan dahulu di sebuah bangunan seperti lumbung padi. Setelah upacara pada hari pertama meninggal, dua upacara lagi diadakan, yaitu pada hari ketiga dan hari ke tujuh. Pemakaman suku Baduy sangat alami, mereka hanya dikubur di hamparan kebun tanpa nisan. Untuk kemudian lahan kebun tersebut ditanami tumbuh tumbuhan.

Pada bulan tertentu suku Baduy Dalam melakukan puasa yang dikenal dengan istilah Kawalun. Waktu puasa di mulai sejak dini hari pada saat ayam berkokok hingga waktu petang saat matahari tenggelam. Penentuan Kawalun diatur oleh seorang Pu’un. Biasanya pada bulan Februari sampai dengan April setiap tahunnya (3 bulan). Pada musim kawalun, Baduy Dalam tidak menerima tamu dari luar. Andaipun ada tamu, hanya diperbolehkan pada siang hari saja, tidak diperkenankan menginap. Beruntung kami datang diluar musim Kawalun, sehingga bisa menginap disana dan bisa tahu lebih jauh tentang peradaban suku Baduy Dalam. Kami menginap di rumah salah satu warga bernama Pak Mursid.

Pantangan yang berlaku di Suku Baduy Dalam

Suku Baduy Dalam sangat anti terhadap alat transportasi. Mereka sangat terkenal dengan budaya jalan kaki. Jika mereka melanggar menggunakan alat transportasi, maka akan dihukum oleh ketua adat selama 41 hari dikucilkan di hutan adat, bekerja tanpa dibayar dan hanya di beri makan saja. Jika tidak mau menjalani hukuman, maka si pelaku akan dikeluarkan dari Baduy Dalam, dan menjadi suku Baduy Luar.

Pernah suatu waktu seorang Baduy melakukan pelanggaran naik kendaraan di luar kawasan Baduy saat melakukan perjalanan keluar kota. Setelah pulang dia di tegur oleh pu'un. Baduy tersebut tidak mengakuinya, maka sang pu'un berkata kepada halayak, "Biarkan Tuhan yang akan menghukumnya". Tak berapa lama kemudian seorang Baduy yang melanggar tersebut meninggal dihari itu. Artinya, warga Baduy sangat menghormati dan menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran.

Sedangkan hukuman bagi warga Baduy yang melakukan pembuhuna adalah selain dikucilkan dan tinggal dihutan adat selama 41 hari, pelaku dan anak keturunannya sebanyak 7 keturunan akan kebagian dosa atas perbuatan tersebut. Setelah menjalani hukuman, si pelaku wajib melakukan upacara adat yang diikuti oleh 7 pemuka adat Baduy.

Selain naik alat transportasi yang berbau logam, sekolah adalah hal yang dilarang bagi seorang anak Baduy Dalam. Mereka tidak diperbolehkan bersekolah oleh orang tuanya. Konon menurut cerita yang beredar, sekolah bagi Baduy Dalam hanya belajar untuk merusak dan membinasakan alam saja jika sudah pintar nantinya. Namun begitu, masih menurut pak Agus Bule, ada salah satu anak Baduy Dalam yang saat ini sudah kuliah di salah satu perguruan tinggi ternama di Bandung. Dan selain itu, kebanyakan anak Baduy Dalam sekarang sudah banyak yang mahir membaca dan menulis. Mereka secara otodidak belajar dari suku Baduy Luar.

Sedangkan pantangan bagi orang luar atau pengunjung seperti kami antara lain:

Tidak boleh mengambil gambar atau foto,

Tidak diperkenankan memakai sabun dan odol pada saat mandi di sungai, dan

Mandi di sungai di tempat yang sudah ditentukan oleh suku Baduy Dalam, ada tempat-tempat tertentu yang diharamkan untuk digunakan mandi bagi pendatang. 

Memasak, alat Makan, dan Mandi

Alat minum suku Baduy terbuat dari Bambu, sedangkan alat makan mereka menggunakan mangkuk seperti layaknya mangkuk pada umumnya. Sedangkan untuk memasak, mereka menggunakan tungku api yang berada di dalam rumah. Dandang dan wajan terbuat dari kuningan. Sedangkan untuk menenak nasi menggunakan anyaman bambu dan gayung air minum menggunakan batok kelapa dengan tangkai ranting pohon. Sementara untuk mengaduk minuman menggunakan sumpit bambu.

Pada saat mandi mereka tidak menggunakan sabun, sikat gigi mereka menggunakan siwak dan tepes kelapa dicampur dengan gamping yang dihaluskan sebagai pasta gigi.

Minuman khas baduy pada saat kami berkunjung kesana adalah daun keras tulang yang diberi air mendidih, seperti layaknya teh. Air seduhan daun keras tulang berfungsi untuk menghangatkan badan pada malam hari.

Kegiatan Bercocok Tanam dan Jual Beli Hasil Ladang

Kegiatan sehari-hari suku Baduy dalam adalah bercocok tanam. Sawah mereka berbentuk unik. Berbeda dengan suku Baduy Luar yang menanam padi layaknya petani di Jawa, suku Baduy Dalam menanam padi seperti menanam tanaman pada umumnya, tanpa ada air yang menggenang. Cara menanam seperti itu sering disebut mereka dengan istilah Gogoh. Padi hasil tanaman suku Baduy Dalam berwarna agak kemerahan, berbeda dengan padi pada umumnya. Selain padi, suku Baduy Dalam rajin menanam umbi-umbian untuk cadangan makanan disaat musim kemarau. Mereka menyimpan panen padi di lumbung padi yang dibangun terpisah dari rumah mereka. Sekumpulan bangunan lumbung dijadikan dalam satu kawasan, dimana satu bangunan lumbung padi dimiliki oleh satu keluarga. Konon padi yang mereka simpan mampu bertahan hingga 30-100 tahun lamanya tanpa mengurangi kualitas rasa nasi yang dihasilkan.

Selain bercocok tanam, kegiatan mereka tiap hari adalah membuat kerajinan tangan. Si wanita membuat kain tenun, dan laki-lakinya membuat accessories serta peralatan lainnya. Hasil kerajinan mereka nyaris tanpa unsur logam.

Untuk urusan menjual hasil panen dan hasil kerajinan tangan, suku Baduy Dalam melakukan sistem barter dengan suku di sekitarnya sebelum mereka mengenal uang. Sejak tahun 1980 an mereka sudah mulai mengenal uang dan mulai meninggalkan sistem barter yang merugikan mereka.

Pejalanan yang kami tempuh menuju perkampungan suku Baduy Dalam adalah dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih 14 km dengan medan naik turun bukit. Kami bermalam di rumah penduduk suku Baduy Dalam dan menyatu dengan tradisi mereka.

Setelah dua hari satu malam kami ber asimilasi dengan mereka, persepsi baru tentang Suku Baduy pun kami peroleh, jauh dari anggapan masyarakat yang kami rasakan selama ini.

Suku Baduy Dalam itu suku terpencil dan menutup diri dari dunia luar? Untuk menjawab pertanyaan itu sangat salah.

Buktinya mereka menyambut hangat kedatangan kami, keluarga pak Mursid sangat baik merelakan rumahnya untuk kami tempati, istri pak Mursid memasak masakan mie instant dan beras yang kami bawa, pagi buta pkl. 03:00 wib istri pak Mursid sudah bangun untuk sarapan kami (kebetulan saya bangun pukul 02.30 WIB, jadi tahu persis jam berapa Ibu Mursid bangun)

Suku Baduy itu suku terbelakang, tidak mau mengikuti perkembangan Zaman? Jawaban yang tepat , yaitu salah.

Suku Baduy Dalam justru mempunyai pemikiran yang jauh lebih maju dibanding kita. Adat istiadat yang mereka terapkan adalah bentuk kampanye penyelamatan bumi yang sekonyong konyong baru kita kampanyekan beberapa dekade terakhir.

Anak-anak suku Baduy Dalam sudah bisa menelfon dan ber sms, walaupun dilarang memiliki gadget, tapi mereka bisa sms dan telpon menggunakan gadget dari teman-teman mereka di Baduy Luar. Bahkan dua hari seteleh kepulangan kami, mereka menelfon salah satu dari kami. Mereka (Jali, Idong, Juli, dkk.) mau maen ke rumah kami di Jakarta dengan berjalan kaki dari sana, suatu bentuk penghargaan dari mereka mau melakukan kunjungan balik ke kami.

Suku Baduy Dalam itu dekil, bau, dan jarang mandi? jawabannya salah besar.

Sepanjang perjalanan kami dengan mereka beriringan, kami sama sekali tidak merasakan bau badan yang menyengat dari mereka. Itu yang membuat saya bertanya dalam hati hingga kini. Tempat mandi mereka jauh lebih bersih dari kita di kota yang menggunakan air PAM hasil penyulingan kali Ciliwung.

Suku Baduy Dalam itu Bodoh dan terbelakang? Lagi-lagi pertanyaan ini salah besar.

Justru cara dia menangkap informasi sangat diacungi jempol, dalam menerima informasi, mereka tidak sekedar membaca, tapi mampu ”membaca”, yaitu ”membaca” lingkungan yang diterapkan dalam kehidupan sehari hari dan dituaangkan dalam peraturan adat. Si Jali pernah ke Mal Of Indonesia, ke Menteng, ke Citos, Sarinah, dan bahkan Pak Mursid sudah pernah ke rumah pak SBY di Cikeas, sedangkan saya?

Suku Baduy Dalam itu tidak mengenal Agama? Salah besar.

Sudah dijelaskan diatas, mereka mempunyai agama, hanya saja mereka lebih condong menerapkannya melalui ayat-ayat kauaniah yang Tuhan berikan.

Keluarga Pak Mursid sangat toleran ketika rumahnya kami tempati untuk sholat maghrib, isya, dan subuh berjamaah tanpa merasa terganggu.

Mereka mampu menahan nafsu birahinya. Dibuktikan dengan pakaian mereka yang tanpa celana dalam,tetapi tidak  ada kasus pemerkosaan. Dalam satu keluarga rata-rata mereka memiliki anak 5-6 orang.

Mau jalan-jalan ke Jepang gratis? Ayo ikutan program Dream Destination Japan. 3 Petualang yang beruntung akan berangkat ke Jepang dan memperebutkan Grand Prize Rp 10 juta. Ayo daftar di sini.
 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        

Redaksi: redaksi[at]detik.travel
Moderator: admin[at]detik.travel
Media Partner: promosi[at]detik.com 
Iklan: sales[at]detik.com
Most
Popular
 

Follow us on @detiktravel

Contact Us

redaksi[at]detik.travel
admin[at]detik.travel
sales[at]detik.com