detiktravel

Perpaduan Desa Nelayan dan Desa Petani di Pulau Seliu, Belitung

Lydia Okva Anjelia - d'Traveler - Rabu, 05/10/2011 14:31:00 WIB
detikTravel Community -  

Siapa yang kini tidak mengenal Pulau Belitung? Pulau dengan luas daratan hanya 4.800 Km2 ini semakin lama semakin dikenal sebagai salah satu destinasi wisata para d'Traveler dari seluruh Indonesia bahkan dari mancanegara. Diawali dengan munculnya buku dan film "Laskar Pelangi" karya Andre Hiarata--Putra asli Belitung, potensi pulau ini terus berkembang.

Tapi, jangan salah, keindahan yang selama ini ditampilkan dalam film hanya sebagian kecil yang ada di pulau ini. Masih banyak keindahan lainnya yang bisa kita saksikan di pulau yang dulu lebih dikenal sebagai "Negeri Serumpun Sebalai" ini. Salah satunya adalah sebuah pulau bernama Pulau Seliu (baca: Seliuk) yang terdapat di Kecamatan Membalong, Belitung.

Hampir semua objek wisata di Pulau Belitung telah saya dan keluarga besar kunjungi. Pantai Tanjung Pandan, Pantai Tanjung Kelayang, Bukit Berahu, Pulau Lengkuas, dan lainnya. Betapa tidak, saya memang salah satu keturunan dari putra asli Belitung. Maka, tidak asing bagi saya untuk bolak-balik ke pulau indah ini.

Ketika berencana untuk menjelajah tempat yang belum dikunjungi, saya dan keluarga besar saya akhirnya memutuskan untuk mengunjungi Pulau Seliu, yang ada di Kecamatan Membalong. Dari pusat kota Tanjungpandan, perjalanan ke Membalong kami tempuh sekira 50 Km atau kurang lebih60 menit, tanpa macet (karena memang kondisi jalan di Pulau Belitung ini tidak seperti di kota-kota besar. Bahkan Jarang sekali kita melihat perempatan dengan traffic light, kecuali di pusat Kota Tanjungpandan).

Sesampainya di Teluk Gembira, Kecamatan Membalong, perjalanan dilanjutkan dengan melalui jalan laut dengan memanfaatkan kapal motor atau transportasi kapal nelayan yang telah dimodifikasi sebagai sarana angkut penumpang. Di Teluk Gembira ini saja, kami sudah disuguhi dengan pemandangan yang indah, seperti birunya air laut, bebatuan granit di sepanjang sisi tepian dan rindangnya sejumlah pepohonan. (Tips : Jika Anda menggunakan kendaraan seperti mobil, tidak perlu khawatir karena ada jasa parkir di teluk ini. Memang diperuntukkan untuk siapa saja, baik wisatawan atau penduduk setempat yang ingin menyebrang ke Pulau Seliu).

Dengan menggunakan kapal motor berkapasitas sekira 30 penumpang, perjalanan yang kami tempuh memakan waktu kurang lebih 20 menit. Sensasi luar biasa bisa kita rasakan ketika gelombang laut yang cukup tinggi menerjang tepian kapal. Hati-hati bagi yang duduk disisi kapal, karena Anda akan basah dibuatnya.

Sesampainya di Pulau Seliu, mata kita akan disuguhi dengan pemandangan aktivitas para penduduknya. Kapal-kapal nelayan berjejer di sepanjang dermaga. Ada yang memperbaiki kapalnya, ada yang baru saja pulang melaut, dan ada pula nelayan yang sibuk berdagang hasil tangkapannya. Ketika itu kami melihat pemandangan yang luar biasa, ratusan kepiting (dalam bahasa Belitung, disebut Ketam) berada diantara jala-jala dalam kapal.

Kami kemudian melangkah menuju gerbang utama dari pulau tersebut. Gapura besar menyambut kami dengan tulisan “Selamat Datang di Desa Pulau Seliu”. Suasana ramah pun menyambut kami. Pandangan tertuju tetap pada aktivitas masyarakatnya. Di sisi kiri bisa kami lihat warung-warung kecil. Kami bisa menikmati minuman dingin di warung-warung tersebut. Ada pula toko yang menjual hasil tangkapan para nelayan, dan kami langsung memesan puluhan kepiting dari toko tersebut. Tidak tanggung-tanggung kami membeli 7 Kg kepiting untuk nanti dibawa pulang (Tips : Jangan lupa untuk melakukan tawar menawar jika ingin membeli kepiting di pulau ini). Tak berlebihan bila kehidupan ekonomi masyarakat di Pulau Seliu adalah sebagai nelayan. Delapan puluh lima persen masyarakat berprofesi sebagai nelayan, selebihnya hidup dari sektor yang lainnya.

Tidak ada kendaraan beroda empat di pulau ini. Kebanyakan penduduknya menggunakan sepeda (Dalam bahasa belitung, disebut Kentangin) bahkan sudah mulai juga banyak yang memiliki motor. Motor mereka beli di luar pulau, kemudian diangkut dengan menggunakan Kapal motor yang tadi kami tumpangi.

Pemandangan lainnya yang ada di pulau ini, adalah jejeran pohon mangga di setiap rumah warga dengan buah-buah yang masih berwarna hijau muda. Ketika itu (saat liburan lebaran) yang membuat kami menyesal adalah tidak bisa mencicipi manisnya buahnya karena belum matang. Jumlahnya tidak cuma puluhan, tapi ratusan. Menggantung indah di setiap rumah warga. (Tips: Bagi Anda, yang akan mengunjungi pulau ini di Bulan Oktober-November ini, diperkirakan buahnya sudah meranum dan bisa dicicipi langsung/diambil dari pohonnya, atau membelinya dari penduduk setempat.

Kami saat itu disambut oleh sebuah keluarga. Sebelumnya, salah satu sanak saudara memang telah mengenal keluarga tersebut. Kami disambut dengan baik dan disediakan transportasi. Sejumlah motor untuk bisa kami gunakan untuk mengelilingi pulau ini.

Tidak hanya sambutan ramah dari warga, Kepala Desa Seliu, Pak Edyar menyempatkan diri untuk mengunjungi kami. Pak Edyar menyampaikan bahwa penduduk Pulau seliu terdiri dari 349 Kepala Keluarga dengan 1.100 jiwa. Memang, Delapan puluh lima persen masyarakat berprofesi sebagai nelayan. Namun jika kondisi laut sedang tidak bersahabat, para nelayan juga terkadang beralih menjadi petani. Selain mangga, Pulau Seliu terkenal sebagai sentra produksi ikan asin, kopra, dan emping. Perpaduan antara desa nelayan dengan desa petani ada di pulau ini.

Bagaimana dengan wisata pantai di Pulau ini? Ada sebuah pantai yang tak kalah indahnya dengan Pantai Tanjung Tinggi yang biasa Anda lihat di Film Laskar Pelangi. Pantai Marangbulo namanya. Akses ke pantai ini memang sangat sulit. Harus menggunakan motor karena kondisi jalan, hanya berupa jalan setapak. Kita harus melewati rawa-rawa, bebatuan, hutan-hutan, sampai dengan padang tandus. (Tips: Pastikan kondisi motor yang Anda gunakan prima. Karena benar-benar tidak ada bala bantuan jika kendaraan Anda mogok, lepas rantai, atau kehabisan bensin dalam perjalanan pulang-pergi ke pantai ini).

Sesampainya di Pantai Marangbulo, mata akan dimanjakan dengan pemandangan pantai yang indah. Lagi-lagi batu-batuan granit khas di pulau ini menjadi ornamen menakjubkan. Pasir putih dengan air laut yang jernih membuat kami tak kuasa untuk merasakan sensasi dinginnya air. (Tips: Jangan lupa membawa pakaian ganti jika Anda berniat untuk berenang. Namun, sangat disayangkan, kurangnya fasilitas membuat Anda akan sulit untuk berbilas. Karena air bersih terletak agak jauh dari pantai).

Setelah puas berenang di Pantai Marangbulo, kami kembali ke dermaga pulau Seliu. Sepertinya, kunjungan kami ke Pantai Marangbulo memang jadi kunjungan terakhir kami di Pulau kecil ini. Sambil menunggu kapal motor yang membawa kami kembali ke Teluk Gembira, Kecamatan Membalong, kami duduk-duduk di warung-warung kecil di dekat dermaga.  Obrolan ringan pun terjadi antara kami dengan kepala desa. Kopi panas pun menemani obrolan kami.

Pak Kades menyampaikan, saat ini Pulai Seliu memang sedang berbenah. Memang saja, masalah Pulau Seliu banyak harus dibenahi. Seperti soal jalan-jalan di sekitar Dusun I dan Dusun II dan sejumlah masjid yang perlu direnovasi. Bukan hanya masjid atau jalan saja, masalah lain yang dihadapi nelayan Seliu, adalah perlunya dibangun pabrik es untuk pengawetan ikan.

Terkait dengan potensi wisata, warga Pulau Seliu juga sangat menyambut baik kedatangan para wisatawan, untuk datang ke pulau ini. Hanya saja, masih dibutuhkan dukungan dari semua pihak seperti pemerintah, bahkan investor untuk dapat membenahi infrastruktur yang ada.

Setelah kapal motor yang akan membawa kami pulang ke daratan pulau Belitung, tak lupa kami menyampaikan terima kasih kepada kepala desa dan sejumlah warga yang telah membantu kami menyewakan kendaraannya untuk berkeliling di pulau menakjubkan ini.

Menurut data geografis Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung yang juga menjadi Provinsi ke-33 di Indonesia ini hanya memiliki 2 pulau besar, yaitu Pulau Bangka dan Pulau Belitung. Dari 2 pulau kecil ini saja, ada 950 pulau kecil yang didalamnya. Ini membutikan begitu kayanya Indonesia kita tercinta. Berbagai potensi wisata dapat kita jelajahi, dan menjadi pengalaman yang tak terlupakan.

 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        

Redaksi: redaksi[at]detik.travel
Moderator: admin[at]detik.travel
Media Partner: promosi[at]detik.com 
Iklan: sales[at]detik.com
Artikel
Terbaru
Most
Popular
 

Follow us on @detiktravel

Contact Us

redaksi[at]detik.travel
admin[at]detik.travel
sales[at]detik.com