detiktravel

Bakar Tongkang Tradisi Asli Etnis Tionghoa Panipahan

Fajar Dame Harahap - d'Traveler - Senin, 28/11/2011 12:09:00 WIB
detikTravel Community -  

Perairan laut Panipahan, Kecamatan Pasir Limau Kapas, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), Riau sejak dulu dikenal sebagai penghasil ikan terbesar. Bahkan, tak hanya pemasok ikan terbesar se-Indonesia. Kawasan itu juga dikabarkan sebagai penghasil ikan kedua sedunia setelah Norwegia. Syukur atas berkah hasil laut di Selat Malaka, warga etnis Tionghoa melakukan ritual gelar tradisi bakar replika Tongkang (Perahu, red). Perhelatan akbar yang setiap tahun dilakukan itu, disebut dengan Cap ge gi sun atau perayaan di tanggal ke-24 di bulan kesebelas kalender Cina.

Jumat (25/11/2011), penulis melakukan perjalanan ke Panipahan. Menumpang transportasi air berupa speedboat disalahsatu dermaga yang terdapat di Kota Tanjungbalai, Sumatera Utara.

Penulis dan beberapa rekan jurnalis lainnya mendapat undangan untuk mengikuti berbagai ritual penting perayaan pembakaran Tongkang. Di perairan itu, transportasi air tersebut membelah Selat Malaka. Tak butuh waktu lama, sekitar 2 jam, speedboat berkekuatan 800 PK sampai menghantarkan ke daerah tujuan.

Panipahan merupakan kawasan yang terkenal sebagai daerah "kota seribu jembatan" atau "kota sejuta tonggak" itu diperkirakan separuh penghuninya merupakan warga etnis Tionghoa. Cukup lama diperkirakan warga yang asal muasalnya tersebut dari negeri Tiongkok. Diperkirakan telah ratusan tahun silam.

Panipahan sendiri merupakan kawasan yang memiliki potensi alama perairan lautnya sebagai penghisal berbagai jenis ikan. Baik jenis Senangin, ikan Bawal, Gembung, udang kelong, dan beberapa jenis lainnya. Bahkan diantaranya merupakan ikan eksport, misalnya, udang Eiko. Namun, nama Panipahan yang sempat Tersohor sebagai pengekspor ikan mengalami perubahan pasca beroperasi dan masuknya kapal-kapal pukat trawl dan pukat harimau sekira satu dasarwarsa terdahulu, hasil tangkapan ikan di perairan itu mengalami penurunan drastic. Nama Panipahan sendiri semakin kian pudar.

Memang meski  daerah itu juga merupakan daerah pengekspor ikan laut. Bahkan, tujuan pengiriman ikan bukan hanya dometik ke Tanjung Balai, bahkan hingga ke Negara Malaysia. Namun, volumenya mengalami penurunan. Saat ini, eksport ikan ke Malaysia tinggal hanya kisaran 20 ton setiap tiga hari. Sementara untuk jenis lokal yang dipasok ke Tanjungbalai mencapai 5 ton perhari. "Untuk eksport ke Malaysia 20 ton pertiga hari. Untuk Tanjungbalai hanya 5 ton perhari," ungkap Alim, seorang penampung ikan laut, Sabtu (19/11) di Panipahan.

Menurunnya produksi ikan di kawasan itu disebabkan dampak maraknya kapal pukat harimau ke wilayah itu. Hal itu terjadi dalam kurun sepuluh tahun. “Dahulu hasil nelayan masih 40 ton,” tambahnya.
Katanya lagi, diduga dampak negatif banyaknya pukat harimau beroperasi mengakibatkan rusaknya ekosistem laut sebagai tempat berkembangbiaknya berbagai satwa laut.

Malam hari, kota di atas air itu cukup semarak. Puluhan warung kopi dan kedai nasi hadir menyuguhkan berbagai makanan dan muniman. Khususnya untuk makanan yang didominasi jenis makanan laut. Harganya cukup bervariatif.

Bahkan, perhelatan bakar Tongkang jadi nilai tersendiri untuk warga Panipahan. Kehadiran warga luar yang ingin menyaksikan dan mengikuti prosesi tradisi itu mengundang nilai yang baik bagi warga setempat. Terlebih lagi, malam perayaan ritual itu, dilaksanakan berbagai hiburan rakyat yang menghadirkan para artis dari Jakarta dan luar negeri Malaysia. Tarian dan nyanyian disuguhkan khusus bagi pengunjung. Kebebasan acara terlihat dengan suguhan tarian dan aroma alcohol.

Puncak acara ritual bakar tongkang, dilakukan setiap tanggal 24 bulan 11 kalender Cina atau untuk tahun ini bertepatan jatuh dihari Minggu, 21 November 2011.

Dimana, pada saat itu, dimulai prosesi pemberangkatan kapal tongkang menuju areal ritual Bakar Tongkang, hingga pembakaran replika kapal tongkang. Sebelum diarak, pada paginya juga, warga Tionghoa Panipahan, domestik maupun mancanegara melakukan doa di dalam kelenteng.

Ritual tersebut dikatakan sebagai penghormatan kepada Lu Chu Ong Ya Kong (Dewa Laut). Sebab, menurut kepercayaan warga Tionghoa Haika, sang Dewa sebagai juru penyelamat warga Tionghoa di Panipahan yang berprofesiu sebagai nelayan dalam mencari nafkah di lautan. Selain itu, dengan prosesi itu juga diharapkan mampu mempertahankan kebudayaan Tionghoa yang sudah hadir sekira 110 tahun silam ke kawasan itu.

Sesepuh para warga Tionghoa di daerah itu Salim (Ketua Panitia Penyelenggara), Lien Hong Ngie dan Tan Se Sun (tokoh masyarakat) yang didampingi Agie, Humas kepanitian acara mengakui makna  perhelatan akbar Cap ge gi sun yang setiap tahun dilakukan itu, meminta keberkahan dari Dewa Laut untuk mendapatkan kesehatan, keselamatan, kesejahteraan dan rezeki yang meliumpah dari lautan. "Kita melakukan ritual untuk Dewa Laut guna  mendapatkan keberkahan," ujar Agie.

Uniknya, acara yang hamper menyerupai tradisi di Bagansiapi-api dengan pembakaran Tongkang itu, beberapa tahun belakangan ini digelar di dua lokasi berbeda. Misalnya, pagidi Vihara Budibhakti dan Vihara Setya Kitri (vekong Kuda) Panipahan.

Informasi yang diperoleh menyebutkan, awal mula, acara hanya diadakan disatu tempat. Yakni di Pekong Kuda. Namun, keretakan kepengurusan internal Vihara menyebabkan sinyalemen beberapa pengurus lainnya membentuk pengurus baru dengan  mendirikan Vihara Setyabakti (Pekong Pajak). "Dahulu diduga terjadi perpecahan pendapat antar pengurus Vihara. Dampaknya sebahagian mendirikan Vihara baru. Kurang diketahui penyebab pasti keretakan itu, tapi disinyalir kurang transparannya soal dana dan keuangan yang ada," ujar salahseorang narasumber di Panipahan.

Terbaginya upacara itu, kerap seperti sinyal persaingan. Misalnya saja, untuk tahun ini, Pekong Kuda melakukan ritual bakar Tongkang satu unit replica perahu kertas, berbeda dengan Vihara Satyabakti yang membakar replica perahu kertas tiga unit sekaligus. Namun, jika vihara Satyabakti melakukan pembakaran di kuburan pada siang hari, berbeda dengan Vihara Kuda menggelar pembakaran tongkang di malam harinya.

Prosesi ritual itu sendiri dilakukan oleh seorang ahli atau tangki (paranormal). Para tangki melakukan berbagai persiapan yang pada intinya melakukan permohonan doa restu meminta petunjuk dan doa selamat.Setelah itu, Kelenteng kembali dibuka dan persembahyangan dilakukan sampai acara selesai saat tongkang dibakar. Masing-masing utusan memakai seragam tersendiri.

Sebelum diarak ke lokasi pembakaran para warga etnis Tionghoa melakukan sembahyang kepada beberapa Dewa, khususnya pembakaran dupa dan kertas kimchoa (kertas sembahyang emas). Uniknya, tak jarang dari para pengunjung yang hadir membeli jumlah kertas yang berbeda. Dan memberikan sumbangan uang berbeda kepada pengurus Vihara. Bahkan tak jarang ada yang menyumbangkan uang hingga puluhan juta. Itu, sebagai rasa syukur pada para dewa atas keberkahatan rezeki yang diberikan. Misalnya saja, jika usaha yang dilakukan setahun belakangan mengalami perkembangan yang signifikan. “Usaha saya berkembang setahun belakangan. Dan terus berharap kemajuan di sector usaha,”  ujar Liem Cham Bieng salahseorang pengunjung.

Setelah seluruh pengerak tongkang berkumpul di halaman Vihara. Maka iring-iringan segera menuju areal pembakaran diikuti ribuan orang penziarah.

Sesampai diareal pembakaran, terlebih dahulu ditentukan arah posisi haluan tongkang. Setelah tongkang diletakan, maka kertas sesembah ditimbun dilumbung kapal tongkang yang sedang dibakar. Dan, sejak keberangkatan tongkang dari Vihara ke lokasi pembakaran diikuti iring-iringan barisan panjang para warga disertai pembakaran hio sebagai penghormatan terhadap tongkang.

Tentu saja, tradisi ini menarik perhatian banyak warga. Bahkan warga Panipahan non Tionghoa sendiri mengakui hal itu. Sebab, hadirnya para peserta ritual dari luar daerah Panipahan menambah nilai tersendiri. Sehingga, ritual tersebut juga dinilai sebagai momen wisata rohani. "Pembakaran Tongkang menambah semarak Panipahan," ujar Lira Sitinjak dan Maya Nainggolan, warga Panipahan. Mereka menyebutkan tradisi itu perlu dipertahankan sebagai salahsatu kebudayaan baru dan hal pantas untuk tetap dilestarikan.

Mau jalan-jalan ke Jepang gratis? Ayo ikutan program Dream Destination Japan. 3 Petualang yang beruntung akan berangkat ke Jepang dan memperebutkan Grand Prize Rp 10 juta. Ayo daftar di sini.
 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        

Redaksi: redaksi[at]detik.travel
Moderator: admin[at]detik.travel
Media Partner: promosi[at]detik.com 
Iklan: sales[at]detik.com
Most
Popular
 

Follow us on @detiktravel

Contact Us

redaksi[at]detik.travel
admin[at]detik.travel
sales[at]detik.com