Pertapaan Rawaseneng, Sejenak Tinggalkan Hingar Bingar Dunia

Dhianna Puspitasari - d'Traveler - Senin, 16/01/2012 13:47:00 WIB
detikTravel Community -  

Sebuah tempat yang tersembunyi jauh dari hingar bingar kota sangat tepat digunakan untuk tempat menyepi. Selain itu, tempat seperti ini juga bisa digunakan untuk merefleksikan hidup dengan penuh kesejukan dan kealamian. Indonesia terkenal kaya dengan tempat-tempat seperti ini. Bagi yang ingin menemukan tempat ini bisa mencoba untuk berkunjung ke Rawaseneng.

 

Rawaseneng, terletak sekitar 14 km di sebelah utara Kota Temanggung, Jawa Tengah. Daerah ini merupakan tempat tinggal para biarawan dan biarawati trapist yang memiliki misi doa dan kerja tangan. Dengan misi sosial menghidupi perekonomian masyarakat sekitar mengelola perkebunan kopi sebagai garapan utama. Sekitar 137 ha -dari total 178 tanah milik pertapaan ditanami kopi jenis Robusta. Ada tambahan tanaman lain seperti Pisang Raja, Ketumbar, Dilem, dan pohon-pohon peneduh yang secara berkala ditebang untuk diambil kayunya. Maka dari perkebunan ini dikembangkan juga usaha pertukangan.

 

Saat ini ada 130 sapi yang dikelola pertapaan. Delapan puluh betinanya sudah bisa diambil susunya. Selebihnya adalah sapi anak-anak, remaja, dan 3 pejantan. Selain dijual, susu hasil perahan sapi di pertapaan ini juga dimanfaatkan untuk membuat roti dan keju sebagai campuran bahan roti. Roti produksi industri pertapaan ini dikirim ke pasar lokal maupun ke kota lain, bahkan ke Jakarta.

 

Ada ternak babi pula. Sisa pakan yang ada dimanfaatkan pula bersama sejumlah komponen lain, termasuk kotoran walet disatukan dan diproses menjadi pupuk organik. Pupuk tidak dipasarkan namun dimanfaatkan untuk keperluan perkebunan. Pembuatan pupuk ini dapat mengurangi ongkos produksi. Pupuk juga dimanfaatkan untuk pemupukan bibit tanaman hias yang sedang dikembangkan para frater Ordo Trappist. Pembibitan tanaman dilakukan untuk memanfaatkan ruang-ruang yang tersisa.

 

Untuk memenuhi kebutuhan listrik, Biara Trappist Rawaseneng ini mengolah sendiri pembangkit listrik dengan dua turbin yang mereka miliki. Tidak seluruhnya, sebagian masih mengambil dari PLN. Sumber air yang melimpah dari hutan kecil perkebunan kopi juga dimanfaatkan untuk kebutuhan air pertapaan dan warga sekitar.

 

Pertapaan Rawaseneng, memang benar-benar daerah yang sangat mandiri. Ketenangan dan kenyamanannya mampu menghidupkan masyarakatnya dengan  mengolah hasil bumi milik sendiri



 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        

Redaksi: redaksi[at]detik.travel
Moderator: admin[at]detik.travel
Media Partner: promosi[at]detik.com 
Iklan: sales[at]detik.com
Artikel
Terbaru
 
Must Read close

Follow us on @detiktravel

Contact Us

redaksi[at]detik.travel
admin[at]detik.travel
sales[at]detik.com