Sawadikaap! Selamat Datang di Kota Bangkok

April - d'Traveler - Rabu, 01/02/2012 10:30:00 WIB
detikTravel Community -  

Sawadikap! begitulah sapaan khas Thailand yang disertai dengan menangkupkan kedua belah tangan di dada. Sapaan ini mencakup selamat datang, selamat pagi, selamat siang dan selamat malam. Informasi ini saya dapatkan dari Lydia, pemandu wisata lokal yang menemani kami.

Bangkok berasal dari kata Bang (artinya bagian tengah dari kota/desa yang berada ditepian sungai) dan Makok (artinya tanaman yang menghasilkan buah). Kota Bangkok juga dikenal dengan sebutan Krung Thep Mahanakhon Amon Rattanakosin Mahinthara Yuthaya Mahadilok Phop Noppharat Ratchathani Burirom Udomratchaniwet Mahasathan Amon Piman Awatan Sathit Sakkathattiya Witsanukam Prasit (pfiuuhhhh cukup bikin nafas ngos-ngosan bacanya, hehehe) nama tersebut diberikan oleh Raja Buddha Yodfa Chulaloke dan nama ini terdaftar di dalam Guiness Book of Records sebagai nama tempat terpanjang didunia. Sekarang ini Bangkok terkenal dengan sebutan City of Angels.

Tiga jam perjalanan dari Jakarta ke Bangkok cukup melelahkan apalagi beberapa kali pesawat yang saya tumpangi mengalami guncangan karena faktor cuaca yang kurang bagus. Belajar dari kesalahan trip terdahulu, kali ini baterai kamera digital sudah terisi penuh dan tentu tidak lupa membawa chargernya, hehehe amaaan deh. Saya bisa foto setiap obyek menarik sepuas hati karena kota ini juga terkenal dengan julukan seribu pagoda.

Obyek wisata pertama yang wajib dikunjungi adalah The Royal Grand Palace yang dibangun pada tahun 1782 oleh Raja Rama I. Tempat ini merupakan kompleks tempat tinggal kerajaan, pusat pemerintahan dan Kuil Emerald Budha. Daya tarik yang dimiliki oleh Royal Grand Palace adalah kekayaan arsitektur khas Thailand, lukisan-lukisan kuno yang menggambarkan kisah Ramayana, Royal Thai Decoration dan tempat penyimpanan medali kerajaan dan koin sejak abad 11.

Kelebihan lainnya adalah di istana ini saya juga dapat melihat secara langsung patung Emerald Budha yang terkenal. Patung Budha yang terbuat dari batu permata hijau (green jade)  ditempatkan di dalam kuil dengan arsitektur yang tinggi nilai seninya. Patung ini sempat berada di Laos selama 226 tahun. Tetapi pada tahun 1778, Raja Rama I membawanya kembali ke Thailand.  Bangunan lainnya yang ada di dalam kompleks The Royal Grand Palace adalah Grand Palace Hall yang merupakan tempat pemberian penghargaan dari Raja Thailand digelar.

Cuaca di Bangkok saat itu sangat panas sekitar 36C, lumayan membuat dehidrasi. Untung sebelumnya pemandu wisata sudah mengingatkan untuk membawa air mineral dalam botol. Selesai berkeliling di komplek The Royal Grand Palace yang ternyata cukup luas saatnya mengisi energi kembali. Apalagi kalau bukan wisata kuliner makanan khas Thailand yang terkenal enak-enak. Kebetulan saya penggila makanan Thailand, terutama sup Tom Yam. 

Lokasi tempat makan terletak di Ramkham Haeng, Sophia Restaurant. Tempat ini sepertinya memang menjadi tempat wajib para turis yang mencari makanan halal. Agak sulit menemukan restaurant halal karena mayoritas penduduk Thailand beragama Budha. Hampir semua masakan yang dihidangkan saya cicipi. Rugi rasanya kalau gak berani mencoba masakan khas Thailand selagi saya di sana. Yang agak mengejutkan adalah nanas Thailand. Umumnya nanas di Indonesia rasanya asam manis dan banyak mengandung air, tetapi nanas Thailand rasanya super manis dan tidak berair. Jadi selama 3 hari di Bangkok, nanas selalu masuk dalam daftar menu saya. :)

Kegiatan berikutnya setelah makan malam adalah Shopping!! Lydia, pemandu wisata kami mengajak ke Siam Paradise Night Bazaar. Ya ampun, barang-barangnya lucu-lucu dan harganya pun tidak mahal. Contohnya tempat tissu yang terbuat dari bahan satin dengan sulaman gajah hanya dihargai 100bath atau kurang lebih Rp 30.000.

Puas keliling dan membeli beberapa cinderamata, saatnya beristirahat ke Hotel Twin Towers yang berada di Rong Muang, Patumwan. Lokasi hotel ini tidak terlalu jauh dari Siam Paradise Night Bazaar. Beberapa teman melanjutkan untuk menonton pertunjukan Tiger Show dengan harga tiket sekitar 700bath. Kalau saya sih inginnya jalan-jalan di sekitar hotel saja tapi karena orang Thailand umumnya tidak mengerti bahasa Inggris sementara saya sendiri gagap bahasa Thailand, terpaksa niat itu disimpan saja. Jangankan untuk keluyuran sekitar hotel, menanyakan lokasi toilet saja harus dengan bahasa Thailand. Untungnya turis guide kami memberikan bahasa praktis untuk keperluan darurat seperti terimakasih atau Khab Khun, Toilet atau Nong Nam. Yang lucu saya sempat mengucapkan Nong Nam selesai berbelanja, padahal maksudnya mau bilang thank you alias Khab Khun hahahahaa...

Hari kedua adalah mengunjungi Sungai Chao Phraya. Chao Phraya artinya sungai raja (River of Kings). Sesuai dengan namanya, Sungai Chao Phraya merupakan sungai terpanjang dan terpenting di Thailand, yang memiliki panjang sekitar 372 kilometer. Sungai ini melintasi 20 provinsi di Thailand dan bermuara di Teluk Thailand.

Sungai Chao Phraya merupakan pertemuan dari lima sungai kecil : Sungai Pa Sak, Sakae Krang, Nan, Ping, dan Tha Chin di daerah Nakhon Sawan yang berada di wilayah utara Thailand. Di sepanjang sungai yang membelah Kota Bangkok ini banyak terdapat kuil Budha (dalam Bahasa Thai disebut Wat) yang cantik dan megah.

Menyusuri Sungai Chao Phraya merupakan agenda wajib bagi para turis yang berkunjung ke Bangkok. Dengan naik perahu (kapal kayu) menyusuri Sungai Chao Phraya, dan menyempatkan memberi makan ikan dewa (sejenis ikan patin) dengan roti yang dijual dalam kemasan plastik seharga 20bath. Menyusuri sungai Chao Phraya menuju Wat Arun (Temple of Dawn) merupakan pengalaman yang menyenangkan. Sungai ini membelah kota Bangkok menjadi dua. Sisi kanan adalah provinsi lama dan sisi kiri adalah provinsi baru. Perahu yang kami tumpangi juga melewati jembatan yang dibangun oleh Raja Rama VIII.

Sekitar 30 menit berperahu, kami tiba di Arunratchawararam Ratchaworamahavihara atau disebut juga dengan Wat Arun (Temple of Dawn). Bangunan ini adalah kuil Budha yang terletak di distrik Bangkok Yai di Barat hulu Sungai Chao Phraya. Pada awalnya kuil ini dikenal dengan nama Wat Makok (wihara zaitun). Wat Arun sempat menjadi tempat persinggahan patung Emerald Budha setelah direbut kembali dari Laos dan kemudian patung tersebut dipindahkan ke Wat Phra Kaew pada tahun 1784.  

Kuil ini terlihat indah karena memancarkan kerlap-kerlip ribuan cermin kecil yang menempel di dindingnya. Di sini pengunjung juga dapat berbelanja aneka souvenir kerajinan khas Thailand, aksesoris, kaus hingga hiasan dinding. Sepertinya turis Indonesia yang datang ke Wat Arun cukup banyak, beberapa toko memperbolehkan kami membayar dalam mata uang rupiah. 100bath mereka hargai Rp30,000. Saya juga menyempatkan diri untuk berfoto ala gadis Thailand dengan busana khasnya. Gak mahal kok, hanya 200bath atau sekitar Rp 60.000 dibandingkan dengan pengalaman saya berfoto ala gadis Bali dengan biaya Rp 150.000. Usai berkeliling di Wat Arun, kami kembali menyusuri sungai Chao Phraya untuk berkunjung ke Jewellry Manufacturing dan makan siang.

Jewelry Manufacturing yang kami kunjungi adalah milik pemerintah Thailand. Di sini pengunjung bisa melihat langsung proses pembuatan perhiasan dengan batu permata yang indah-indah, sayangnya kamera dilarang masuk ke dalam. Pengunjung juga bisa menyaksikan film dokumenter dan membeli perhiasan tersebut. Kali ini rombongan serempak hanya numpang lewat saja gak beli perhiasan hahaha...

Selepas cuci mata di show room permata, kami menuju Hotel SD Avenue yang terletak di  Borommarat Chacconanni Road untuk makan siang. Kali ini pilihannya adalah International buffet yang ada di Hotel. Tapi tetap saja saya sih mengambil menu khas Thailand yang juga dihidangkan, tak lupa lengkap dengan nanasnya. 

Selesai makan siang, Bangkok yang juga dikenal sebagai surganya belanja para turis membuktikan sekali lagi eksistensinya sebagai tempat belanja murah. Kali ini kami dibawa menuju Ma Boong Krong yang biasa disingkat dengan MBK (mal favorit turis Indonesia). Memang benar, Thailand tuh surga belanja. Koper lucu dengan motif polkadot berwarna ungu ukuran kecil hanya dihargai 1,600bath atau sekitar Rp 450.000. Padahal dengan model dan ukuran yang sama di Indonesia mencapai Rp1.900.000, ironis banget.

Kuliner Thailand memang pantas diacungi jempol (menurut saya loh ya yang penggila kuliner Thailand). Saya senang sekali waktu kami diajak makan malam di The Royal Dragon Restaurant atau disebut juga Mang Korn Lung Restaurant. Tempat ini tercatat sebagai restoran terbesar di dunia pada tahun 1992 dan tercatat dalam Guiness Book of World's Record.

Saking besarnya restoran ini, pelayannya pun menggunakan sepatu roda untuk membawakan makanan para pengunjung. Makanannya pun semuanya enak. Di sini saya mencicipi dessert khas Thailand yaitu ketan mangga. Ketan yang dikukus kemudian disiram santan kental di atasnya dan disajikan dengan potongan mangga yang manis. Rasanya unik banget.... gurih, manis dan segar. Benar-benar puas.

Seusai makan malam di The Royal Dragon, kami kembali ke hotel. Beberapa orang melanjutkan menonton Cabaret Show alias pertunjukan banci-banci Thailand yang terkenal kecantikannya, bahkan melebihi wanita yang asli. Saya memutuskan untuk tidak menonton Cabaret Show. Selain tidak tega nontonnya, badan juga sudah lelah. Belum lagi urusan packing oleh-oleh supaya muat dalam satu koper.

Keesokan harinya, berhubung masih tersisa US Dollar, saya putuskan untuk dihabiskan di toko cinderamata hotel saja. Dan ternyata, harga di hotel lebih murah daripada belanja di Wat Arun. Menyesal kenapa saya tidak belanja di sini dari kemarin. Hanya dengan 35USD saya memborong 3 syal sutra Thai, 2 kaus dewasa pesanan teman, 2 kaus anak-anak pesanan orang rumah dan 2 Magnetic fridge. Akibat kekhilafan saya di toko souvenir hotel, saya harus menenteng belanjaan tersebut karena sudah tidak muat lagi di koper.

Ngomong-ngomong, saya salut sekali dengan rakyat Thailand yang terlihat begitu menghormati dan mencintai Raja dan Ratu beserta keluarganya. Di jalan-jalan protokol banyak terpampang foto-foto Raja dan Ratu Thailand dalam berbagai jaman dan pose. Lydia pun terlihat begitu menghormati dan mencintai Rajanya dalam setiap pembicaraan mengenai negeri Thailand. Semoga Indonesia bisa mencontoh sikap seperti itu ya.

Tepat jam 10 pagi, kami berangkat menuju Bandara Suvarnabhumi. Sawadikap Thailand... sampai bertemu lagi. Saya masih punya obsesi untuk mengunjungi Phuket, bersafari gajah dan keluyuran malam hari naik tuktuk. :)

Mau jalan-jalan ke Jepang gratis? Ayo ikutan program Dream Destination Japan. 3 Petualang yang beruntung akan berangkat ke Jepang dan memperebutkan Grand Prize Rp 10 juta. Ayo daftar di sini.
 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        

Redaksi: redaksi[at]detik.travel
Moderator: admin[at]detik.travel
Media Partner: promosi[at]detik.com 
Iklan: sales[at]detik.com
 
Must Read close

Follow us on @detiktravel

Contact Us

redaksi[at]detik.travel
admin[at]detik.travel
sales[at]detik.com