Inilah 13 Langkah Prosesi Chio Tau Khas Tionghoa

Peserta yang mulai bersiap  (dok.Sastri/detikTravel)

Peserta yang mulai bersiap (dok.Sastri/detikTravel)

Foto Selengkapnya:

Chio Tau bukanlah sembarang upacara bagi warga Tionghoa. Tradisi sekali umur hidup ini merupakan titik balik dari dunia remaja dan dunia dewasa di hadapan Tuhan Semesta Alam. Acara yang kental dengan unsur budaya.

Upacara Chio Tau, atau Shang Dou dalam bahasa Mandarin, secara harfiah berarti menata kepala atau menata rambut. Sayangnya, upacara tradisional Tionghoa ini sudah hampir punah karena modernisasi, ekonomi, dan lingkungan. Oleh karena itulah, Mal Ciputra menghidupkan lagi tradisi ini lewat Chio Tau Massal. Acara ini sekaligus menutup perayaan Imlek di Mal Ciputra.

"Semua pasangan sudah menikah, bahkan ada yang sudah punya anak. Para mempelainya berusia antara 20-50 tahun,"  kata Ferry Irianto, General Manager Mal Ciputra Jakarta.

Bagi masyarakat Tionghoa, belum melakukan Chio Tau berarti belum sah secara tradisi. Ada banyak alasan mengapa mereka tidak melakukan Chio Tau, salah satunya karena keterbatasan biaya.

Betapa tidak, upacara ini memiliki total 13 langkah yang harus dilakukan berurutan. Berikut prosesi upacara Chio Tau:

1. Penghormatan di meja sam kai (leluhur)

Awal upacara, orangtua mempelai memasang lilin di meja Sam Kai, di depan gantang yang berisi beras dan perangkat yang diletakkan di sebuah meja. Dilanjutkan dengan memasang dupa (hio) oleh orang tua agar upacara berkalan lancar. Pengantin lalu digandeng orangtua di tangan kirinya. Pengantin juga ikut memasang hio di meja Sam Kai.

2. Penyisiran rambut

Pengantin duduk di atas kursi yang diletakkan di atas tampah. Naik tampah berarti pengantin memasuki dunia rumah tangga sehingga ia harus hidup mandiri. Pengantin pria mengenakan baju putih dan perempuan mengenakan atasan putih dengan bawahan kain onde. Rambut pengantin disisir sebanyak 3 kali dengan ditarik lurus. Lalu adik paling kecil dari mempelai wanita menyisir dengan harapan 'panjang jodoh, panjang umur, dan panjang rejeki'.

3. Pemberian uang pelita

Pengantin menerima uang pelita yang digunakan untuk modal berdagang bagi keluarga barunya. Uang ini diletakkan di dalam gantang berisi beras.

4. Pemakaian baju pengantin

Pengantin perempuan akan dipasang kembang goyang 25 bunga dan burung Hong sebagai lambang putri raja. Hal ini dimaksudkan agar mempelai menjadi ratu sehari. Pengantin wanita lalu dipasangkan kun (rok) warna hijau menutupi celana panjang. Pengantin pria dipakaiakan baju Chio Tau seperti baju pejabat Mandarin di jaman kekaisaran.

5. Pai Ciu

Orangtua memberikan ciu (arak beras) kepada anak agar berani tumbuh dan bernyali menghadapi kehidupan dalam keluarga baru.

6. Makan 12 mangkuk

Pengantin harus memakan hidangan dalam 12 mangkuk kecil sebagai simbol makanan tiap bulan sepanjang tahun. Sepasang bocah pendamping mendampingi proses ini.

7. Makan nasi melek

Ini adalah simbol suapan terakhir dari ibu yang memberi makan terakhir kali kepada pengantin. Ayahnya juga menyuguhkan minuman terakhir. Arti dari proses ini adalah bahwa tugas orang tua telah selelsai dalam membimbing anaknya.

8. Pemasangan oto dan kerudung

Pengantin perempuan memakai oto (kantong yang diikat di perut) yang berisi buku Tong Shu, angpao, dan kue. Hal ini berarti orang tua membekali anak perempuannya dengan pengetahuan dan panganan.
Pemasangan kerudung hijau melambangkan pelepasan orangtua untuk diserahkan pada pengantin lelaki.

9. Sawer

Pengantin disawer oleh kedua orang tua berupa beras kuning dan uang logam. Itu bertujuan agar pengantin mendapat berkah yang melimpah.

10. Sembahyang kawin

Pengantin melakukan sembahyang kawin dengan pemasangan dupa di meja Sam Kai untuk berterimakasih kepada tuhan.

11. Soja pengantin

Pengantin lelaki bersoja 3 kali menghormati si perempuan yang dalam posisi duduk. Hal ini melambangkan niat baik dan penghormatan bagi teman hidup. Dilanjutkan dgn membuka kerudung hijau yg dikenakan pengantin perempuan dgn menggunakan kipas yg dipegang oleh pengantin pria. Pengantin pria lalu melepas oto yg dipasang di pengantin perempuan, sementara pengantin perempuan membuka satu kancing baju pengantin lelaki. Hal ini sebagai lambang dimulainya kehidupan rumah tangga.

12. Suap-suapaan pengantin

Saling suap-suapan onde, buah atap (kolang kaling), kue lapis, dan agar-agar. Makna onde adalah kehidupan rukun, buah atap adalah mantap menapaki hidup, kue lapis adalah rejeki berlapis, agar-agar adalah lambang perkawinan tetap segar.

13. Teh Pay

Kedua pengantin menyuguhkan teh pada orang tua, yang dibalas dengan pemberian angpao sebagai bekal hidup. Dengan ini, penikahan Chio Tau telah sah dilakukan.

Sungguh prosesi yang panjang. Namun, di setiap prosesi ada pesan dan makna penting yang tersirat.

Punya foto traveling keren di daerah ini, share disini yuk!     Klik
Journalist
Oleh: Sri Anindiati Nursastri
Jawa Barat

On my way to make traveling as a prime needs.

Related Stories

Kirim komentar anda:

Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

Facebook Login Twitter Login detikID Login
Redaksi: redaksi[at]detik.travel
Web Admin: admin[at]detik.travel
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com

Cari Penawaran Terbaik di Sini