detiktravel

18 Jam yang Menegangkan di Paris

Lalu Firman B - d'Traveler - Selasa, 14/02/2012 10:34:00 WIB
detikTravel Community -  

Seringkali dalam perjalanan dinas, kita transit ke suatu kota yang sebenarnya sangat menarik untuk dikunjungi. Maka jadilah petualangan di Paris, Prancis yang bikin deg-degan dengan waktu hanya 18 jam.

Menjelajahi kota saat transit, terlebih lagi bila kita menyukai fotografi atau punya hobbi narsis di Facebook, pastinya akan seru dan jadi kenangan yang tidak mudah kita lupakan. Supaya jiwa petualangan saya bisa terpenuhi, dan juga hobbi saya bisa tersalurkan, biasanya saya akan menjadi turis hemat atau lebih kerennya disebut backpacker.

Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan. Pertama, soal paspor. Kita harus memiliki paspor yang masih valid minimal 6 bulan sebelum batas waktunya. Kalau paspor sudah mendekati masa expired, sebaiknya segera saja buat paspor baru, usahakan 2-3 bulan sebelum keberangkatan. Bawa paspor kemanapun kita pergi dan simpan paspor di tempat yang aman seperti tas kecil.

Yang kedua adalah visa. Jika kita akan mengunjungi atau transit di sebagian besar negara ASEAN, umumnya kita tidak perlu visa, kecuali Kamboja dan Myanmar. Biasanya pengurusan visa membutuhkan waktu 2-3 minggu, tergantung negara yang kita tuju. Umumnya yang paling sulit bila kita bermaksud ke  Eropa ataupun Amerika Serikat, karena mereka akan melihat kemampuan finansial kita di Bank. Bila kita memiliki saudara di luar negeri, kita tinggal membutuhkan Surat Jaminan dari saudara kita tersebut untuk menjamin kehidupan kita selama kunjungan.

Visa juga terdiri dari beberapa jenis, antara lain visa transit, visa turis, visa student dan visa pekerja. Untuk visa transit, dibutuhkan bukti tiket penerbangan lanjutan. Hal itu karena visa transit hanya berlaku 1 hari.

Hal ketiga adalah informasi perjalanan. Informasi dapat kita peroleh langsung di bandara tempat kita transit atau pun di tempat kedatangan penumpang. Di negara-negara maju, umumnya kita dapat memperoleh alat transportasi langsung semisal kereta ataupun bis yang langsung dari Bandara ke pusat kota. Atau, kita bisa membeli tiket city tour yang dapat membawa kita ke seluruh lokasi terbaik di kota tersebut selama satu hari penuh. Namun, perhatikan betul jam operasi bus wisata tersebut.

Hal ini pernah terjadi pada saya sewaktu transit 18 jam di Paris. Waktu transit yang sangat lama tersebut saya manfaatkan untuk mengunjungi kota Paris. Kebetulan pesawat yang saya tumpangi dari Kamerun (Air France) mendarat di Paris pukul 6.30 pagi. Jadi setelah cuci muka, dan bersih-bersih seadanya, sekitar pukul 7.30 saya keluar untuk menikmati Kota Paris.

Untuk menuju Kota Paris dan dalam rangka menghemat kocek, saya menggunakan bis tur keliling kota seharga 29 Euro atau sekitar Rp 377.000. Memang kesannya mahal, tapi kalau kita bandingkan dengan alat transportasi lain di Eropa, nilainya termasuk murah.

Karena booklet berbahasa Prancis, jadi saya hanya memperhatikan sedikit informasi yang tertulis disitu 'Tout le Jour' artinya sepanjang hari atau satu hari penuh. Saya pikir bis tersebut beroperasi ya setidaknya sampai dengan pukul 21.00 malam. Maka saya yang juga hobbi fotografi berencana keliling kota Paris sepuasnya dan memotret semua tempat-tempat menarik di sana.

Sekitar pukul 9.00 pagi, barulah saya bisa keliling kota Paris. Mulai dari gerbang kota Paris, Arc De Triomphe, lanjut ke museum yang menarik seperti Musee De Louvre dan tujuan akhir berhenti di Menara Eiffel. Karena pesawat saya menuju ke Indonesia akan boarding sekitar pukul 22.30 waktu Paris, saya merencanakan pukul 20.00 saya sudah harus kembali ke Airport dan pukul 19.00 malam saya sudah harus menyudahi tur saya di Eiffel.

Tapi karena keinginan saya memotret menara Eiffel pada malam hari, saya nekat menyudahi tur pukul 19.30. Tapi sayangnya, sampai dengan jam tersebut matahari masih bersinar seperti jam 17 sore. Ternyata matahari baru akan tenggelam pukul 21.00 malam, karena saat itu musim panas. Akhirnya pukul 19.30 saya memutuskan untuk menunggu bus di halte yang telah ditentukan. Sampai pukul 20.00 bus tidak juga datang.

Saya mulai cemas, karena jika tidak segera ke Airport, kemungkinan saya bisa terlambat. Setelah baca brosur berkali-kali baru deh mengerti kalau batas waktu bus hanya sampai pukul 19.00, saya terlambat sekitar 30 menit. Oh my God! Saya mulai panik. Saya bisa naik taksi, tapi biayanya bisa lebih dari 100 Euro. Alternatif kedua, naik bis. Konsekuensinya, kalau salah naik bis malah semakin jauh dari Bandara. Alternatif ketiga adalah naik kereta bawah tanah, tapi berdasarkan peta, kereta bawah tanah lumayan jauh. Alhamdulillah saya melihat Bajaj di sekitar menara Eiffel.

Bajaj, apa nggak salah? Mungkin Anda juga bingung, bagaimana mungkin Bajaj bisa ada di Kota Paris. Rupanya memang baru 3 bulan Bajaj hadir di menara Eiffel sebagai sarana transportasi untuk turis. Setelah negosiasi harga, akhirnya didapat kesepakatan 25 Euro ke stasiun kereta terdekat. Ternyata di dalam Bajaj full music, lapang, dan tidak berasap. Ditambah lagi, di depan supir juga ada GPS dan yang lebih menarik, di bangku penumpang, ada shisa, alat hisap seperti rokok yang berasal dari timur tengah. Jika ingin merokok herbal dengan aroma terapi, sambil menikmati keliling kota Paris, turis bisa naik Bajaj tersebut.

Kebetulan supir Bajaj-nya juga sangat ramah. Dia berasal dari Aljajair, saya lupa namanya, tapi dia sangat ramah. Karena saya ceritakan keadaan saya untuk segera bisa sampai bandara, akhirnya dia langsung menancap gas Bajaj-nya. Rasanya seperti di film-film yang harus mengejar sesuatu dengan menggunakan Bajaj. Seru, aneh, tegang bercampur aduk di pikiran saya. Yang lebih aneh lagi, ternyata banyak orang Paris yang heran melihat Bajaj. Naik Bajaj di Kota Paris, itu pengalaman yang luar biasa.

Setelah sekitar 15 menit, akhirnya saya sampai ke stasiun subway terdekat. Setidaknya itu yang stasiun terdekat yang saya tahu. Langsung saja saya membayar Bajaj tersebut dan bergegas membeli tiket kereta menuju Airport.

Sedikit sial bagi saya, rupanya jalur kereta menuju airport sedang ada perbaikan. Waktu menunjukkan pukul 21.00 malam. Wah saya jadi semakin tegang. Kalau ketinggalan pesawat, saya harus membeli tiket yang baru sekitar Rp 15 juta. Oh my God!

Saat saya panik seperti itu, saya melihat seorang pria membawa tas besar yang sepertinya juga akan ke bandara. Namanya Thaddee, pegawai perusahaan mobil Peugeot yang jabatannya lumayan karena membawahi wilayah Amerika Latin. Ternyata benar, dia bermaksud ke Bandara untuk terbang ke Brasil. Saya bertanya bagaimana cara cepat mencapai bandara. Akhirnya dia menginformasikan agar kita menuju stasiun "Gard du Nord". Tapi saya membeli tiket hanya sampai stasiun pertama yang saya lupa namanya. Dia menyarankan agar saya bilang saja kalau saya tidak tahu dengan menggunakan bahasa Inggris. Dia bilang, polisi Prancis umumnya tidak bisa berbahasa Inggris, dan pusing kalau diajak berbicara bahasa Inggris, hehehe.

Akhirnya sampai juga saya ke stasiun yang dimaksud. Alhamdulillah, Allah Maha Besar, saya dimudahkan dan tidak ada pemeriksaan polisi sampai saya naik ke dalam bis menuju Airport. Setelah sekitar 15 menit, akhirnya saya sampai ke bandara dan langsung bergegas masuk ke gate tempat keberangkatan.

Sesampainya di gate, rupanya pas waktunya pesawat boarding. Subhanallah, alhamdulillah, wa la illaha illallah, Allahu Akbar! Saya hanya bisa bersyukur saya tiba tepat waktu. Bila saya terlambat sekian menit saja, pastinya saya sudah ketinggalan pesawat.

Itulah pelajaran, pentingnya kita mengetahui secara pasti informasi yang diperlukan saat kita berpergian. Terlebih lagi bila kita berpergian sendiri dan tidak ada teman yang dapat menjadi pemandu selama di perjalanan.

Cari informasi sebanyak-banyaknya melalui internet, dan bila ada keluarga atau teman yang tinggal di tempat yang akan kita tuju, alangkah lebih baiknya bila kita bisa meminta bantuan mereka untuk menjadi penunjuk jalan. Itulah sedikit tips dari saya dan semoga bisa membantu rekan-rekan semua. Selamat berpetualang!

Mau jalan-jalan ke Jepang gratis? Ayo ikutan program Dream Destination Japan. 3 Petualang yang beruntung akan berangkat ke Jepang dan memperebutkan Grand Prize Rp 10 juta. Ayo daftar di sini.
 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        

Redaksi: redaksi[at]detik.travel
Moderator: admin[at]detik.travel
Media Partner: promosi[at]detik.com 
Iklan: sales[at]detik.com
Artikel
Terbaru
 
Must Read close

Follow us on @detiktravel

Contact Us

redaksi[at]detik.travel
admin[at]detik.travel
sales[at]detik.com