detiktravel

Omed-omedan: Cium, Peluk, Siram, dan Tarik!

I Putu Sukmana Ghitha - d'Traveler - Sabtu, 24/03/2012 16:15:00 WIB
detikTravel Community -  

Setelah Nyepi, muda-mudi di Desa Sesetan, Bali yang belum menikah melakukan tradisi Omed-omedan. Peluk, cium, siram, dan tarik! Sampai semua mendapat giliran.

Omed-omedan..Saling kedengin, saling gelutin. Diman-diman.... 

Omed-omedan ..Besik ngelutin, ne len ngedengin . Diman-diman....

Seperti penggalan lirik lagu di atas tradisi unik Omed-omedan yang dilakukan oleh muda-mudi Desa Sesetan, Denpasar, Bali, digambarkan. Kebersaamaan dan kekeluargaan yang mereka rasakan tercurah dengan "gelut" yang berarti saling berpelukan, "diman" atau mengungkapkan rasa kasih sayang dengan ciuman, "siam" yang berarti siram, dan "kedengin" yang berarti tarik menarik.

Omed-omedan dalam bahasa Indonesia bisa diartikan "tarik-menarik". Tradisi ini dilakukan sehari setelah Hari Raya Nyepi oleh para muda-mudi penduduk desa yang masih berumur 17-30 tahun dan belum menikah. Tradisi Omed-omedan ini bertujuan untuk memperkuat rasa Asah, Asih, dan Asuh antar warga, khususnya warga Banjar Kaja, Desa Sesetan.

Para warga mengawali kegiatan Omed-omedan dengan sembahyang bersama di Pura. Kemudian melanjutkan dengan pementasan Barong Bangkung Jantan dan Betina yang saling bertemu di depan pelataran Pura. Beberapa saat kemudian barulah peserta memasuki pelataran Pura.

Peserta yang datang terbagi menjadi dua kelompok, yaitu laki-laki dan perempuan. Posisi laki-laki dan perempuan pun dibuat berhadapan. Ketika musik telah dimainkan, seorang sesepuh desa memberikan aba-aba agar kedua kelompok saling mendekat. Dan, begitu mendekat peserta terdepan dari masing-masing kelompok akan saling gelutin kemudian diman, siam, dan peserta lainnya ngedengin. Begitulah ritual ini seterusnya sampai seluruh peserta mendapatkan giliran. 

Konon Omed-omedan muncul dari inisiatif warga Kerajaan Puri Oka yang terletak di Denpasar Selatan untuk melakukan sebuah permainan tarik-menarik. Lama-kelamaan permainan ini semakin menarik sehingga berubah menjadi saling rangkul.

Akibat permainan tersebut suasana di kerajaan pun menjadi gaduh dan membuat raja yang sedang sakit keras marah-marah dan mendatangi warganya untuk menghentikan permainan tersebut. Saat kembali kembali ke kerajaan, ternyata penyakit sang Raja tiba-tiba sembuh. Sejak itulah sang Raja memerintahkan agar Omed-omedan dilaksanakan setiap tahun saat menyalakan api pertama atau Ngembak Gni.

Tradisi ini pun sempat berhenti dilakukan oleh masyarakat Desa Sesetan. Namun, beberapa saat setelah dihentikan terjadi sebuah kejadian aneh. Dimana dua ekor babi saling berkelahi di depan Pelataran Pura. Warga pun menganggap kejadian tersebut merupakan sebuah pertanda buruk. Sejak saat itulah Omed-omedan kembali dilaksanakan.



 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        

Redaksi: redaksi[at]detik.travel
Moderator: admin[at]detik.travel
Media Partner: promosi[at]detik.com 
Iklan: sales[at]detik.com
Most
Popular
 
Must Read close

Follow us on @detiktravel

Contact Us

redaksi[at]detik.travel
admin[at]detik.travel
sales[at]detik.com