Menyusuri Bangunan Rasa Eropa di Parijs van Java

Sri Anindiati Nursastri - d'Traveler - Selasa, 24/04/2012 12:52:48 WIB
detikTravel Community -  

Eksistensi pemerintah kolonial Belanda sejak tahun 1920-an membuat Kota Bandung, Jawa Barat, punya banyak bangunan gaya Eropa. Sisi romansa kota ini telah ada sejak lama. Para elite Belanda menyebutnya 'Parijs van Java'.

Semenjak para elite Belanda ini menginjakkan kakinya, mereka telah jatuh cinta. Romansa Kota Bandung begitu kentara, dengan udara sejuk dan pendar cahaya dari lampu-lampu jalanan. Mereka membagi wilayah jadi dua, satu di bagian utara dan satu lagi di bagian selatan. Di selatan, biarlah pribumi tinggal dengan nyaman. Sementara di bagian utara, mereka membangun peradaban.

Kantor pemerintahan, hotel, dan rumah-rumah mewah dibangun dengan gaya art deco. Art deco itu sendiri adalah representasi arsitektur bangunan Eropa. Ini sekaligus mewakili negara asal mereka yaitu Belanda, pun ibukotanya yaitu Den Haag.

Tapi, alih-alih Den Haag, mereka lebih merasa Kota Bandung punya daya hipnotis yang sama dengan Kota Paris di Prancis. Alhasil sebutan Parijs van Java (Paris di Jawa) melekat kuat hingga saat ini.

Banyaknya bangunan bergaya Eropa itulah yang menjadikan Bandung sebagai kota warisan arsitektur art-deco ternama di dunia. Fakta itulah yang detikTravel temukan di situs resmi pariwisata Indonesia, IndonesiaTravel, Kamis (24/4/2012).

Puluhan tahun berlalu, generasi silih berganti, dan Bandung pun berbenah diri. Masjid Agung Bandung dirombak habis. Beberapa area diperbaharui. Regenerasi terjadi pada Jalan Riau dan Jalan Braga, yang sekarang jadi wadah ekspresi kreatifitas mojang-jajaka. Tapi, Anda masih bisa menyaksikan romantisme Kota Bandung lewat kemolekan bangunan-bangunan Eropanya.

Cara paling baik untuk memulainya, adalah menggunakan kereta api sebagai alat transportasi menuju Bandung. Stasiun Bandung yang dibangun pada tahun 1884 ini akan menyambut Anda. Lucunya, stasiun ini punya dua wajah. Gerbang baru adalah representasi dunia elite Belanda, dengan pilar-pilar putih dan jendela-jendela kaca yang menjulang. Sementara gerbang lama yang terletak di bagian belakang, mewakili wajah pribumi. Wajah yang sama dengan stasiun-stasiun tua seperti Ambarawa di Magelang atau Sawahlunto di Bukittinggi.

Sisi sosialita para elite Belanda ini akan Anda temukan di dua hotel yakni The Savoy Homann dan Grand Hotel Preanger. Bangunan The Savoy Homann diprakarsai oleh Albert Frederick Aalbers, yang juga merancang Denis Bank (sekarang Bank Jabar) di Jalan Braga. Hotel ini punya bentuk persis seperti bangunan-bangunan di Kota Amsterdam, dipercantik dengan lekuk di salah satu sudutnya.

Sementara Grand Hotel Preanger dirancang oleh arsitek keturunan Belanda-Jawa bernama Charles Prosper Wolff Schoemaker. Ia adalah dosen arsitektur di Bandoengsche Technische Hoogeschool (sekarang menjadi Institut Teknologi Bandung). Ketika mulai dibangun pada 1929, Schoemaker meminta pertolongan salah satu mahasiswanya sebagai juru gambar. Ialah Soekarno.

Ya, Grand Hotel Preanger adalah karya seni Presiden pertama RI.

Beberapa bangunan lain yang diasosiasikan dengan nama Schoemaker adalah Gedung Konferensi Asia Afrika (KAA) yang menyatu dengan Societeit Concordia Club House (sekarang menjadi Gedung Merdeka). Selain itu, Schoemaker sangat terkenal dengan karyanya yakni Vila Isola, yang terletak di Jl Setiabudi.

Dibangun pada 1933, Vila Isola adalah rumah kediaman seorang elite Belanda. Bangunan warna putih ini juga punya taman di depannya, lengkap dengan air mancur yang cantik dan pepohonan yang meneduhkan. Mengutip dari situs IndonesiaTravel, Vila Isola dikenal sebagai "kontribusi paling besar milik Indonesia terhadap dunia art-deco". Arsitektur bangunannya sangat apik, dengan gaya art-deco yang anggun dan lekukan di banyak tempat.

Dari sekian banyak bangunan kolonial, mungkin yang paling menarik dan tersohor adalah Gedung Sate. Gedung yang sekarang ditempati Pemerintah Kota Bandung ini rampung pada tahun 1920. Dinamakan begitu karena antena di atasnya mirip dengan tusukan sate. Gedung ini punya gaya neo-klasik, dengan gabungan elemen arsitektur gaya barat dan timur.

Bandung masih punya ratusan bangunan kolonial lain yang tersebar di seluruh penjuru. Mulai dari kompleks di sekitar Gedung Sate, Jalan Braga, Bank Indonesia, hingga rumah-rumah besar sepanjang Jl Ir H Juanda (lebih dikenal sebagai Jalan Dago). Oleh karena itu saat berkunjung ke Parijs van Java, jangan lupa nikmati sedikit 'rasa Eropa' di dalamnya.

Foto Terkait
 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        

Redaksi: redaksi[at]detik.travel
Moderator: admin[at]detik.travel
Media Partner: promosi[at]detik.com 
Iklan: sales[at]detik.com
Most
Popular
Travel
Forum
Komodo Tours Indonesia
Oleh : balinter
 

Follow us on @detiktravel

Contact Us

redaksi[at]detik.travel
admin[at]detik.travel
sales[at]detik.com