Cerita Mudik d'Traveler

Pantura, Jalur Mudik Kaya Destinasi Wisata

Dimas Darmawansyah - d'Traveler - Selasa, 07/08/2012 12:35:00 WIB
detikTravel Community -  

Perjalanan mudik ke Pulau Jawa bukanlah hal yang biasa. Untuk membunuh kejenuhan selama perjalanan, singgah ke destinasi wisata sepanjang rute Pantura jadi alternatif yang menyenangkan dan seru.

Berangkat

Kami yang bertujuan mudik ke Surabaya, Jawa Timur, memilih jalur Pantura sebagai rute mudik tahun lalu. Pukul 22.00 WIB kami berangkat dari Bandung. Perjalanan malam pun menjadi pilihan kami. Walaupun, lebih berisiko kami merasa nyaman karena kondisi jalan raya yang relatif sepi dan lancar.

Tepat pada pukul 09.30 WIB keesokan harinya, kami tiba di Semarang, Jawa Tengah. Rasa lelah dan jenuh mulai menghantui pikiran kami. Untuk membunuh semua kejenuhan yang ada, mulailah kami mencari destinasi wisata yang belum pernah kami kunjungi sebelumnya di Semarang.

Jadilah kami memilih Kuil Sam Poo Kong sebagai destinasi. Kuil bersejarah ini merupakan tempat singgah Laksamana Cheng Ho, seorang penjelajah dari China yang beragama Islam.

Destinasi ini memiliki daya tarik melalui suasana dan arsitektur di sekitar kuil yang menyerupai kuil-kuil di negeri China. Kuil ini pun memiliki andil dalam perkembangan sejarah tentang pengaruh terhadap perkembangan Islam dan Tionghoa di tanah Jawa.

Setelah puas menikmati suasana Kuil Sam Poo Kong, kami pun melanjutkan perjalanan. Kali ini, kami menuju Yogyakarta melalui Magelang. Di Yogyakarta kami singgah sejenak di kawasan wisata Malioboro hingga sore hari. Tanpa menyewa hotel kami hanya makan, berkeliling, dan beristirahat.

Tidak terasa, 36 jam kami tempuh dalam perjalanan menuju Surabaya. Pukul 10.00 WIB hari berikutnya kami pun sampai di Surabaya.

Pulang

Setelah beberapa hari menikmati keindahan kampung halaman, kami pun harus rela untuk kembali ke Bandung. Jalur Pantura juga menjadi pilihan untuk rute pulang. 

Sampai saatnya matahari terbenam, kami berhenti sejenak di salah satu tepi pantai di Tuban, Jawa Timur. Menikmati sejenak sunset yang indah, lalu kembali melanjutkan perjalanan.

Sama seperti perjalanan ketika berangkat, kami sama sekali tidak berhenti untuk sekadar menyewa hotel, melainkan terus berjalan estafet. Sampai akhirnya tiba di Tegal, Jawa Tengah, pada pukul 09.30 WIB hari berikutnya. Tak sengaja kami melewati salah satu papan yang bertuliskan "Pantai Alam Indah". Ini pun membuat kami tertarik untuk berhenti sambil beristirahat sejenak. Cukup dengan membayar biaya parkir mobil, kami sudah dapat menikmati keindahan panorama pantai ini.

Sesuai namanya, Pantai Alam Indah, Tegal, Jawa Tengah ini memang sangat indah. Pasir pantainya memang tidak putih, tetapi ombaknya yang relatif kecil cukup aman untuk sekadar bermain. Panoramanya pun tak kalah cantik dengan pantai lainnya yang berada di sepanjang pantai utara Pulau Jawa. Hamparan laut yang luas dan berpadu dengan birunya langit, mampu memanjakan mata.

Selain wisata panorama pantai, destinasi ini dilengkapi dengan infrastruktur pendukung seperti kolam renang dan sebagainya. Nah, ada lagi yang sayang untuk dilewatkan, yaitu Monumen Bahari. Ya, Tegal memang terkenal dengan julukan Kota Bahari.  Monumen ini terletak di dalam kompleks wisata Pantai Alam Indah. Lokasi ini terdiri dari beberapa koleksi monumen, di antaranya monumen berupa pesawat tempur dan benda-benda penting dari angkatan laut.

Puas berkeliling di kawasan Pantai Alam Indah, kami pun bergegas untuk kembali melanjutkan perjalanan. Cirebon, Jawa Barat, menjadi pemberhentian kami selanjutnya. Sekitar pukul 12.00 WIB kami sudah tiba di Kota Udang tersebut.

Di sini kami mencoba mencari lagi destinasi wisata yang menarik, dan wisata sejarah Keraton Kasepuhan Cirebon, berhasil mencuri perhatian kami. Keraton ini merupakan peninggalan keturunan dari Sunan Gunung Djati. 

Sama seperti keraton pada umumnya, di dalam bangunan bersejarah ini terdapat singgasana raja dan lain sebagainya. Bagian lain yang menarik di keraton ini adalah museum yang menyimpan benda-benda yang memiliki hubungan dengan sejarah Islam dan Sunda, salah satunya adalah kereta kencana yang dikeramatkan.

Kereta Kencana itu bernama Kereta Singa Barong. Ditemani tour guide, kami mendapat banyak pengetahuan mengenai sejarah keraton ini. Menurut penuturan tour guide itu, keraton ini masih berhubungan dengan cerita Laksamana Cheng Ho yang kuilnya kami datangi di Semarang saat berangkat mudik. Entah hanya kebetulan, atau memang sudah ada yang merencanakan, yang pasti kami benar-benar merasa takjub.

Sembari menikmati sisa-sisa perjalanan, tak terasa kami pun sampai di penghujung perjalanan. Sekitar pukul 20.30 WIB, kami tiba dengan selamat di Bandung.

Apa yang didapat dari perjalanan kali ini? Ternyata banyak sekali destinasi wisata yang berada di sepanjang jalur Pantura. Tak ada salahnya bila terlebih dahulu kita mengeksplorasi tempat-tempat tersebut. Hitung-hitung mencari tempat istirahat yang nyaman dan asyik.



Foto Terkait
 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        

Redaksi: redaksi[at]detik.travel
Moderator: admin[at]detik.travel
Media Partner: promosi[at]detik.com 
Iklan: sales[at]detik.com
Artikel
Terbaru
 

Follow us on @detiktravel

Contact Us

redaksi[at]detik.travel
admin[at]detik.travel
sales[at]detik.com