detiktravel

Buyutan, Pantai Tersembunyi di Kota Seribu Gua

Sidiq Bachtiar - d'Traveler - Jum'at, 07/09/2012 12:20:00 WIB
detikTravel Community -  

Siapa sangka 'Kota Seribu Gua' Pacitan, Jawa Timur ternyata punya pantai seindah lukisan. Destinasi wisata bernama Pantai Buyutan ini masih tersembunyi dan perawan!

Bulan Agustus lalu, saya bersama tiga orang teman yaitu Yudi, Budi, dan Mitha, melakukan perjalanan ke sebuah pantai yang masih sangat tersembunyi. Pantai tersebut bernama Pantai Buyutan yang terletak di sekitar Desa Kalak, Pacitan, Jatim. Pantai dengan panorama seindah lukisan ini berada di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Berada di sebelah selatan Pulau Jawa, garis pantainya menghadap langsung ke Samudera Hindia. Selain gua-gua eksotis, pantai-pantai di Pacitan juga tak kalah indah, seperti contohnya Pantai Buyutan ini.

Kami berangkat dari Solo pukul 13.00 WIB, setelah belanja keperluan logistik untuk kemping. Dengan menggunakan dua sepeda motor, kami langsung menyusuri jalan ke arah Sukoharjo dan Wonogiri.

Dari Wonogiri kami terus ke arah Pacitan melalui daerah Baturetno. Dari sini kami hanya tinggal mengikuti jalan, sampai melintasi gapura 'Selamat Datang di Kota Pacitan'.

Gapura ini merupakan pembatas antara Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dari gapura ini, kami mengikuti jalan raya sampai tiba di daerah Punung dan menemui sebuah pertigaan. Selanjutnya, tinggal belok ke arah Gua Gong dan Desa Kalak. Dari pertigaan ke Desa Kalak, Pantai Buyutan masih berjarak sekitar 15 km.

Setelah tiba di pasar Desa Kalak, kami harus bertanya terlebih dahulu kepada penduduk soal jalan menuju Pantai Buyutan. Ya, karena petunjuk jalan untuk sampai ke pantai ini masih sangat minim.

Ternyata, dari pasar kami harus kembali belok kanan dan belok kiri sekitar 100 meter kemudian. Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, di sinilah kami melihat plang bertuliskan Pantai Buyutan yang mengarah ke kiri.

Desa Kalak merupakan desa terakhir sebelum sampai di pantai. Butuh waktu sekitar 4 jam perjalanan dari Solo untuk sampai di pantai ini. Jalannya memang sudah mulus beraspal. Namun, minimnya penunjuk jalan dan letaknya yang tersembunyi mengharuskan kami bertanya kepada penduduk sekitar.

Tiba di rumah terakhir desa ini, lagi-lagi kami harus bertanya guna menitipkan sepeda motor. Penduduk sekitar menyarankan agar kami menitipkan motor di rumah kepala desa jika ingin bermalam atau kemping di pantai. Soalnya, Pantai Buyutan belum memiliki fasilitas wisata apa pun.

Setelah meminta izin kepada Kepala Desa Kalak, kami segera meninggalkan desa dan menuju pantai. Saat itu kami tidak dipungut biaya retribusi apapun untuk bermalam di Pantai Buyutan. Oh iya, kami juga membeli kelapa muda di rumah seorang penduduk dengan harga Rp 10.000 per empat buah! Lumayanlah untuk buka puasa, karena saat itu bulan Ramadan.

Butuh waktu kurang lebih 30 menit untuk sampai di Buyutan sambil berjalan kaki. Panorama yang ditawarkan sepanjang perjalanan sangatlah memesona. Saat kami melewati sebuah persawahan, terlihat puluhan kera ekor panjang yang berlarian pergi saat melihat kami. Sepertinya tempat tinggal mereka adalah hutan yang berada di timur Pantai Buyutan.

Jalan ini berakhir di sebuah jurang, dan di bawah jurang inilah letak Pantai Buyutan. Untuk mencapai pantai, kami harus turun melewati jalan tanah yang curam dan lagi-lagi memerlukan perjuangan ekstra. Tapi, kami tahu setelah ini masih ada pemandangan istimewa yang menanti. Sebab, dari atas saja sudah terlihat keindahan Pantai Buyutan dengan pasir putihnya.

"Subhanallah," hanya kata itu yang saya ucapkan saat berhadapan langsung dengan paras cantik Buyutan. Keindahan Pantai Buyutan ini seperti surga yang tersembunyi.

Tak ada penghuni di pantai ini dan tak ada wisatawan lagi selain kami. Hari sudah menjelang malam saat kami tiba. Bergegaslah kami membuat tenda dan mengumpulkan kayu bakar. Malam itu, Pantai Buyutan serasa menjadi milik kami.

Kami kemping di atas pasir putih tepi pantai. Nyala terang api unggun menambah indah suasana malam itu yang juga berpadu dengan bulan purnama. Dalam suasana syahdu itu pun saya teringat lagu Di Pantai Kala Rembulan yang dipopulerkan oleh Netral, “Indah... Di pantai di kala rembulan...”

Saya sendiri, memilih tidur di luar tenda. Merasakan tiupan angin pantai, mendengarkan deru ombak yang bergemuruh menjadi senandung pengantar tidur malam itu.

Walau udara dingin masih menusuk kulit, pagi harinya kami seperti tak kuasa menolak rayuan ombak untuk bermain air. Lembutnya pasir putih yang tersapu ombak membuat kami nyaman berlari. Namun, kami juga harus berhati-hati karena di pantai banyak terdapat ubur-ubur.

Beranjak siang langit semakin biru, pemandangan Pantai Buyutan juga semakin cantik meski panas matahari mulai membakar kulit. Setelah puas menikmati Pantai Buyutan, pukul 12.00 WIB kami harus meninggalkan pantai yang eksotis itu. Suatu saat kami akan kembali dan kembali bercumbu dengan kecantikan Buyutan.

 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        

Redaksi: redaksi[at]detik.travel
Moderator: admin[at]detik.travel
Media Partner: promosi[at]detik.com 
Iklan: sales[at]detik.com
 

Follow us on @detiktravel

Contact Us

redaksi[at]detik.travel
admin[at]detik.travel
sales[at]detik.com