detiktravel

Rasulan, Pesta Rakyat Paling Seru di Gunungkidul

Arwan - d'Traveler - Senin, 03/12/2012 13:50:00 WIB
detikTravel Community -  

Tidak hanya punya pantai-pantai cantik dan perawan, Gunungkidul, DIY juga punya tradisi unik yang dikenal dengan rasulan. Mulai dari kirab budaya sampai makanan gratis bisa wisatawan nikmati dalam pesta rakyat Gunungkidul ini.

Rasulan adalah salah satu tradisi khas masyarakat Gunungkidul, DIY. Salah satu kearifan lokal yang patut dilestarikan. Tradisi rasulan yang juga dikenal dengan bersih dusun atau desa sudah ada sejak zaman dahulu kala.

Pada awalnya, rasulan adalah kegiatan para petani sebagai bentuk perwujudan syukur setelah masa panen tiba. Kemudian, rasulan bisa dilaksanakan jauh sesudah masa panen atau malah belum selesai panen.

Ya, hal ini terjadi karena faktor musim yang selalu berubah, serta perhitungan Jawa untuk menemukan 'hari baik' terkadang bisa memajukan atau memundurkan pelaksanaan tradisi ini. Tapi yang pasti, hari pelaksanaan rasulan tiap tahunnya selalu sama berdasarkan hari pasaran, misalnya Senin Pon, Selasa Wage dan seterusnya.

Jika di beberapa daerah Gunungkidul melaksanakan rasulan dalam satu desa, tidak dengan Dusun Keruk, Desa Banjarejo, Tanjungsari. Sejak zaman dahulu, dibeberapa tempat di wilayah Tanjungsari, rasulan dilaksanakan oleh tiap dusun.

Oleh karena itu, rasulan bisa disebut juga Bersih Dusun atau Merti Dusun. Rasulan Dusun Keruk tepatnya dilaksanakan pada hari Minggu Pahing, 30 September 2012 atau 14 Dulkangidah 1945, tahun Wawu Windu Adi Wuku Pahang atau 14 Zulkaidah 1433H.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, rasulan di Dusun Keruk selalu meriah. Meskipun hanya satu dusun yang ikut, tidak kalah dengan rasulan yang diikuti oleh satu desa.

Berbagai tradisi dan atraksi yang khas menjadi hiburan tersendiri khususnya untuk para wisatawan. Mulai dari kirab budaya, kesenian tradisional semacam reog, doger, jathilan bahkan Dusun Keruk memberikan hiburan wayang kulit selama 2 malam. Pada malam Minggunya ada pula parade band serta pertandingan sepakbola yang diadakan setiap sorenya.

Biasanya, saat hari H yaitu Minggu Pahing menjadi waktu yang paling ramai karena diselenggarakan kegiatan kirab budaya keliling Dusun Keruk. Ini merupakan persembahan dari antusiasme warga Dusun Keruk I hingga IV.

Berbagai macam atraksi dan kreativitas pun tumpah ruah memeriahkan tradisi rasulan ini. Bapak-bapak terlihat mengenakan pakaian Jawa lengkap, sementara yang muda menampilkan kreativitas masing-masing mulai dari drumband, barongsai sampai pakaian adat semacam Indian.

Gunungan pun diarak keliling dusun. Masyarakat dan wisatawan dari desa di sekitar Dusun Keruk akan berbondong-bondong menyaksikan acara ini. Tak peduli panas yang menyengat kulit.

Kirab pun dilaksanakan mulai pukul 12.00 WIB sampai 14.00 WIB. Kemudian acara dilanjutkan dengan melakukan kenduri di balai dusun sebagai doa bersama untuk ketentraman dan keselamatan seluruh warga.

Sebagaimana daerah lain di Gunungkidul, setiap acara rasulan bisa dikatakan sebagai momen nepungke paseduluran atau merekatkan tali persaudaraan. Bagi anak muda, tradisi ini akan menjadi waktu yang tepat untuk ider weteng dengan makan enak dan gratis. Setiap rumah di dusun ini biasanya akan masak besar dan menjamu siapa saja yang datang ke rumah tanpa terkecuali.

Uniknya, yang masih khas di Dusun Keruk dan sekitarnya yang mungkin tidak ada dalam rasulan daerah lain adalah tradisi mujud. Tradisi mujud adalah saudara dari desa atau dusun lain akan datang berkunjung ke rumah dengan membawa beras dan uborampe lain atau hanya memberikan selipan amplop kepada tuan rumah.

Pulangnya, barang bawaan tadi akan ditukar dengan nasi dan lauk atau yang biasa disebut berkat. Tradisi ini akan bergantian dilakukan ketika saudara yang mujud melaksanakan rasulan.

Sebenarnya ada sisi negatif pada tradisi mujud ini. Pertama, akan memberatkan kedua belah pihak. Saudara yang akan berkunjung harus membawa uborampe yang tentu butuh biaya, begitu juga bagi yang dikunjungi harus masak ekstra. Kedua, rikuh, ewuh pakewuh. Ketika tidak ada modal untuk mujud maka biasanya tidak ada kunjungan rasulan. Padahal tujuan utamanya untuk lebih memperat persaudaraan.

Selain tradisi mujud, ada lagi yang disebut weton. Dimana menjelang kirab atau kenduri, tiap warga menyetor nasi dan lauk yang dimasukkan dalam ceting atau tenggok. Dikumpulkan atau dijadikan satu di rumah kepala dusun kemudian dibawa ke balai dusun.

Dahulu ada yang namanya kiso, yaitu sebuah wadah yang dibuat dari anyaman blarak atau daun kelapa kemudian diisi nasi dari nasiweton tersebut dan dibagikan ke warga sekitar yang berkunjung ke area balai dusun. Namun beberapa tahun terakhir ini, tradisi kiso sudah tidak ada lagi.

Bagi Anda yang belum pernah datang ke acara rasulan, sekali waktu berkunjung ke Dusun Keruk. Ini adalah pesta rakyat yang sebenarnya.

Berbagai masakan dan makan tersedia secara gratis, mulai dari gudeg, sambel goreng, ayam goreng dan lain-lain. Pastinya ada banyak suguhan makanan spesial seperti peyek, jenang, jadah dan masih banyak lagi. Pulang rasulan, dijamin perut Anda tambah buncit. Sampai jumpa di rasulan tahun depan.

Mau jalan-jalan ke Jepang gratis? Ayo ikutan program Dream Destination Japan. 3 Petualang yang beruntung akan berangkat ke Jepang dan memperebutkan Grand Prize Rp 10 juta. Ayo daftar di sini.
 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        

Redaksi: redaksi[at]detik.travel
Moderator: admin[at]detik.travel
Media Partner: promosi[at]detik.com 
Iklan: sales[at]detik.com
Most
Popular
 

Follow us on @detiktravel

Contact Us

redaksi[at]detik.travel
admin[at]detik.travel
sales[at]detik.com