DetikTravel









Dream Destination Papua

Koteka, Tari Perang, dan Ramahnya Suku Dani di Papua

Afif Farhan - detikTravel - Rabu, 28/11/2012 09:38 WIB
Selain Suku Kamoro di Timika, pemenang Dream Destination Papua juga mengenal suku Dani di Wamena. Mereka bermalam di Honai, hidup di tengah-tengah masyrakatnya dan menyaksikan tari Perang yang seru. Mau tahu ceritanya?

Wamena menjadi rute yang dilewati dalam perjalanan Dream Destination Papua. Di sanalah suku Dani, yang merupakan suku terbesar di Papua tinggal. Pada Minggu (25/11/2012), rombongan berkesempatan menginap dan tinggal seharian bersama mereka.

Siang itu, cahaya matahari di Bandara Wamena sangat terik. Kacamata hitam menjadi senjata andalan untuk melindungi mata. Namun, ada yang berbeda. Udara sejuk dan angin sepoi-sepoi membuat panasnya tidak terasa.

Setelah makan siang, tim Dream Destination Papua langsung meluncur ke Kampung Obia, Distrik Kurulu, Wamena. Di sanalah mereka akan bertemu suku Dani dari dekat dan meraskan budayanya dari dekat.

Dengan mobil bak terbuka, perjalanan menuju Kampung Obia memakan waktu sekitar 1 jam. Perjalanannya tidak membosankan. Bukit pasir putih, ppgunungan hijau di sekeliling pandangan, dan wanita berjalan yang memakai noken, tas asli Papua, menghiasi sepanjang jalan. Ah, Papua memang indah!

Akhirnya sampailah tim Dream Destination Papua di tepian jalan.Tak sampai di situ, perjalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki selama 15 menit. Rasa penasaran bertemu suku Dani makin membuncah di dada.

Sampai di suatu tempat, laki-laki tua dan anak kecil pria dari suku Dani menyambut kedatangan kami. Dia pun berucap, "Wa wa wa wa". Artinya itu adalah ucapan selamat datang!

Semua orang pun membalas dengan kata yang sama. Uniknya lagi, mereka memakai koteka dan hiasan burung kasuari di kepalanya. Eits, nanti di dalam Kampung Obia lebih banyak lagi!

Setelah kembali berjalan kaki, kami tiba di Kampung Obia. Kampung kecil dengan pemandangan rumah jamur atau yang disebut dengan nama Honai. Inilah rumah asli Suku Dani, yang menjadi salah satu suku terbesar di Papua.

Rumahnya memang berbentuk jamur. Di atasnya ada banyak tumpukan jerami. Tidak ada dinding dari batu, tapi rumah ini berpondasikan kayu. Bagian dalamnya ada dua ruangan, yaitu atas dan bawah. Di sinilah Suku Dani tinggal.

Tak hanya itu, ada juga honai dapur. Honai itu digunakan untuk memasak ubi oleh para wanita. Rumput-rumput menjadi alas di dapur tersebut.

"Saya seperti melihat dunia lain yang selama ini tidak pernah saya pikirkan," kata Keken yang takjub melihat Suku Dani dari dekat.

Setelah itu, malamnya mereka semua menginap di Honai. Listrik dari genset digunakan untuk menerangkan lampu. Sinyal handphone pun sulit didapat di sini.

Jadinya, kami semua tidur dengan tenang tanpa ada bunyi dering telepon. Dinginnya pun sungguh terasa. Suara serangga juga terdengar jelas. Benar-benar kembali ke alam!

Paginya, kami dikejutkan dengan suasana di Kampung Obia. Lelaki berpakaian koteka, wanita dengan pakaian berupa jemari yang menutupi bagian vitalnya, hewan babi dan anjing yang berkeliaran, serta anak-anak kecil yang tanpa busana berlalu lalang di depan kami.

"Pas liat dari deket sama persis kayak melihat di TV, tapi ini benar-benar di depan mata," kata Anisa yang baru pertama kali melihat koteka dari dekat.

Setelah sarapan, kami semua diajak ke suatu lapangan besar. Di sana sudah banyak pria dewasa Suku Dani dengan koteka dan membawa tombak. Ya, mereka akan melakukan tari Perang!

Tari Perang bercerita tentang perempuan yang diculik pemuda dari kampung lain. Lalu mereka berperang untuk mengambil kembali perempuan itu. Akhirnya, sang perempuan diambil kembali. Tentu saja, tombak, panah, dan aksesoris perang lainnya dapat Anda lihat di sini

"Banyak momen-momen yang banyak untuk didokumentasikan. Saya motret orang-orangnya karena kostumnya unik, mulai dari koteka, hiasan kepala, sampai senjata untuk perang," kata Husni yang sibuk memotret saat tari tersebut berlangsung.

Tari perang pun selesai. Para tim Dream Destination Papua segera menuju lapangan di dekat Honai Dapur. Di sana sudah menanti ritual Bakar Batu yang menyambut kami. Wanita-wanita sedang sibuk menyiapkan batu, dedaunan, dan ubi-ubi. Wah, ritual apa ini?

Bakar Batu adalah ritual yang dilakukan oleh suku-suku Papua yang tinggal di pegunungan. Bakar batu biasanya dirayakan untuk upacara pernikaha, kematian, hingga menyambut para turis.

Keunikannya, mereka membakarnya dengan batu dan api yang berasal dari gesekan bambu, kayu, dan jerami. Lalu beragam bahan makanan dipanggang di atasnya. Inilah cara memasak yang paling sehat tanpa bahan kimia sedikit pun!

"Saya penasaran, karena saya sering dilihat dari televisi dan internet tentang Bakar Batu. Pas lihat langusng gue seneng banget sampai ikut nyoba bawa batunya," kata Keken yang ikut memasak bersama wanita suku Dani.

Selain itu, para pemenang Dream Destination Papua juga dibuat takjub dengan keramahan suku Dani. Mereka sangat ramah dan penuh senyum. Apalagi anak-anak kecilnya, menggemaskan!

"Anak-anak kecilnya berambut keriting, lucu, dan ramah. Saya juga bisa langsung bermain sama mereka," kata Anisa.

Siang pun tiba, waktunya pulang. Sebelum itu, para rombongan berbelanja berbagai macam oleh-oleh yang dijejerkan di tengah-tengah lapangan. Seperti pasar kaget saja!

Ada kalung taring babi, noken, koteka, hingga panah yang dijual oleh suku Dani di sini. Harganya berkisar sekitar Rp 20-300 ribu. Tanpa pikir panjang, kami pun memborongnya. Kapan lagi beli suvenir asli ala suku Papua.

"Saat bertemu Suku Dani, saya sangat senang, karena mereka sungguh ramah, terbuka, dan memegang teduh adat dan budayanya," ujar Husni.

Siang hari pun tiba, kini saatnya menuju destinasi lainnya. Terimakasih suku Dani dan keramahannya. Melihat suku Papua dari dekat membuat diri ini bangga akan kekayaan budaya Indonesia.

(ptr/ptr)
Rumah Honai yang bagaikan jamur (Afif/detikTravel)
Baca Juga
Foto Terkait

Redaksi: redaksi[at]detik.travel
Moderator: admin[at]detik.travel
Media Partner: promosi[at]detik.com 
Iklan: sales[at]detik.com
Most
Popular
 
Must Read close
Twitter Detik Travel
Follow us on @detiktravel
Email To Detik Travel

Contact Us

redaksi[at]detik.travel
admin[at]detik.travel
sales[at]detik.com