DetikTravel









Pukul Pramugari & Aneka Aksi Nekat Penumpang Pesawat di China

Putri Rizqi Hernasari - detikTravel - Selasa, 11/12/2012 16:12 WIB
Jakarta - Ada-ada saja tingkah penumpang pesawat di China. Demi meluapkan kekesalan, mereka nekat memukul pramugari sampai memaksa untuk membuka pintu darurat. Ya ampun!

Sudah banyak kasus kekerasan yang dialami pramugari maskapai di China. Para penumpang tampaknya begitu agresif. Berbagai aksi tidak menyenangkan pun kerap dialami staf maskapai, tak hanya pramugari.

Beberapa aksi nekat yang dilakukan penumpang antara lain memukul kru maskapai, lari ke landasan pacu, sampai seorang penumpang yang memaksa untuk membuka pintu darurat di pesawat. Ya, memang tampak sangat nekat!

Di China, penumpang yang marah memang kerap melakukan aksi-aksi nekat bahkan cenderung ekstrem setiap tahunnya. Mereka menyebutnya sebagai aksi protes karena pelayanan yang tidak memuaskan, atau bahkan karena penundaan penerbangan.

Tidak sampai di situ, masih ada banyak lagi bentuk protes yang dilakukan wisatawan yang kecewa dengan pelayanan maskapai. Bukan cuma penumpang domestik tapi aksi ini juga dilakukan oleh penumpang internasional.

"Ketika penerbangan ditunda, penumpang akan melakukan banyak masalah. Terkadang, mereka sampai memukul staf," kata founder dan bos dari maskapai budget Spring Airlines, Wang Zhenghua seperti yang ditulis Sydney Morning Herald, Selasa (11/12/2012).

"Maskapai sebenarnya berada di posisi yang lemah. Dengan pemerintah yang menyerukan 'masyarakat harmonis', satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah memberi kompensasi untuk menenangkan mereka," lanjutnya.

Sementara itu, muncul prediksi kalau akan ada pesawat baru yang terbang di atas langit China selama dua dekade ke depan. Para pejabat industri pun menyebutkan kemacetan di langit China akan bertambah. Kesimpulannya, akan ada lebih banyak penundaan penerbangan.

Sekitar 30 tahun lalu, traveling dengan pesawat menjadi pilihan pemerintah atau perusahaan resmi. Untuk bisa naik pun, mereka harus memasukkan dokumen khusus, barulah tiket pesawat didapat.

Namun, ketika kebanyakan orang China masih tetap memilih kereta untuk traveling jauh karena biaya yang murah, maka maskapai budget hadir sebagai pilihan lain.

Lebih dari 270 juta penumpang terbang pada rute domestik di China tahun lalu, naik 10 persen dari 2010 dan naik 70 persen dari tahun 2003, berdasarkan data pemerintah. Sementara itu, pada tahun 2014, The International Air Transport Association memprediksi akan ada 379 juta penumpang yang traveling dengan pesawat.

Maskapai pun telah melakukan penambahan pesawat karena permintaan yang semakin tinggi. Pesawat boeing di China saja diperkirakan butuh penambahan sekitar 5260 unit untuk 20 tahun ke depan.

Maskapai melakukan penambahan jumlah penerbangan, tapi sayangnya angkatan udara menguasai langit, yang menyebabkan penundaan penerbangan biasa terjadi.

Di awal tahun, sekitar 20 orang penumpang yang marah nekat lari ke landasan pacu utama Bandara Internasional Shanghai. Mereka berada sekitar 20 meter dari pesawat Emirates. Aksi mereka ini dilakukan karena penundaan penerbangan selama 16 jam.

Sebenarnya tidak jelas kenapa mereka melakukan itu. Setidaknya, aksi ini membuka peluang untuk mendapat kompensasi lebih besar.

Di bulan Agustus, dua penumpang marah setelah ditolak kompensasinya untuk penundaan penerbangan, akibat membuka paksa pintu darurat pesawat. Hasilnya, penundaan penerbangan pun semakin lama.

Pilot asal Australia dan kru diancam oleh massa penumpang yang marah pada bulan Oktober. Hal ini terjadi setelah penerbangan Jetstar dari Melbourne, dialihkan dari Beijing ke Shanghai karena cuaca buruk.

Minggu lalu, penumpang yang marah datang untuk memukul staf maskapai di bandara, setelah penerbangan dari Guiyang di barat daya China ditunda.

"Pelayanan staf sangat buruk, jadi saya mengerti kenapa mereka marah, tapi saya tidak setuju dengan polisi yang tidak menangkap penumpang," kata salah seorang saksi, Tong.

Ada lagi bentuk protes yang lebih aneh. Sekelompok penumpang dengan lantang bernyanyi setelah pengumuman yang berisi semua maskapai tidak dapat terbang karena ada badai.

Penyebab protes ini berasal dari operator China. Ini adalah hal yang tidak wajar membiarkan penumpang menunggu beberapa jam di dalam pesawat atau di pintu keberangkatan, tanpa ada pengumuman lama waktu menunggu.

"Dulu, hanya orang kelas pertama yang memiliki hak istimewa untuk bisa traveling dengan pesawat. Jadi rata-rata penduduk China punya harapan tinggi dengan servis yang diberikan," kata komentator penerbangan sipil independen, Li Yuliang.

"Tapi, ketika mereka terbang, dan mereka tidak mendapatkan servis yang memuaskan, khususnya ketika delay, inilah bentuk kekecewaan penumpang dengan membuat masalah," tambahnya.

Berdasarkan Administrasi Penerbangan Sipil China, sekitar seperempat dari 2,4 juta penerbangan domestik di tahun 2011 ditunda. Rasio ini kira-kira sebanding dengan penundaan yang ada di Inggris. Tapi, data ini tidak mencerminkan penundaan yang terjadi setelah penumpang sudah berada di dalam pesawat.

Langit China sekarang ini sangatlah padat, tapi untuk beberapa rute tertentu. Ahli dan pilot penerbangan mengatakan wilayah udara yang dialokasikan untuk penggunaan komersil hanya sekitar 20 persen.

"Wilayah udara terlalu kecil. Ini seperti jalan raya delapan jalur, tapi hanya dua jalur yang digunakan," kata pilot salah satu maskapai teratas di China, Jeff Zhang.

Sebagai tambahan, kurangnya peralatan di bandara, seperti alat navigasi cuaca buruk, standar keamanan yang relatif ketat, dan kelangkaan pengendali udara juga menambah penundaan penerbangan, kata mereka.

"Sebagai pilot, saya ingin terbang secepat mungkin karena saya tidak dibayar ketika berada di darat. Maskapai tidak suka penundaan karena mereka ingin menggunakan pesawat sebanyak mungkin," kata Zhang.

"Tidak ada yang suka delay. Tapi semua ini terjadi karena sempitnya wilayah udara,"

(ptr/shf)
Baca Juga
Foto Terkait

Redaksi: redaksi[at]detik.travel
Moderator: admin[at]detik.travel
Media Partner: promosi[at]detik.com 
Iklan: sales[at]detik.com
 
Twitter Detik Travel
Follow us on @detiktravel
Email To Detik Travel

Contact Us

redaksi[at]detik.travel
admin[at]detik.travel
sales[at]detik.com