detiktravel

Brrr! 'Salju' Turun di Ranu Kumbolo

Lenny Nov - d'Traveler - Selasa, 22/01/2013 09:10:00 WIB
detikTravel Community -  

Danau di Ranu Kumbolo, Gunung Semeru, bisa begitu dinginnya. Bangunlah pagi buta untuk melihat dedaunan dan tanah berlapis kristal es. Ini seperti 'salju' tipis turun di tempat ini.

Matahari belum muncul, cahaya pagi masih abu-abu, tapi kecantikan Ranu Kumbolo sudah terpancar jelas. Diselimuti kabut dengan udara yang sangat dingin, tubuh ini membeku seraya terkagum-kagum dengan pemandangan indah yang tak ada duanya.

Tujuh tahun saya tinggal di Jawa Timur, tapi tak sekalipun pernah menginjakkan kaki di Gunung Semeru yang memiliki ketinggian 3.676 mdpl. Padahal saya sudah mendaki hingga gunung-gunung di Jawa Barat. Mungkin sama seperti kalian yang pernah berpikir, "Ah dekat ini, bisalah kapan saja." Tapi justru pemikiran seperti itu yang membuat pendakian itu tidak pernah terlaksana.

Pada akhirnya, ketika saya akan meninggalkan Jawa Timur untuk pindah kerja, beberapa kawan mengajak saya mendaki gunung paling tertinggi dan terkenal di Pulau Jawa itu. Tentu saja saya iyakan. Saya tidak menemukan masalah berarti ketika mendaki gunung ini.

Ketika itu kami tiba di Danau Ranu Kumbolo saat hari sudah gelap dan udara super dingin. Maklum, kami mendaki ketika musim kemarau, jadi suhu cenderung lebih dingin ketika malam hari dibanding suhu di musim penghujan.

Sebelum tidur, kami masih sempat bercengkerama sambil memasak makan malam. Di tenda yang cukup besar, kami tidur berlima. Dengan harapan, suhu di dalam tenda akan terasa lebih hangat. Saya sudah siap dengan sleeping bag sebagai senjata tidur saya, lengkap dengan beberapa lapis baju, kaus kaki, syal, penutup kepala, dan sarung tangan.

Sempat kulirik beberapa teman, mereka hanya menggunakan celana panjang dan jaket untuk tidur. Setelah asik bercerita sana-sini, bernostalgia mengenang masa lalu, kami pun mulai tertidur satu persatu.

Tapi hanya beberapa jam setelah memejamkan mata, aku terjaga. Suhu yang membeku membangunkanku dari mimpi. Aku mulai menggigil. Aku bangun dan mulai mencari segala pakaian yang tersisa di dalam tas untuk melawan suhu dingin yang mulai merasuk ke tulang. Tetapi entah bagaimana, aku tetap menggigil! Aku berusaha tidak panik, meskipun bayangan hipotermia sudah menggelayuti pikiranku.

Ternyata bukan aku saja. Teman-temanku yang lain kusadari juga merasakan hal yang sama, mereka juga menggigil. Terutama teman-temanku yang hanya mengenakan celana panjang dan jaket, mereka menggoyang-goyangkan kaki mereka untuk mengusir dingin yang membeku. Bahkan meskipun kami berlima sempit-sempitan tidur di tenda yang sama, kami masih sangat kedinginan.

Aku benar-benar tidak bisa berbaring lagi, dingin masih memenuhi tubuhku meskipun sudah dibalut berlapis-lapis pakaian. Padahal aku termasuk orang yang tahan dingin. Aku terduduk dan menggigil. Sambil sesekali berbicara pada teman-temanku yang ternyata hanya 'tidur ayam'. 

Yang aku tidak habis pikir, temanku yang sudah beberapa kali mendaki Gunung Semeru tetap bertahan dengan pakaian hangat yang seadanya. Meskipun dia juga menggigil, toh dia tetap tidak menganggap itu sebagai hal yang serius. Ibaratnya, wajar kalau di gunung itu dingin.

Dari pengalamanku mendaki gunung, bahkan pernah menginap di puncak gunung berketinggian 3.000 mdpl sekalipun, tidak pernah sekalipun aku merasa sedingin dan sebeku ini. Ranu Kumbolo benar-benar membuatku membeku. Brrr!

Setelah berjuang untuk tidur di malam dengan suhu 'freezer', aku terbangun di pagi-pagi buta dengan suhu yang tidak kalah dinginnya. Dengan niatan ingin melihat kabut cantik di permukaan Ranu Kumbolo, yang biasanya hanya ku lihat dari TV dan foto di internet, aku bulatkan tekad keluar tenda.

Jangan ditanya bagaimana dinginnya. Matahari belum muncul, cahaya subuh masih abu-abu. Tetapi kecantikan kabut di permukaaan Ranu Kumbolo benar-benar luar biasa! 

Terpesona dengan keindahannya, membuatku lupa sejenak dengan suhu dingin. Sungguh indah lukisan Tuhan Yang Maha Kuasa. Tak lupa aku mengabadikannya dalam banyak foto. Hingga aku menyadari keadaan sekitarku ketika matahari pagi mulai menyinari danau.

Kulihat daun-daun berlapis kristal es, bahkan plastik sampah hitam berselimutkan es putih di atasnya. Sandal pun juga dilapisi kristal es. Serius es sungguhan! Pantas, batinku, "Bayangkan saja, tadi malam kita tidur di dalam suhu freezer!"

Itu baru suhu di Ranu Kumbolo dengan ketinggian 2.400 mdpl, belum lagi suhu di Kalimati -shelter pendakian di Gunung Semeru- yang lebih tinggi di ketinggian 2.700 mdpl. Beberapa orang dari kami yang awalnya berniat mendaki hingga puncak, akhirnya urung. 

Mereka sih siap saja, tapi aku secara pribadi belum siap untuk perang melawan suhu yang lebih ekstrem lagi, karena perlengkapan yang kubawa kurang memadai. Aku tidak ingin ambil risiko yang bisa berakibat fatal. Lebih baik niat mendaki puncak itu ditunda lain waktu dengan persiapan yang lebih matang. Setidaknya aku sudah tahu, apa saja yang perlu dibawa dan dipersiapkan.

Punya cerita dan foto pengalaman traveling yang menarik? Share disini yuk!
10 artikel paling menarik setiap bulan, akan mendapatkan hadiah uang tunai dan merchandise keren dari detikTravel!


Foto Terkait
 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        

Redaksi: redaksi[at]detik.travel
Moderator: admin[at]detik.travel
Media Partner: promosi[at]detik.com 
Iklan: sales[at]detik.com
Artikel
Terbaru
Most
Popular
 
Must Read close

Follow us on @detiktravel

Contact Us

redaksi[at]detik.travel
admin[at]detik.travel
sales[at]detik.com