DetikTravel









Lembata, 'Sang Perawan' dari Nusa Tenggara

Sri Anindiati Nursastri - detikTravel - Rabu, 23/01/2013 07:45 WIB
Lembata - Nama Lembata mungkin tak sefamiliar Flores, atau Pulau Komodo yang sama-sama terletak di Nusa Tenggara Timur. Padahal, Kabupaten Pulau Lembata punya sejuta destinasi wisata yang lebih dari sekadar 'perawan'.

Kabupaten Pulau Lembata terletak di gugusan Kepulauan Solor, ujung timur Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Bisa dibilang, Lembata adalah pulau yang hampir tak terjamah. Selama 5 hari detikTravel berkunjung ke pulau ini, yaitu mulai 18-22 Januari 2013, hanya segelintir turis yang terlihat. Atau mungkin belum 'musimnya', mengingat beberapa destinasi di Pulau Lembata punya ritual adat di waktu-waktu tertentu.

Warga setempat tampak asyik dengan aktivitas rutin mereka: berkebun, melaut, atau bekerja di instansi pemerintahan. Mereka terdiri dari 2 etnis besar: Lamaholot dan Kedang. Masing-masing etnis punya adat dan tradisi berbeda, termasuk soal bahasa.

Tapi ada satu kesamaan dari mereka: ramah tamah. Jarang-jarang saya mendapat sambutan hangat warga lokal dengan senyum sumringah seperti ini. Setiap kali mobil rombongan kami lewat, warga melambaikan tangan dan mengucapkan, "Selamat!" artinya selamat jalan.

Jangan harap Anda akan melewati jalanan mulus beraspal. Karena dari 1,2 juta km2 luas pulau ini, hanya segelintir saja jalanan yang tergolong rapi. Namun, jalanan baik yang aspal maupun yang tanah sudah menghubungkan tiap desa di Pulau Lembata. Dari ibukotanya yakni Lewoleba, wisatawan bisa mengakses seluruh destinasi di berbagai penjuru mata angin.

Di pesisir selatan ada Desa Pasir Putih dan Desa Lamalera. Sesuai namanya, desa yang pertama itu punya bentangan pantai berpasir putih sepanjang 11 km. Pantai yang paling cantik, menurut detikTravel, adalah Pantai Mingar.

Selanjutnya ada Lamalera, desa yang tersohor karena tradisi berburu pausnya. Ritual berburu paus merupakan atraksi budaya rutin tiap 2 Mei-31 Agustus. Namun di waktu-waktu lainnya, wisatawan bisa menyelami kehidupan lokal dengan belajar menenun dan melihat-lihat peninggalan sejarah yang disimpan baik-baik di rumah warga.

Beralih ke utara, ada Kecamatan Ile Ape dan Kecamatan Ile Ape Timur. Destinasi unggulan di sini adalah Kampung Adat Lewohala di Desa Jontona. Pada 1-7 Juli tiap tahunnya, masyarakat setempat menggelar Pesta Kacang di sebuah perkampungan dengan 77 rumah adat. Pesta ini ditujukan untuk berterimakasih atas berkah panen kacang tahun ini, dan berdoa untuk kelancaran panen di tahun berikutnya.

Masing-masing rumah adat punya peninggalan sejarah berupa keramik kuno, atau benda-benda keramat seperti tanduk kerbau dan gading gajah. Ssst, di pantai Kampung Adat Lewohala, wisatawan bisa melihat kerangka ikan paus biru berukuran raksasa! Warga setempat bilang, paus biru ini terdampar tahun 2005 silam.

Di sebelah timur Lembata setidaknya ada 2 desa yang hampir sama 'perawan'-nya: Lewolein dan Beang. Lewolein jadi persinggahan kapal-kapal pesiar dari Flores dan Alor, sementara Beang punya hamparan pantai yang aduhai indahnya.

"Ini (pantai di Desa Beang-red) seperti Pantai Kuta di tahun 1960-an," kata salah satu anggota rombongan, Yos Sumerta sebagai Ketua Asosiasi Wisata Bahari yang berbasis di Bali.

Jalur kendaraan yang mayoritas masih jalan tanah adalah tantangan utama wisatawan di Pulau Lembata. Dari satu kecamatan ke kecamatan lainnya bisa memakan waktu 2 jam karena akses yang sulit.

Tapi bagi Anda yang haus akan petualangan, justru ini jadi sensasi tersendiri! Sewalah mobil Hilux (Rp 250-350 ribu/ hari) untuk menjajal medan Pulau Lembata. Tapi ingat, harus esktra hati-hati! Anda juga harus menghafal arah agar tidak tersesat di tengah hutan. Opsi paling baik, sewalah pemandu lokal.

Selain alam dan budaya, Pulau Lembata juga dikaruniai kekayaan kuliner yang dijamin menggoyang lidah! Hampir tiap desa punya suguhan kuliner yang berbeda. Ikan bakar dan sambal khas sudah pasti ada. Di Desa Beang ada beso, sejenis bubur campuran jagung, kacang hijau, santan dan garam. Rasanya sungguh nikmat!

Di tengah perjalanan menuju Desa Lamalera dari ibukota Lembata yakni Lewoleba, singgahlah di Kampung Boto. Turis bisa menikmati kopi khas setempat ditemani camilan khas pula: campuran singkong, gula, dan kelapa parut. Ada juga keripik pisang dan kue kacang yang renyah.

Bisa dibilang, Pulau Lembata adalah tempatnya para petualang. Banyak destinasi yang belum dijamah wisatawan. Cara menuju ke sini cukup mudah. Dari Bandara El Tari di Kupang, tersedia penerbangan Susi Air 2 kali sehari menuju Bandara Wunopito di Lewoleba.

"Dalam waktu dekat akan ada maskapai Transnusa. Kami sudah sepakat akan ada penerbangan juga ke sini," tutur Bupati Lembata, Eliazer Yentji Sunur saat penyambutan rombongan di rumahnya pada Jumat (18/1/2013).

Untuk akomodasi, ada beberapa hotel yang bisa dipilih seperti Hotel Palm Indah dan Hotel Puri Mutiara di Lewoleba. Di 'desa paus' Lamalera ada beberapa penginapan yakni Felmina Homestay, Ben Homestay dan Maria Homestay. Di beberapa desa lainnya, warga setempat siap menampung wisatawan. Harganya tak mahal, mulai dari Rp 50.000 untuk homestay sampai Rp 850.000 untuk kamar suite nan luas di Hotel Palm Indah.

Berminat menjelajah Pulau Lembata? Siapkan fisik yang kuat dan keinginan bertualang yang menggebu-gebu!


(sst/fay)
Mingar, salah satu pantai cantik dan 'perawan' di Lembata (Sastri/ detikTravel)
Baca Juga
Foto Terkait

Redaksi: redaksi[at]detik.travel
Moderator: admin[at]detik.travel
Media Partner: promosi[at]detik.com 
Iklan: sales[at]detik.com
 
Twitter Detik Travel
Follow us on @detiktravel
Email To Detik Travel

Contact Us

redaksi[at]detik.travel
admin[at]detik.travel
sales[at]detik.com