DetikTravel









Sungai Lulut, Venesia dari Kalimantan Selatan

Putri Rizqi Hernasari - detikTravel - Rabu, 06/02/2013 10:39 WIB
Untuk merasakan suasana sungai di depan rumah dengan perahu hilir mudik, Anda tak perlu jauh-jauh ke Venesia di Italia. Datang saja ke tepi Sungai Lulut di Banjarmasin. Inilah Little Venice milik Kalsel.

Banjarmasin di Kalimantan Selatan memang dikenal sebagai Kota Seribu Sungai. Datang ke sana, pelancong bisa melihat banyak sungai mengaliri di atas tanahnya. Bahkan, sungai menjadi tempat kebanyakan penduduk menggantungkan hidup.

Betapa tidak, hampir semua aktivitas dilakukan di sungai, mulai dari transportasi hingga aktivitas jual beli di pasar terapung. Khusus aktivitas yang disebut terakhir, itulah salah satu daya tarik Banjarmasin di mata wisatawan. Banyak turis yang sengaja datang hanya untuk melihat kegiatan jual beli di atas sungai. Unik!

Meski begitu, ternyata masih ada daya tarik wisata lain yang dimiliki Banjarmasin, yaitu kehidupan penduduk di sekitaran sungai. Salah satu yang bisa kunjungi adalah tepi Sungai Lulut, Kecamatan Banjarmasin Timur, Banjarmasin.

Datang ke sana, pelancong akan disuguhkan dengan pemandangan rumah penduduk yang berdiri tepat di pinggir sungai. Jika dilihat, hampir seluruh rumah warga adalah rumah panggung dan terbuat dari kayu. Anda juga bisa menginap di homestay yang tersedia.

detikTravel pun berkesempatan berkunjung beberapa waktu lalu. Penasaran ingin mencicipi serunya tinggal di tepian sungai, saya pun menginap di salah satu rumah penduduk.

Betapa terkejutnya saya begitu bangun di pagi hari. Saat itu masih pukul 06.00 Wita. Tapi dari arah luar rumah panggung terdengar sudah ramai. Tanpa pikir panjang, kaki ini pun mulai melangkah ke arah teras belakang rumah, yang berhadapan langsung dengan sungai.

Saat membuka pintu, sebuah pemandangan tak biasa tersaji di hadapan. Ada banyak klotok atau perahu kayu kecil wara-wiri di sungai.

Mereka bukan penduduk sekitar yang iseng mendayung perahu sekadar untuk bermain, tapi mereka adalah pedagang. Ya, ternyata setiap pagi aliran Sungai Lulut dilalui banyak pedagang yang menjajakan sarapan.

"Enak kan di sini? Kalau di Jakarta biasanya tukang sarapan datang pakai gerobak di depan rumah, kalau di sini semuanya pakai perahu," kata Nana, salah satu anak pemilik rumah yang saya inapi.

Benar, suasana yang disuguhkan Sungai Lulut memang berbeda sekali dengan yang ada di Jakarta. Sesaat saya pun berpikir, mungkin Sungai Lulut bagaikan Venesia Kecil di Indonesia. Ada banyak klotok yang wara-wiri di atas sungai sebagai sarana transportasi. Penduduk yang akan berangkat ke pasar atau tempat kerja pun banyak yang menggunakan klotok. Ramai!

Tapi tak hanya klotok yang menarik perhatian, masih ada berbagai aktivitas warga lain juga memukau. Pagi itu saya juga dihadapkan dengan tawa riang anak kecil yang asyik berenang di sungai yang bersih. Bersama teman-teman, mereka lompat dari teras rumah yang langsung menghadap sungai, layaknya melompat ke kolam renang.

Tak mau membuang begitu saja pengalaman ini, saya langsung duduk di teras rumah, sambil mencelupkan kaki ke sungai. Dingin! Tak mengapa, saya pun lanjut menikmati pemandangan langka yang tersaji di depan, dan menikmati udara sejuk yang tersaji di Sungai Lulut.

(shf/shf)
Salah satu ibu yang sudah sibuk beraktivitas di pagi hari (Putri/detikTravel)
Baca Juga
Foto Terkait

Redaksi: redaksi[at]detik.travel
Moderator: admin[at]detik.travel
Media Partner: promosi[at]detik.com 
Iklan: sales[at]detik.com
 
Must Read close
Twitter Detik Travel
Follow us on @detiktravel
Email To Detik Travel

Contact Us

redaksi[at]detik.travel
admin[at]detik.travel
sales[at]detik.com