detiktravel

Tak Hanya Gunung Gede, Papandayan Juga Punya Edelweis Cantik

satria nugraha - d'Traveler - Kamis, 09/05/2013 11:15:00 WIB
detikTravel Community -  

Gunung Papandayan adalah salah satu gunung berapi aktif di Jawa Barat yang masih difavoritkan para pendaki. Mendakinya, traveler tak hanya disuguhkan kegagahan gunung, tapi juga hamparan edelweis, sang bunga abadi.

Pagi sekali saya dengan teman-teman yang lain bersiap untuk mendatangi undangan kakak kelas kami di Garut. Sebelumnya, kami berencana untuk melakukan pendakian ke Gunung Papandayan, karena kami belum pernah ke sana.

Kami berangkat sekitar pukul 09.00 WIB dari Kota Bandung menggunakan sepeda motor. Ini karena memang tempat tujuan kami hanya mampu di jangkau dengan menggunakan sepeda motor.

Pukul 13.00 kami tiba di tempat resepsi pernikahan dan langsung di sambut oleh pementasan dangdut. Tak ketinggalan sederet piring besar berisi lauk pauk untuk para undangan. Maklum mungkin karena kami masih sebagai mahasiswa, kami tak menyiakan-nyiakan waktu dan langsung melahap makanan setelah bersilaturahmi dan foto-foto bareng pengantin.

Lalu saya dan teman-teman pamit untuk melanjutkan perjalan ke Gunung Papandayan. Tapi sebelumnya kami belanja dulu di pasar terdekat untuk membeli logistik untuk bekal 2 hari 1 malam di gunung nanti.

Sekitar pukul 15.00 kami tiba di pos pendakian Gunung Papandayan. Kami langsung membeli tiket untuk 3 orang dan membayar ongkos parkir untuk sepeda motor.

Di sini kita memang bisa menitipkan kendaraan kepada petugas pos jaga. Tapi jangan lupa untuk memberi mereka ongkos parkir seikhlasnya.

Di pos jaga, kami bertemu salah satu komunitas pecinta alam dari jakarta yang beranggotakan 5 orang. Mereka semua sudah berumur. Ternyata memang benar, mendaki gunung itu sungguh tak lekang oleh waktu. Semua umur bisa dengan bebas menikmati suguhan alam ciptaan Tuhan.

Waktu itu kami mendaki bersama dengan komunitas tersebut. Setelah berjalan sekitar 15 menit, kami masuk ke area hamparan gunung vulkanik yang luar biasa luasnya. Menurut pemandu, tanah yang kami injak merupakan hasil letusan Gunung Papandayan yang hebat sekitar tahun 2006.

Memang benar, letusan itu mengakibatkan jalan setapak yang bisa dilalui pendaki kini terputus karena longsor. Akibatnya perjalanan harus melambung lumayan jauh untuk sampai ke pos selanjutnya. 

Singkat cerita, setelah menikmati perjalanan dengan sedikit bernarsis ria, kami sampai di Pos Pondok Salada. Inilah tempat pertama kami bermalam dan mendirikan tenda.

Setelah mencari tempat, kami membagi tugas untuk mendirikan tenda dan masak. Nasi, tempe orek, ikan asin peda, sambel, tempe goreng dan mie rebus jadi santapan malam kami.

Waktu itu hanya saya dan kawan-kawan yang bermalam di sana, tidak ada orang lain, karena memang waktu itu bukan hari libur. Oh iya, di Pos Pondok Salada ini, terdapat hamparan padang edelweis yang lumayan banyak dan sedang mekar-mekarnya. Cocok sekali untuk berfoto.

Malam itu setelah makan dan solat, kami bersiap membungkus badan kami dengan sleeping bag. Dengan sedikit candaan dan obrolan akhirnya kami satu per satu tidur tanpa sadar.

Suara anjing liar milik para ranger bersautan ketika kami baru saja bangun. Udara dingin terasa begitu menusuk kulit. Maklum, saat itu memang sedang musim kemarau dan dinginnya tanpa ampun.

Akhirnya pagi kami segera memasak air untuk membuat segelas kopi. Kopi panas dan roti tawar dengan selai susu kental manis jadi sarapan kami untuk melakukan perjalanan.

Setelah semua beres, sarapan, packing dan mengisi ulang air minum kami lalu berangkat menuju puncak. Pukul 09.00 WIB matahari sudah menyengat waktu itu, leher dan tangan kami pun jadi sasaran empuk sinar matahari.

Mungkin perjalanan yang begitu cantik di Gunung Papandayan ini, kami tidak merasakan sengatan matahari. Bahkan saking asyiknya, tak terasa kami sampai di area vegetasi mati.

Vegetasi mati ini merupakan hutan yang sudah mati karena letusan Gunung Papandayan tahun 2006. Vegetasi mati ini menjadi spot untuk melakukan foto karena suasananya seperti di Jepang saya rasa.

Setelah melewati vegetasi mati kami sedikit mendaki dibawah sengatan matahari. Di tengah perjalanan kami bersiap untuk makan siang. Kembali si roti tawar dan selai susu kental manis jadi makanan kami dan tidak lupa minuman jeruk segar.

Perut sudah terisi kembali, kami siap melakukan perjalanan selanjutnya. Hutan rimbun di perjalanan membuat kami sedikit terobati dari sengatan matahari.

Beberapa menit kami melakukan perjalanan dan akhirnya keluar dari hutan rimbun. Saya dan teman-teman pun langsung disambut padang edelweis yang sangat luas. Mungkin pelataran Surya Kuncana di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango kalah dengan padang edelweis ini.

Saat itu, ada banyak bunga edelweis yang sedang mekar-mekarnya dan berwarna kuning. Kami lantas berlari-lari di sini menikmati padang edelweis yang begitu luas. Semakin asyik karena ditemani garis-garis awan yang dilibas pesawat-pesawat terbang, seperti di film Into The Wild.

Saking asiknya, sampai kami lupa waktu dan perut terasa lapar kembali. Di bawah pohon, kami menyiapkan peralatan masak untuk membuat sesuatu pengisi perut.

Mie rebus dan pancake jadi-jadian jadi pilihan. Sungguh nikmat sambil memandang padang edelweis, sesaat rasanya seperti bukan di Indonesia.

Namun kami menyayangkan waktu itu. Di sekitaran tempat kami makan, ada kantong berisi sampah anorganik, seperi kaleng gas bekas memasak yang sengaja ditinggalkan pendaki. Sungguh masih kurangnya kesadaran mencintai alam sepenuhnya. Semoga ini menjadi pelajaran.

Setelah menikmati pancake jadi-jadian, kami kaget melihat jam tangan sudah menunjukan pukul 14.30 WIB. Setelah saya dan teman hitung, waktu yang tersisa tidak akan cukup untuk sampai ke puncak, karena jauh sekali lihat puncak dari padang edelweis ini.

Akhirnya kami urungkan niat untuk menuju puncak dan melanjutkan untuk turun pulang. Kemudian kami pun beralasan, menikmati pendakian tak harus selalu sampai puncak.

Jalur naik kami jadikan jalur kembali untuk pulang. Ini karena jalur lain diperuntukan keluar melalui daerah Pangalengan, Bandung Selatan sana. Di perjalanan pulang kami beristirahat dahulu di sebuah aliran sungai untuk melakukan solat dan bersih-bersih. Di sini terlihat jelas menjulang Puncak Papandayan.

Sekitar pukul 17.00 WIB kami sampai di pos jaga, dan siap-siap kembali ke Bandung. Namun sebelumnya kami menikmati dulu sepiring nasi goreng di Kota Garut. Sungguh perjalanan yang memukau pertama mendaki Gunung Papandayan.

 



 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        

Redaksi: redaksi[at]detik.travel
Moderator: admin[at]detik.travel
Media Partner: promosi[at]detik.com 
Iklan: sales[at]detik.com
 

Follow us on @detiktravel

Contact Us

redaksi[at]detik.travel
admin[at]detik.travel
sales[at]detik.com