Prihatin, Situs Kuno Ini Terendam & Dijarah Orang

Mawan Sidarta - d'Traveler - Rabu, 22/05/2013 17:50:00 WIB
detikTravel Community -  

Di Desa Pamotan, Sidoarjo ada suatu situs kuno yang diyakini peninggalan Kerajaan Majapahit. Tapi mirisnya, situs ini terendam air dan bebatuannya dijarah oleh orang yang tak bertanggung jawab. Padahal, situs ini sangat bersejarah!

Desa Pamotan terletak di Kecamatan Porong, Sidoarjo, Jatim diyakini punya sisa-sisa yang diyakini peninggalan Kerajaan Majapahit. Sayang, kondisi candinya sangat memprihatinkan. Berwisata ke sini, ada cerita tersendiri yang bisa Anda dapatkan.

Perjalanan wisata kami kali ini menjelajah Porong. Di sebuah desa yang bernama Pamotan, ada situs kuno yang bila diperhatikan secara seksama merupakan ciri candi-candi di Jawa Timur. Oleh sebab itu, situs tersebut bernama Candi Pamotan yang spserti nama desanya.

Kami disambut pria setengah baya saat tiba di sini, yang ketika itu dia sedang membersihkan rumahnya. Setelah memperkenalkan diri dan berjabat tangan, saya kemudian bertanya tentang asal-usul candi itu.

Dia menjelaskan, dulu ada seorang warga desa yang sedang membersihkan semak belukar di halaman rumahnya. Tanpa diduga, warga itu menemukan tumpukan batu bata yang sebagian telah berserakan. Tidak seperti batu bata rumah biasa, bentuk bata ini lebih lebar, tebal, dan terlihat kuno.

Setelah ditelusuri dan digali lebih dalam, ternyata tumpukan batu bata itu lama kelamaan menyerupai bangunan layaknya sebuah candi. Warga desa dan masyarakat yang menemukan itu kemudian menamakannya dengan sebutan 'Candi Muncul'.

Belum lama kami berbicara seputar candi dengan bapak tadi, tiba-tiba seorang perempuan menghampiri kami. Ternyata ibu ini sebagai juru pelihara candi dan pria yang kami ajak berbincang-bincang tadi adalah suaminya.

Ibu ini bernama Lilik. Meski sebagai juru pemelihara, tapi dia tak tahu banyak tentang sejarah candi tersebut. Tidak ada relief, penanda, atau pahatan angka tahun yang menjelaskan benda kuno ini dibangun pada tahun berapa. Selain itu, wujud atau fungsi yang sebenarnya dari bangunan purbakala ini juga tidak jelas.

Bentuk candi berupa bidang persegi dengan ukuran luas kira-kira 5 X 5 meter persegi dan tingginya sekitar 2,5 meter. Lilik menambahkan, saat musim hujan seperti sekarang ini, bangunan candi terendam air hujan.

Belum dilakukan penelitian dan ekskavasi secara mendalam oleh Dinas Purbakala tentang candi ini. Apakah candi ini dulunya memang terendam air atau tidak, seperti petirtaan kuno Majapahit di Trowulan (Candi Tikus)?

Tidak ada ciri khusus, misalnya keberadaan pancuran air di dasar candi seperti yang ada di Candi Tikus Trowulan. Sehingga bisa disimpulkan bahwa Candi Pamotan dulunya memang kolam atau pemandian kuno.

Air yang menggenangi bangunan candi merupakan masalah. Saluran drainase untuk membuang air hujan yang tergenang belum ada. Dikhawatirkan, benda bersejarah ini akan hancur bagian dasarnya.

Batu bata yang berada di bagian atas candi juga berantakan. Bentuk candi yang seutuhnya juga masih jadi tanda tanya. Candi Pamotan termasuk situs purbakala yang memprihatinkan.

Betapa tidak, papan nama situs ini benar-benar ala kadarnya. Tidak terpampang secara jelas di jalan-jalan desa yang dengan mudahnya bisa dikenali oleh masyarakat. Lagipula, warna catnya sudah rusak karena karat.

Cerita tentang Candi Pamotan ternyata tidak berhenti sampai di situ. Tidak jauh dari candi ini juga ditemukan candi baru. Karena belum ditemukan nama yang tepat, masyarakat desa menamakan temuan candi ini dengan nama Candi Pamotan 2.

Konon, Candi Pamotan 2 dianggap oleh masyarakat Desa Pamotan sebagai tempat yang keramat. Rimbunnya hutan bambu di sekeliling candi seolah menciptakan suasana mistis, ketika kami menyambangi candi yang sudah berserakan ini.

Waktu kami meninjau situs ini, seorang warga Desa Pamotan bernama Sulkan menemani perbincangan kami siang itu. Suara gesekan pohon bambu satu dengan lainnya akibat tiupan angin menambah suasana magis sekitar candi. Sekaligus membuat kami nyaman untuk berteduh dan beristirahat sejenak.

Sulkan mengisahkan, dulu ada tetangga di desanya yang secara berani mencuri batu bata Candi Pamotan 2 untuk membangun rumah. Sebenarnya tokoh dan warga desa lainnya sudah mengingatkan agar batu bata kuno itu dikembalikan ke tempat asalnya, tetapi tetangga Sulkan tetap nekat saja dan tak menggubris nasehat tadi.

Kata orang-orang desa, pencurian batu bata kuno yang dilakukan tetangga Sulkan untuk bangunan rumah itu berkaitan dengan ritual tertentu. Benar tidaknya tidak diketahui secara pasti. Yang jelas, benda bersejarah yang seharusnya milik negara dan rakyat ini akhirnya raib begitu saja untuk kepentingan pribadi.

Hal ini bisa diancam hukuman pidana penjara dan denda ratusan juta rupiah bila yang bersangkutan dibawa ke ranah hukum. Setelah bertanya banyak hal dan potret sana-sini di situs tersebut, kami berpamitan undur diri. Melanjutkan penelusuran situs-situs kuno dan bersejarah lainnya.

Foto Terkait
 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        

Redaksi: redaksi[at]detik.travel
Moderator: admin[at]detik.travel
Media Partner: promosi[at]detik.com 
Iklan: sales[at]detik.com
 

Follow us on @detiktravel

Contact Us

redaksi[at]detik.travel
admin[at]detik.travel
sales[at]detik.com