DetikTravel









Travel Highlight Pulang Kampung

Kisah Perjuangan Mudik ke Kampung Halaman

Faela Shafa - detikTravel - Kamis, 25/07/2013 15:23 WIB
Jakarta - Seribu satu kisah membalut perjalanan pulang kampung. Demi merayakan Idul Fitri di kampung halaman, hingga bertemu sanak keluarga tercinta. Inilah kisah-kisah perjuangan mudik ke kampung halaman.

Kereta jadi salah satu alternatif kendaraan favorit untuk pulang kampung. Sebelum ada peraturan kursi kereta 100 persen, banyak traveler yang membludag di kereta sehingga mau tak mau duduk di lantai kereta.

Seperti yang dialami Agung, traveler yang bertolak ke Yogyakarta dari Jakarta. Ia terpaksa duduk di lantai lantaran tak punya tempat duduk. Setelah lama menyesuaikan diri, akhirnya ia bisa tidur. Baru saja terlelap tidur, ia pun terkaget bangun karena pipinya terasa hangat yang kelamaan jadi panas.

Ada ibu yang menawarkan nasi bungkus. Tidak sukarela, melainkan harus beli. Cara berjualannya lucu sekaligus mengesalkan, menempelkan nasi bungkus ke pipi orang yang sedang tertidur, lalu menawarkan saat mereka membuka mata.

Sulit mencari tiket adalah hal yang umum terjadi saat menjelang Lebaran. Pram pun mengalami hal yang sama. Demi bisa pulang ke kampung halaman, ia rela ngeteng ke rumah. Tidak menaiki kendaraan umum, ia mencari teman dan kerabat yang akan pulang kampung. Dalam perjalanannya dari Jakarta sampai Solo, ia menumpang dengan 3 orang berbeda.

Dari Jakarta sampai Tegal, ia menumpang dengan kerabatnya. Di Tegal, ia mencari temannya (dan kebetulan bertemu dengan teman yang akan pulang ke Semarang). Sampai Semarang, ia lanjutkan perjalanan bersama temannya sampai ke Solo.

Meski sudah ada beragam sistem pembelian tiket kereta, banyak juga yang masih rela mengantre demi membeli langsung di loket. Seperti Malik, ia datang ke Gambir pada tengah malam dan berharap jadi orang satu-satunya yang mengantre tiket.

Ternyata, banyak juga orang yang menunggu di depan loket, bahkan banyak juga yang rela tidur sambil mengantre padahal loket baru buka subuh hari nanti. Semakin larut, antrean bukan menyusut malah jadi makin panjang. Untungnya penantian berujung manis, Malik pun dapat tiket pulang untuk Lebaran.

Kejahatan bukan hal aneh lagi di perjalanan menuju kampung halaman. Clara, traveler yang pulang dari Jakarta ke Padang waktu itu menggunakan bus untuk pulang kampung. Di tengah jalan, bus yang ditumpanginya disalip bus lain dan anehnya bukan langsung ngebut, bus itu malah menepi.

Tak lama orang dalam bus keluar dengan muka yang sama yaitu pucat. Ternyata bus itu baru dirampok. Tak ingin terjadi hal yang sama di bus yang ditumpanginya, seorang tentara lengkap dengan seragamnya maju dan duduk di kursi depan, menggantikan kenek.

Konon katanya, hampir semua tentara yang pulang kampung memilih memakai seragam agar secara tidak langsung bisa membantu mengamankan perjalanan. Benar saja, perjalanan bus yang ditumpangi Clara pun selamat sampai tujuan.

Memang pulang kampung butuh perjuangan. Kala itu, Fachri, traveler dari Jakarta pulang kampung ke Mojokerto bersama keluarganya. Karena sengaja santai, ia bersama keluarga memutuskan menginap hotel daerah Tegal. Ternyata semua hotel penuh dan hanya tersisa satu kamar kecil yang hanya muat untuk 3 orang.

Karena tidak muat sekamar berlima, Fachri dengan rela tidak tidur di kamar melainkan tidur di mushala. Beralaskan sejadah, ia melewatkan malam di musala. Saat pagi, ia baru menyadari, sebelah musala adalah makam. Untungnya tidak ada penampakan yang seram-seram.

(ptr/fay)
Baca Juga

Redaksi: redaksi[at]detik.travel
Moderator: admin[at]detik.travel
Media Partner: promosi[at]detik.com 
Iklan: sales[at]detik.com
 
Twitter Detik Travel
Follow us on @detiktravel
Email To Detik Travel

Contact Us

redaksi[at]detik.travel
admin[at]detik.travel
sales[at]detik.com