detiktravel

Gunung Api Tertinggi di Indonesia

Jejak Petualang TRANS7 - d'Traveler - Senin, 26/08/2013 17:31:21 WIB
detikTravel Community -  

Kenapa anda mendaki gunung? Karena gunung itu ada. Pepatah diatas sering di dengar di kalangan pendaki di dunia, rasa ingin tahu dan penasaran yang secara alamiah dimiliki manusia, mendorong kita menjelajahi tempat yang belum pernah kita datang, entah itu gunung, palung, kutub atau belantara.

Seperti gunung yang menjulang tinggi diantara ladang teh dan hutan tropis yang masih asri, membuat saya ingin merasakan keindahan-nya dari atas sana. Pas di musim nya. Beberapa satwa mulai terlihat dan ada pak danuri yang tahu persis kebiasaan dan lokasi disini.

Selain menjadi tujuan wisata pendakian, taman nasional kerinci seblat juga menjadi salah satu tujuan wisata pengamatan spesies khusus dan tamunya bukan hanya dari dalam negeri, tapi dari manca negara.

Dalam jalur pendakian ke puncak, gunung kerinci memiliki 3 pos dan 3 shelter dan setiap titik pemberhentian memiliki karakter tersendiri.tak hanya sering dikunjungi wisatawan/ disini banyak juga peneliti yang terkagum dengan banyak penemuan, salah satunya yang akan dikasih tahu pak danuri.

Dengan indikasi awal memiliki zat yang dapat membunuh virus penyebar kanker, pohon terasa sangat bernilai tinggi, beruntungnya disini taxus tumbuh liar tanpa harus dirawat. Sungguh satu kekayaan alam indonesia. Target menuju shelter 3 sebagai tempat istirahat sebelum ke puncak dinihari, bukan hal mudah dilakukan. Tanjakan yang semakin tinggi semakin curam bukan mempermudah pendakian, mental yang diuji disini.

Semakin tinggi pendakian, vegetasi mulai berubah dari hutan tropis yang berkanopi berganti ke tanaman kerdil yang diselingi satu dua pohon tegak. Dibatasi waktu perjalanan ke shelter 3 menjadi ujian terakhir hari ini, karena jika malam tiba suhu udara yang turun drastis akan memperburuk kondisi.

Senang nya mencapai target sesuai waktu, selain aman untuk diri kita, tapi jangan lengah dengan keberhasilan kecil ini.

Sering meyepelekan hal kecil terkadang berakibat sangat fatal pada kondisi tertentu. Seperti hari ini perkiraan cuaca berkisar pada 2 derajat celcius pada malam hari, jika ditambah pakaian basah akan menguras energi yang sangat besar. Tapiiii, meski dingiiin bulan purnama nyaaaa,  kereeeenn bangeeeet...

Dibawah terang nya bulan purnama yang mulai bergeser kearah barat, hawa dingin bukan berkurang hanya semangat yang menjadi modal utama saya. Jam 04.30 kami mulai meninggalkan hangatnya peralatan tidur, perlahan kaki melangkah menanjak.

Dengan suhu 2 derajat tubuh ini masih mampu melawan, angin yang bertiup kencang membuat rasa dingin langsung menusuk tulang, tapi bulan sangat setia menghangatkan perjalan saya.

Sedikit demi sedikit sinar matahari menambah hangatnya badan dan mulai membentuk bayangan yang menakjubkan dibelakang saya, memperjelas bentuk gunung ini. Dengan langkah kecil, puncak indrapura terlihat dekat di mata/ sayang masih jauh di kaki.

Hilang sudah rasa lelah, kesal, hanya kegembiraan yang tersisa. Apalagi pemandangan dari sini sangat mengagumkan.

Dengan kawah yang masih sangat aktif, gunung api tertinggi di nusantara ini selain memberi ancaman juga memberi berkah kesuburan yang tiada tara.

Hamparan hijau kekuningan yang terlihat dari atas gunung kerinci, kini menjadi tujuan saya berikutnya. Tanah yang ditengahnya berliku sungai kecil, menjadi pemandangan yang sangat berbeda dengan gunung yang telah saya daki.

Rawa ini sebetulnya adlah sebuah danau, karena akumulasi dari sendimen yang turun dari pegunungan disekitar, menjadikan danau semakin dangkal,  bahkan terkesan airnya mulai hilang dari pandangan.

Nama bento sendiri diambil dari nama jenis rumput yang banyak tumbuh disekitar rawa ini, yaitu rumput bento walau demikian rawa ini menjadi penghidupan bagi banyak orang,  salah satunya pak im.

Menyesuaikan dengan kondisi lahan rawa disini, masyarakat membuat jaring ikan dengan rangka, untuk mempermudah pencarian ikan.

Selain teknik, pemilihan lokasi dan pengalaman menjadi penting, agar pemasangan pesap tidak sia sia. Sambil menunggu, saya dan pak im akan mencari hewan buruan yang lain.

Hanya beberapa meter dari lokasi pemasangan jaring di tepi gundukan tanah ini banyak terlihat lubang yang di indikasi sarang belut. Untuk mempermudah pencarian pancing, senar diberi tanda. Tidak menyia nyiakan waktu, target berikutnya, ikan lele.

Bukan semakin keras tanah yang kami injak, semakin ke tengah semakin lunak tanah rawa yang kami lewati. Disini pemilhan pijakan harus jeli, jika tidak kaki akan terjerumus dalam lubang yang cukup dalam. Dengan tanda tanda yang sudah dihafal pak im, kami mulai memasang pancing sebanyak mungkin.

Berbeda dengan cara pancing ikan disungai, disini pacing diikatkan pada ujung ranting dan di dorong masuk dalam lubang.

Lele tidak pernah ditemukan di air payau atau air asin, kecuali lele laut yang tergolong ke dalam marga dan suku yang berbeda. Habitatnya di sungai dengan arus air yang perlahan, seperti rawa, telaga,  waduk atau sawah yang tergenang air.

Saatnya melihat pancing belut, semoga kemahiran pak im membuahkan hasil. Hanya berselang beberapa menit saja pancing kami tinggal, tapi lihat hasilnya.

Dan sudah waktunya kami harus kembali ke lokasi ikan lele. Ranting yang menjadi tanda pancing kami terlihat bergerak gerak, saya yakin pasti ada ikan diujung pancing. Semakinn banyak pancing, semakin besar kemungkinan mendapatkan ikan teori itu sangat beralasan. Selesai mengambil pancing belut dan lele, sambil menuju jalan pulang kami akan melihat pesap yang telah kami pasang.

Rawa-rawa penuh dengan nutrisi, ekologi untuk kehidupan berbagai macam makhluk hidup selain menjadi pembersih alamiah. Karena rawa berfungsi menjadi filter pencemaran lingkungan alam, sehingga lingkungan rawa harus tetap dijaga kelestariannya.

saksikan selengkapnya dalam episode "Gunung Api Tertinggi di Indonesia " selasa 20 agustus 2013 pkl 15.15 wib

follow juga akun @jejakpetualang7 untuk update info terkini tentang program Jejak Petualang hanya di trans7

  //   //   //

Foto Terkait
 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        

Redaksi: redaksi[at]detik.travel
Moderator: admin[at]detik.travel
Media Partner: promosi[at]detik.com 
Iklan: sales[at]detik.com
Artikel
Terbaru
Most
Popular
 
Must Read close

Follow us on @detiktravel

Contact Us

redaksi[at]detik.travel
admin[at]detik.travel
sales[at]detik.com