Rakutak, Gunung Perawan dari Bandung

Dea Sihotang - d'Traveler - Rabu, 02/10/2013 15:14:00 WIB
detikTravel Community -  

Wisata gunung di sekitar Bandung ternyata tak hanya Kawah Putih atau Gunung Tangkuban Perahu saja. Siapa yang sudah mendengar Gunung Rakutak? Para petualang wajib mencoba gunung perawan yang jarang didaki ini.

Bosan dengan rutinitas kota Jakarta, kami pun berencana "escape on the weekend". Pilihan tempat kali ini jatuh ke Gunung Rakutak di Bandung. Belum pernah dengar namanya? Yuk ikuti cerita kami.

Ide perjalanan ke Gunung Rakutak muncul dari salah satu teman yang notabene adalah pencinta alam. Cukup banyak gunung di pulau Jawa yang telah dia kunjungi. Bagi saya, hiking atau naik gunung adalah satu hal yang luar biasa.

Sebabnya, naik gunung bukan suatu aktivitas yang ada di dalam bayangan kepala saya selama ini. Ditambah, nama gunung yang menjadi tujuan kami cukup aneh, Rakutak, nama apa itu? Tanya punya tanya dengan teman-teman, rekan kerja, bahkan keluarga, yang cukup sering mengunjungi Kota Bandung, bahkan berdomisili cukup lama, bagi mereka pun, nama gunung ini cukup aneh.

Terbelit rasa ingin tahu yang cukup besar, serta bosannya mengikuti rutinitas harian di kota seribu kendaraan alias Jakarta, jadilah saya mengiyakan menjadi bagian dari tim ekspedisi Gunung Rakutak. Ini salah satu gunung purba yang berada di Bandung Selatan.

Sehari sebelum rencana kepergian kami, seorang teman datang dari Capetown. Dia seorang Belanda yang baru saja mengunjungi Kota Capetown dan hendak tinggal di Kota Yogya selama 5 bulan untuk melakukan sebuah riset tentang pariwisata Yogyakarta.

Kedatangannya yang baru tiba pada pukul 23.00 WIB, cukup mengkhawatirkan saya sebagai temannya. Pasalnya, besok kami berencana berangkat pukul 07.00 WIB.

Khawatir dengan jetlag yang menimpa dia karena perbedaan waktu Indonesia dengan Afrika Selatan, akhirnya keberangkatan kami tunda hingga pukul 09.00 WIB. Sehingga dia memiliki waktu untuk tidur lebih lama dan sedikit pulih.

Setibanya di Terminal Lebak Bulus, tempat janjian keberangkatan, baru saja kaki kami hendak melangkah ke dalam terminal, tiba-tiba seorang bapak menagihkan "uang masuk". Spontan saya kaget dan kebingungan. Ternyata penagihan uang masuk ini karena ada seorang bule ini yang kubawa, jadinya muncul uang aneh yang seharusnya tidak perlu. Istilahnya, orang bule bilang "the price of skin".

Dengan kesal aku langsung menolak ide si bapak, bukan karena jumlah uangnya. Tapi karena ada alasan yang tidak masuk akal, dimana seorang penumpang masuk ke dalam terminal harus bayar Rp 2.000, seperti motor saja. Akhirnya bis menuju Leuwipanjang membawa kami ke Kota Bandung. Terkantuk-kantuk kami pun tertidur menikmati ayunan bis.

Perubahan suasana dari kota yang penuh sesak dengan bangunan ke pemandangan sawah-sawah, lahan hijau luas, serta gunung-gunung menerbitkan semangat kami akan petualangan yang menanti. Usut punya usut dari beberapa pengalaman teman traveling yang pernah pergi ke Gunung Rakutak, mereka bisa mencapai gunung tersebut dengan menaiki kendaraan umum, tentunya beberapa kali berganti kendaraan.

Namun karena total tim kami ada 8 orang, kami pun menyewa sebuah mobil dan patungan biaya sewa, yang bila dihitung akan lebih praktis dan adil untuk transportasi kami ke sana, dibandingkan bersusah payah mencari-cari angkutan publik yang tepat.

Si abang pengemudi ternyata cukup lama tinggal di Jakarta, orangnya cukup ramai dan riuh. Setelah mencatat nomor ponsel beliau dan memintanya untuk menjemput kami esok hari, sampailah kami di Desa Petani.

Cukup lucu ketika kami bertanya arah menuju Gunung Rakutak. Posisinya berada di Desa Sukarame, namun banyak penduduk sekitar yang juga tidak tahu menahu dimana Gunung Rakutak berada.

Setelah beberapa kali salah jalan, akhirnya kami menemukan titik terang langkah awal pendakian menuju Gunung Rakutak. Jika gunung-gunung terkenal seperti Papandayan, Salak, Gede sudah mempunyai pintu masuk Taman Nasional, Gunung Rakutak belum punya.

Hal ini menandakan sedikitnya manusia yang menjadikan Gunung Rakutak destinasi hiking mereka. Ternyata tepat sebelum naik gunung, kami bertemu dengan Kepala Desa setempat.

Beliau meminta nomor telpon kami sebagai data pendaki gunung. Memang seharusnya kami melapor dan memberikan fotokopi KTP seperti biasa yang dilakukan pada pintu masuk Kawasan Hutan/Taman Nasional. Setelah memberitahu nama-nama kami dan berjanji untuk memberi kabar jika telah turun gunung, kami pun siap memulai pendakian.

Jangan pandang enteng gundukan bukit kebun bawang yang terlihat indah dari jauh. Kemiringan tanahnya yang cukup curam membuat betis secara cepat menjadi ngilu dan punggung yang membawa keril menjadi kebas.

Peluh keringat muncul tidak tanggung-tanggung membasahi pakaian kami. Jaket yang tadinya kukenakan langsung saja saya lepas, karena rasanya seperti sesak nafas.

Akhirnya kami sampai ke tempat yang lebih landai. Tantangan selanjutnya bukan lagi kemiringan tanah yang cukup curam, walaupun hampir seluruh perjalanan membuat kami kehabisan nafas.

Kali ini, tingginya rumput liar yang hampir setinggi orang membuat kami harus menggunakan jaket kembali. Cukup agak telat aku mengambil jaket dan menggunakannya, beberapa goresan dari daun ilalang menjadi oleh-oleh tersendiri di kaki dan leher saya.

Ada saat-saat dimana rasanya kaki sudah tidak sanggup untuk menjejakan langkah. Gunung Rakutak memang tidak bisa disamakan dengan gunung-gunung lain yang ketinggiannya mencapai 2.000-an mdpl.

Total ketinggian Gunung Rakutak adalah 1.954 mdpl. Gunung Rakutak mempunyai 3 puncak. Dari puncak 1 menuju puncak 2 dijembatani oleh sebuah jalanan sempit seperti jembatan alam namun pada sisi kiri dan kanannya terdapat jurang yang sangat dalam. Jembatan itu dinamakan Sirathal Mustaqim.

Kami memulai pendakian pada pukul 16.00 WIB, dan tiba di puncak 1 pada pukul 20.00 malam WIB. Perjalanan memakan waktu 4 jam karena tim sangat paham beberapa orang dari kami belum pernah atau belum terbiasa naik gunung.

Teman bule saya juga cukup khawatir ketika kami naik gunung pada malam hari. Kekhawatirannya akan adanya ancaman hewan serta kemungkinan kami jatuh terjembab karena licinnya jalanan paska hujan, cukup membuat saya ketakutan.

Untungnya tim kami cukup solid dan pengertian, walau 4 di antaranya pendaki tangguh, mereka cukup mengerti untuk memberikan waktu agar kami dapat beristirahat beberapa menit setiap lelah menyergap.

Rute yang kami lalui cukup berat, pasalnya gunung ini masih minim pengunjung. Gelapnya malam membuat kami juga harus ekstra berhati-hati.

Dengan bekal senter dan kayu panjang sebagai tongkat, kami beriringan berjalan meniti gunung, kadang sisi kanan atau kiri kami adalah jurang yang terjal. Kadang semak ilalang yang tinggi membuat kami tidak bisa melihat apa-apa.

Akhirnya dengan sangat kelelahan, kami memutuskan untuk langsung mendirikan tenda jika kami menemukan lahan datar. Sayangnya lahan datar cukup sulit ditemukan.

Dengan sedikit berkecil hati, kaki saya secara otomatis mengikuti langkah teman yang berada di depan. Rasanya otak sudah tidak bisa berpikir apa-apa lagi. Hanya langkah-langkah pasti si pembuka jalan yang membuat saya terus melangkah mengikuti langkah kakinya.

Akhirnya terdengar suara teriakan, lahan datar telah kami temukan. Dengan senang hati, kami langsung mengecek area lahan. Lahannya cukup sempit dan ternyata kami ada di puncak 1.

Sempitnya lahan menyebabkan kami hanya bisa membangun 2 tenda. 1 tenda untuk perempuan yang hanya diisi saya dan teman bule, satu tenda lagi untuk 3 lelaki dan 3 lelaki lainnya tidur di alam terbuka berbekal sleeping bag.

Setelah melepaskan lelah, mengganti baju dan celana yang basah karena embun, lumpur dan keringat, kami mulai membuka persediaan ransum makanan. Ada kopi instan, mie instan, nasi bungkus, coklat, keripik, serta roti. Seorang teman dengan kreatifnya membuka bekal persediaan andalan, sebuah speaker mini, kontan kami pun menyalakan lagu dari handphone kami dan mulai bernyanyi-nyanyi gembira.

Rasa lelah berangsur-angsur menghilang, setelah saling bercerita, kami pun berpamitan untuk tidur. Sayangnya, semalaman saya tidak bisa tidur walaupun tenda yang kami tempati sangat nyaman. Permukaan tanah yang berbatu dan tidak rata serta kaki yang terasa seperti bongkahan kayu, membuat saya tidak bisa memejamkan mata. Ditambah rasa dingin merayapi tubuh kecil ini, akhirnya membuat saya meraih sarung tangan, kaus kaki dan selimut, namun tetap saja kedinginan.

Baru saja mata ini mulai mengantuk dan hendak terpejam, rasanya Sang Surya cukup semena-mena datang menghampiri. Sunrise pun tiba, matahari muncul dengan indahnya, dan kami keluar dari tenda untuk menikmati pemandangan.

Gunung yang begitu gelap pada saat kami melewatinya di malam hari, ternyata mengandung jutaan warna keindahan yang menyejukan mata. Sejauh mata memandang, lembah hijau mempesona terpampang luas, liar, kelam, dingin, namun seperti menerima kami dengan kedua belah tangan terbuka.

Sebuah ucapan syukur muncul dari hati saya atas keindahan yang telah Tuhan ciptakan untuk kami para manusia. Kami pun ditemani oleh puluhan burung walet yang terbang rendah di atas kepala.

Seekor burung elang juga terlihat seperti mencari mangsa. Rasanya memang agak norak, tapi rasa senang saya semakin lengkap rasanya ketika melihat dengan mata kepala sendiri pohon bunga Edelweiss. Wow!

Akhirnya apa yang menjadi impian selama ini terwujud. Ternyata jembatan Sirathal Mustaqim yang sangat terkenal itu, berada tepat di belakang tenda kami.

Untunglah kami cukup bijak tadi malam mendirikan tenda di Puncak 1, walaupun info yang kami dapatkan, tenda biasanya dibangun di Puncak 2. Tidak terbayangkan jika tadi malam kami nekat dengan ketidaktahuan kami melewati jembatan tersebut.

Jembatan tersebut tidak terlalu panjang, hanya sekitar 50-80 meter. Namun jalannya sempit dan jurang kiri dan kanan jembatan membuat nyali rasanya sedikit menciut.

Beberapa teman kami tetap ingin memuaskan keingintahuan mereka untuk mencapai Puncak 2 dan 3. Mereka mulai mendaki gunung sementara saya dan beberapa teman lain tetap menikmati alam di dalam tenda dan mulai membereskan barang-barang.

Sudah bukan rahasia lagi jika para pencinta alam harus tidak manja dan mudah beradaptasi dengan keadaan. Salah satunya adalah mengenai buang air kecil dan mandi.

Tentu saja tidak bisa mandi karena di gunung ini tidak ada semacam kali, danau atau bahkan genangan air. Air kemasan botol yang kami beli harus kami hemat. Oleh karena itu kami cukup menggosok gigi supaya lawan bicara kami tidak pingsan ketika kami berbicara.

Untungnya si bule tidak manja, bahkan dia yang mengajarkan saya untuk cuek buang air kecil di tengah alam terbuka, tentu saja setelah menimbang-nimbang lokasi yang aman dan tidak terlihat oleh orang lain.

Dalam bepergian dari tenda, kami juga harus hati-hati, karena sebelah kiri dan kanan dari tenda kami sudah merupakan jurang terkait dengan lahan yang cukup sempit.

Setelah kawan kami kembali dari kedua puncak gunung, kami bersiap meninggalkan lokasi dan membereskan tenda. Sampah kami kumpulkan dan gabungkan menjadi satu. Hukum utama para khalayak pengaku pencinta alam adalah jangan membuang sampah sembarangan.

Terutama di alam liar, tinggalkan tempat dalam keadaan bersih dan jangan rusak pemandangan alam dengan sampah yang berserakan di mana-mana. Perjalanan pulang juga cukup sulit.

Terjalnya jalur yang harus dihadapi membuat kami harus ekstra hati-hati. Jalanan menjadi sangat licin dan berlumpur, karena embun pagi hari dan ketatnya dedaunan yang menutupi sinar matahari mencapai tanah. Sehingga tanah menjadi sangat lembab dan cenderung becek.

Untuk menghindari jatuh, saya terpaksa menuruni gunung dengan berbalik badan di beberapa tempat yang sangat curam. Ada kalanya saya menjadi tidak fokus karena melihat alam yang sangat indah. Sehingga tanpa sadar saya menginjak sesuatu dan terjatuh.

Akhirnya kami melihat kembali kebun bawang dari Desa Petani yang menjadi awal permulaan pendakian kami. Tidak pernah merasa sesenang itu saya melihat kebun bawang. Setelah mengalami perjalanan yang sangat melelahkan, akhirnya kami tiba dengan selamat di bawah kaki gunung.

Si bapak pemilik mobil sewaan telah siap sedia menunggu kami. Setelah memberi kabar kepada Kepala Desa bahwa kami telah turun gunung dengan selamat, kami meneruskan perjalanan ke Leuwipanjang. Lama perjalanan sekitar 1,5-2 jam dari Desa Sukarame ke Leuwipanjang.

Setelah berbersih sekadarnya di toilet umum terminal, kami kembali ke Jakarta dengan perasaan riang gembira walau tubuh sangat lelah. Kami ribut sejenak membahas kembali serunya perjalanan kami. Namun ayunan bis membuat kami tertidur cukup pulas, hingga kami tiba di Jakarta dan harus berpisah.

Sampai jumpa di petualangan traveling berikutnya ya!

Foto Terkait
 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        

Redaksi: redaksi[at]detik.travel
Moderator: admin[at]detik.travel
Media Partner: promosi[at]detik.com 
Iklan: sales[at]detik.com
 

Follow us on @detiktravel

Contact Us

redaksi[at]detik.travel
admin[at]detik.travel
sales[at]detik.com