Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 14 Jul 2021 10:40 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Air Terjun Sigerincing yang Amazing

Air terjun Sigerincing
Air terjun Sigerincing
detikTravel Community -

Di Jambi ada air terjun Sigerincing yang indahnya bukan main. Pemandangannya pun amazing! Traveler ada yang sudah pernah ke sini?

Pagi itu langit tampak tak biasa. Mentari bersembunyi, gumpalan awan kelabu berarak, langit seakan hendak menumpahkan jutaan liter air ke muka bumi.

Tapi apapun yang terjadi, saya, istri, dan Aisha - putri kami yang masih berusia dua tahun - sudah bertekad bahwa kami harus mewujudkan cita-cita yang terpendam lama: menikmati hawa sejuk air terjun Sigerincing.

Dari Kota Jambi, kami merayap dengan sepeda motor Vario kesayangan, melewati 3 kabupaten, sebelum mencapai Kota Bangko, ibu kota Kabupaten Merangin, Jambi. Syukurlah, perjalanan lebih dari 250 kilometer lancar tanpa kendala.

Hujan yang digadang-gadang akan datang juga mengurungkan rencananya. Dengan tekad yang semakin bulat dan kesabaran yang kian tipis kami melanjutkan perjuangan menuju Sigerincing.

Perjalanan dari Bangko ke Sigerincing yang terletak di Desa Tuo, Kecamatan Lembah Masurai, lumayan memakan waktu, lebih dari dua jam. Jalannya yang berkelok seperti ular menghalangi kami memacu kendaraan.

Tapi jalan yang berliku ini menyimpan kenikmatan mata tiada tara. Di sepanjang perjalanan kami dimanjakan dengan pemandangan spektakuler.

Sungai mengalir begitu indahnya, kebun kopi dan kayu manis terhampar luas, pepohonan menjulang tinggi menyentuh langit, suara burung sahut-menyahut, dan sesekali terdengar raungan ungka yang menembus pekatnya rimba.

Di salah satu puncak bukit kami berhenti sejenak untuk menikmati sajian surga yang tersuguh di depan mata. Ah, damainya hidup.

Perjalanan kembali kami lanjutkan dengan mendaki dan menuruni bukit lagi, sebelum akhirnya mencapai tujuan. Oleh pemuda setempat kami diarahkan untuk parkir di lokasi yang telah disediakan. Mereka juga memberi karcis masuk yang ditebus dengan mahar 15.000 rupiah.

Dengan langkah penuh semangat kami berjalan menuju Sigerincing. Warga sekitar yang tengah bercengkrama di sebuah toko tak henti menganggukkan kepala sembari menebar senyum lebar. Hangat sekali sambutan mereka.

Seorang ibu paruh baya bahkan menyapa kami dengan rona wajah yang sangat bersahabat. Meski tidak tahu apa yang dia sampaikan, kami dapat menerima pesan si ibu bahwa dia berusaha membangun jembatan kedekatan dengan kami.

Untuk mencapai Sigerincing kami mesti menuruni jalan setapak curam. Untunglah jalannya sudah disemen, jadi tidak licin. Tapi rutenya cukup panjang.

Kami jadi terbayang betapa melelahkan ketika kembali ke atas nanti. Tapi sudahlah. Untuk saat ini kami fokuskan saja ke pesona serta kenikmatan alam yang akan kami nikmati di bawah sana.

Sigerincing tampak sangat gagah. Hempasan airnya gahar, seperti hendak menghancurkan bebatuan besar yang terhampar di kakinya. Mungkin inilah mengapa air terjun yang bersumber dari Sungai Siau itu disebut Niagara Mini Jambi.

Kami langsung mengambil ancang-ancang mandi. Saya dan Aisha masuk ke dalam air di sisi depan Sigerincing yang alirannya tidak begitu deras, sementara sang istri mengabadikan keelokan alam sekitar dengan kamera smartphone-nya.

Air terjun Sigerincing yang jernih bak kaca tak tersentuh debu terasa amat sejuk. Hawa di sekeliling sangat menyegarkan paru-paru. Bebatuan besar yang menghitam membuat aliran air Sigerincing berundak-undak. Panorama di sekeliling Sigerincing amat hijau, seperti taman nirwana yang menjulur dari langit.

Sigerincing memang sempurna untuk menghilangkan penatnya suasana kota serta sesaknya beban kerja. Namun demikian, di balik pesonanya, Sigerincing perlu perhatian pembuat kebijakan.

Boleh dikatakan selain infrastruktur alam, fasilitas buatan manusia sangat minim. Di sekitar Sigerincing tidak ada penginapan. Tempat makan pun nihil. Yang ada hanya warung kecil semi permanen milik warga yang menjual air minum mineral dan mie instan. Itu pun hanya satu dua warung.

Musala yang telah dibangun tampak tidak dirawat. Lantainya kotor berlumpur, dan dindingnya sudah dirambati lumut. Toilet untuk publik serta bilik buat ganti baju juga tidak tersedia. Transport ke Sigerincing pun setali tiga uang, belum ada armada khusus.

Bagi pelancong yang hendak berkunjung mesti mengintai mobil travel yang melintas dulu, atau mampir ke ke loket travel yang berlokasi di Bangko. Tentu ini menghambat kelancaran perjalanan.

Minimnya fasilitas umum di Sigerincing ini membawa ingatan saya terbang menyeberangi Selat Malaka. Tahun 2013 silam saya diundang pemerintah negeri Selangor, Malaysia, dalam rangka meliput objek wisata yang ada di sana.

Jujur saja spot wisata yang mereka miliki biasa saja. Bukit Melawati, Kuala Selangor, atau Batu Caves, semuanya tidaklah seistimewa foto atau video 'Malaysia Truly Asia' yang dikampanyekan di internet.

Dibandingkan Sigerincing, keindahan tempat-tempat ini kalah jauh. Tapi yang membedakan tempat wisata di Malaysia dengan yang dimiliki Indonesia, dan mengapa lebih banyak pelancong mancanegara ke negeri jiran itu dibandingkan ke negara kita, apa lagi ke Jambi, adalah infrastruktur.

Semua tempat wisata yang kami kunjungi memiliki sarana dan prasarana yang amat baik. Akses menuju lokasi wisata mulus dan berkualitas. Toilet tersedia. Tempat makan banyak. Dan terlihat jelas jika tiap-tiap tempat wisata dikelola dengan sungguh-sungguh dan profesional.

Matahari kian turun ke ufuk barat, tubuh saya dan Aisha juga sudah menggigil. Kami pun bersiap pulang. Benar saja, pendakian ke atas menuju parkir cukup membuat nafas sesak dan betis terasa pecah.

Tapi itu semua terobati ketika dalam perjalanan pulang kami menemukan penjual durian di tepi jalan. Dengan lahap kami bertiga menyantap tiga buah, di mana satu buahnya hanya dihargai 15 ribu rupiah.

Perjalanan ke Sigerincing abadi dalam ingatan kami, dan jika ada kesempatan lagi tanpa segan kami akan kembali.

Sigerincing memang amazing!

BERITA TERKAIT
BACA JUGA