Rumah Guru Kungfu Shaolin di Parakan: Jejak Louw Djing Tie di Tanah Jawa
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Rumah Guru Kungfu Shaolin di Parakan: Jejak Louw Djing Tie di Tanah Jawa

Muhamad Irfan - detikTravel
Selasa, 10 Feb 2026 19:05 WIB
loading...
Muhamad Irfan
Foto Louw Djing Tie guru kungfu asal Shaolin
Miniature Louw Djing Tie
Buku mengenai Louw Djing Tie
Rumah Guru Kungfu Shaolin di Parakan: Jejak Louw Djing Tie di Tanah Jawa
Rumah Guru Kungfu Shaolin di Parakan: Jejak Louw Djing Tie di Tanah Jawa
Rumah Guru Kungfu Shaolin di Parakan: Jejak Louw Djing Tie di Tanah Jawa
Temanggung -

Tahukah Anda? Di Parakan, Temanggung, Jawa Tengah, terdapat sebuah rumah tua yang pernah menjadi tempat tinggal seorang guru kungfu dari perguruan Shaolin. Kisah ini bukan sekadar legenda, melainkan bagian dari jejak sejarah perantauan seorang pendekar kungfu yang datang ke Nusantara pada akhir abad ke-19.

Bagi pecinta film kungfu, Shaolin dikenal sebagai perguruan legendaris yang melahirkan pendekar-pendekar ternama. Secara historis, Perguruan Shaolin telah berdiri lebih dari 1.000 tahun, dengan murid yang tersebar di berbagai belahan dunia. Dari tradisi panjang itulah muncul sosok Louw Djing Tie, seorang ahli kungfu yang kemudian menetap di Parakan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Louw Djing Tie sejak kecil mempelajari bela diri kungfu di perguruan Shaolin di Tiongkok. Ketika dewasa, ia mendaftar sebagai prajurit Dinasti Qing (1644-1912), pada masa ketika Tiongkok berada dalam situasi politik yang bergejolak akibat perebutan pengaruh bangsa-bangsa Eropa.

Untuk diterima sebagai tentara, para pelamar harus menunjukkan kemampuan bela diri dengan bertarung melawan peserta lain. Dalam salah satu ujian tersebut, Louw Djing Tie terlibat duel sengit. Tanpa sengaja, ia melancarkan jurus yang menyebabkan lawannya tewas. Peristiwa itu menjadi titik balik hidupnya.

ADVERTISEMENT

Dihantui rasa bersalah dan tekanan situasi, Louw Djing Tie memilih meninggalkan Tiongkok. Ia merantau ke Asia Tenggara, singgah di berbagai kota seperti Singapura, Batavia (Jakarta), Semarang, Kendal, Ambarawa, dan Wonosobo, sebelum akhirnya menetap di Parakan hingga akhir hayatnya.

Di Parakan, Louw Djing Tie menjalin persahabatan dengan Hoo Tiang Bie, pemilik rumah tempat ia tinggal. Ia diizinkan menempati salah satu sudut halaman depan rumah tersebut.

Kini, di bagian rumah yang dahulu ditempati Louw Djing Tie, pengunjung masih dapat melihat berbagai koleksi senjata tradisional seperti pedang, golok, dan tombak, serta foto-foto lama dirinya dengan peci hitam.

Selama tinggal di Parakan, Louw Djing Tie mendirikan perguruan kungfu bernama Garuda Mas. Salah satu murid utamanya adalah Hoo Tik Tjay (atau Bah Suthur), putra Hoo Tiang Bie, yang dikenal sebagai tokoh yang dihormati dan disegani.

Louw Djing Tie wafat pada tahun 1921 dan dimakamkan di Gunung Manden. Sayangnya, sepeninggalnya, perguruan Garuda Mas perlahan meredup hingga akhirnya tutup.

Sejarah Omah Tjandi Gotong Royong

Lalu bagaimana sejarah rumah ini? Rumah yang pernah ditinggali Louw Djing Tie dikenal dengan nama Omah Tjandi Gotong Royong. Bangunan ini awalnya dimiliki oleh seorang bangsawan Jawa, Raden Mas Kertoadmodjo. Kepemilikan rumah kemudian berpindah ke seorang warga Belanda bernama F. H. Stout, pengawas proyek jalur kereta api legendaris Parakan-Secang.

Menariknya, Stout membeli rumah tersebut seharga 450 gulden, namun menjualnya kepada Hoo Tiang Bie dengan harga lebih rendah, yakni 300 gulden.
Saat ini, Omah Tjandi Gotong Royong menjadi salah satu destinasi sejarah menarik di Parakan.

Bagi pengunjung yang ingin melihat langsung jejak sejarah ini, dapat menghubungi pemandu wisata setempat. Video lengkap kunjungan ke Omah Tjandi Gotong Royong dapat disaksikan melalui tautan berikut: https://www.youtube.com/watch?v=NICFaXjYkm4

==

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikTravel. Anda bisa mengirim cerita perjalanan Anda melalui tautan ini.

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads