Begitu tiba di Bengkulu, langkah saya langsung tertuju ke Rumah Fatmawati Sukarno. Rumah bersejarah ini berada di Jalan Fatmawati Nomor 10, Kelurahan Penurunan, Kecamatan Ratu Samban, Kota Bengkulu.
Dari tepi jalan, bangunannya tampak sederhana dan tidak terlalu besar. Ada halaman di bagian depan yang bisa digunakan parkir motor. Sementara bagi pengunjung yang membawa mobil, harus mencari tempat parkir di luar area rumah.
Baca juga: Dari Rumah Kos Menjadi Museum Bersejarah |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat memasuki halaman, perhatian saya langsung tertuju pada patung perempuan setengah badan berkerudung yang berdiri tak jauh dari pagar. Patung itu jelas merepresentasikan sosok Ibu Fatmawati.
Rumah ini berbentuk rumah panggung khas Melayu, ditopang tiang-tiang kayu dan hanya terdiri dari satu lantai. Untuk masuk ke dalam, pengunjung harus menaiki tangga berubin putih menuju beranda. Sepatu ditinggalkan di tangga sebelum melangkah masuk.
Interior rumah didominasi material kayu. Dindingnya tersusun dari papan yang dicat, lantainya kayu berpelitur, sementara pintu utama terdiri dari dua daun pintu simetris dengan ventilasi khas rumah lama.
Begitu masuk ke ruang tamu, dua foto besar langsung menyambut foto Sukarno dan Ibu Fatmawati dalam pigura kayu besar. Di dinding lainnya terpajang berbagai foto yang merekam perjalanan hidup Fatmawati-dari masa muda hingga menjadi Ibu Negara pertama Republik Indonesia.
Dalam salah satu sudut ruangan, terdapat informasi bahwa rumah ini dibangun pada 1915. Di sinilah Fatmawati kecil tinggal bersama kedua orang tuanya, Hasandin dan Siti Chadidjah. Nilai historis rumah ini pun terasa begitu kuat.
Disambut Saudara Fatmawati
Menariknya, untuk masuk ke rumah ini tidak dipungut biaya. Saat berkunjung, saya disambut seorang bapak sepuh bernama Pak Marwan yang dengan ramah menjaga rumah tersebut. Ia bahkan tak segan membantu pengunjung mengambilkan foto.
Menurut Pak Marwan, rumah ini dibuka setiap hari pukul 09.00-16.00 WIB. Ia juga bercerita bahwa dirinya masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Fatmawati. Ayahnya adalah adik dari Hasandin, ayah Fatmawati. Artinya, Pak Marwan merupakan sepupu Fatmawati, meski terpaut usia jauh.
Rumah ini merupakan properti pribadi keluarga besar Fatmawati, dan Pemerintah Kota Bengkulu mempercayakan pengelolaannya kepada Pak Marwan.
Kepingan Memori Sang Penjahit Bendera
Di ruang tamu, saya menemukan sebuah foto yang memperlihatkan Sukarno, Inggit Garnasih, Ratna Djuami, dan sejumlah orang lainnya. Foto itu diambil di depan rumah tempat Sukarno tinggal selama pengasingannya di Bengkulu pada 1938-1942.
Dalam keterangan foto tertulis bahwa mereka adalah anggota perkumpulan olahraga bulu tangkis, dan Fatmawati termasuk salah satu anggotanya. Dari pergaulan inilah, kisah cinta Sukarno dan Fatmawati bermula.
Dari ruang tamu, saya diajak melihat kamar tidur Fatmawati. Di dalamnya terdapat ranjang besi lengkap dengan tirai. "Ranjang ini asli, yang dulu dipakai Ibu Fatmawati," ujar Pak Marwan.
Namun, benda paling bersejarah ada di kamar lainnya: sebuah mesin jahit tua. Mesin inilah yang digunakan Fatmawati untuk menjahit Sang Saka Merah Putih yang dikibarkan saat proklamasi kemerdekaan di Jakarta pada 17 Agustus 1945.
Melihat langsung mesin jahit itu membuat saya merinding. Inilah alasan utama saya datang ke Bengkulu-menyaksikan saksi bisu sejarah kemerdekaan Indonesia.
Pak Marwan menawari saya untuk berfoto bersama mesin jahit ini. Wuaahh, hati terasa membuncah seketika. Inilah yang memang saya cari di Bengkulu.
Saya kemudian menemukan sebuah foto yang menarik. Foto ini menunjukkan Ibu Fatmawati mengenakan kebaya, dan sedang berada di sebuah pesta. Di keterangan fotonya, Ibu Fatmawati sedang menari dan menyanyi bersama teman-temannya, saat sudah hidup terpisah dengan Bung Karno. Melihat foto ini, kembali aku tersenyum simpul.
---
Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikTravel. Anda bisa mengirim cerita perjalanan Anda melalui tautan ini.












































Komentar Terbanyak
Cair! Desa Wunut Bagikan THR untuk Seluruh Warga, Termasuk Bayi Baru Lahir
Garuda Indonesia Tidak Lagi Berstatus Bintang 5
Viral Bule Sebut Bali 'Neraka Dunia', Dispar Badung Bereaksi