Di antara deretan gedung tinggi dan padatnya lalu lintas, Jakarta menyimpan wajah yang berbeda. Jakarta memiliki hutan mangrove yang hijau dan menjadi benteng alami bagi pesisir ibu kota.
Situs Jakarta mangrove menyebut hutan mangrove di Jakarta Mangrove berperan penting sebagai benteng alami yang melindungi pesisir Jakarta dari abrasi dan perubahan iklim, sekaligus menjadi habitat beragam satwa seperti jalak putih, elang laut, biawak, serta berbagai ikan dan kepiting.
Mangrove membantu menyerap karbon, menjaga kualitas udara, dan menopang keanekaragaman hayati di tengah kawasan urban. Dengan ikut serta dalam penanaman mangrove, pemantauan satwa, dan edukasi lingkungan, Anda turut membantu melestarikan ekosistem penting ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam situs resmi sikomang milik Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta yang dikutip pada Senin (10/8/2026), terdapat 25 titik pemantauan mangrove di empat wilayah DKI Jakarta. Total luasan mangrove yang tercatat pada 2025 mencapai 608,22 hektare, terdiri dari 81,80 ha mangrove jarang, 213,44 ha sedang, dan 312,98 ha lebat.
Titik pemantauan hutan mangrove itu tersebar di banyak wilayah, sebagian menjadi destinasi wisata. Setidaknya ada lima hutan mengrve yang bisa disambangi traveler kota.
Berikut destinasi ekowisata mangrove Jakarta yang cocok masuk daftar liburan:
1. Kawasan Ekowisata Mangrove PIK
Kawasan ini berada di Jalan Katamaran Indah 1 RT.7, RT.1/RW.7, Kapuk Muara, Kecamatan Penjaringan, Kota Jakarta Utara. Kawasan ini memiliki jalur pedestrian di tengah rimbunnya hutan mangrove yang cocok untuk berjalan santai sambil menikmati udara segar.
Traveler juga bisa menjumpai monyet liar yang hidup di kawasan tersebut, memancing, atau berkumpul bersama keluarga dan teman.
Fasilitasnya cukup lengkap, mulai dari kafe, musala, toilet umum, area duduk, hingga area parkir. Kawasan ini juga kerap dimanfaatkan sebagai lokasi foto prewedding dan pengambilan gambar karena suasananya yang asri.
Harga tiket: Rp 2.000 per orang, parkir motor Rp 2.000, dan parkir mobil Rp 4.000, prewedding Rp 250.000, shooting Rp 750.000.
2. Taman Wisata Alam Angke Kapuk
Terletak di Jl. Mualim Teko, Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara, Taman Wisata Alam Angke merupakan satu-satunya kawasan konservasi alam di Jakarta yang dibuka untuk kegiatan wisata.
Kawasan seluas sekitar 99 hektare itu ditetapkan sebagai taman wisata alam pada 1998 dan menjadi habitat berbagai jenis burung air, reptil, serta satwa pesisir.
Selain berjalan menyusuri jalur tracking di tengah hutan mangrove, traveler juga bisa mencoba kano, speedboat, berkemah, hingga menginap di resort.
Jam operasional: Senin-Jumat 08.00-18.00 WIB, Sabtu-Minggu dan hari libur 07.00-18.00 WIB.
Tiket masuk: anak Rp 15.000 dan dewasa Rp 30.000 (weekday), anak Rp 20.000 dan dewasa Rp 35.000 (weekend), tiket family 4 orang Rp 80.000 (weekday) dan Rp 100.000 (weekend)
3. Hutan Mangrove Muara Gembong
Berjarak sekitar dua jam perjalanan dari Jakarta, Hutan Mangrove Muara Gembong berada di Desa Pantai Bahagia, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.
Kawasan ini menjadi salah satu benteng alami yang melindungi pesisir utara Jawa dari abrasi sekaligus habitat berbagai jenis burung, ikan, dan kepiting.
Jam operasional: Buka 24 jam.
4. Laguna Mangrove Pulau Untung Jawa
Dikutip dari pulauseribu.jakarta.go.id, Pulau Untung Jawa di Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, tidak hanya memiliki destinasi wisata pantai, tetapi juga memiliki sisi hijau berupa kawasan mangrove. Salah satunya adalah Laguna Mangrove, destinasi yang mengajak wisatawan menyusuri jalan setapak di antara rimbunnya tanaman bakau di tepi pulau.
Keberadaan mangrove menjadi bagian penting dari lanskap Pulau Untung Jawa. Bahkan, pada Januari 2026, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Seribu menanam 1.000 bibit mangrove di area Jembatan Pengantin sebagai bagian dari upaya menjaga ekosistem pulau-pulau berpenduduk.
Selain Laguna Mangrove, wisatawan dapat mengunjungi Jembatan Pengantin, yang berada di area dekat mangrove dan memungkinkan pengunjung berjalan menyusuri jalur di tepi laut serta menikmati pepohonan mangrove dan pohon pengantin.
5. Pulau Tidung Kecil
Berdasarkan informasi dari sikomang, Pulau Tidung Kecil di Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan merupakan pulau konservasi tanpa penduduk yang identik sebagai wisata hutan mangrove. Tempat ini terhubung dengan Pulau Tidung Besar lewat Jembatan Cinta sepanjang kurang lebih 800 meter.
Pulau Tidung Kecil memiliki kawasan mangrove dan dikembangkan sebagai ruang konservasi sekaligus ekowisata. Disebutkan bahwa kawasan mangrove di Pulau Tidung Kecil memiliki luas sekitar 1,43 hektare.
Kawasan itu menjadi habitat berbagai fauna, mulai dari ikan dan kepiting hingga biawak air dan sejumlah jenis burung. Jenis mangrove yang tumbuh di kawasan tersebut antara lain Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, dan Excoecaria agallocha.
Pulau Tidung Kecil juga memiliki fungsi sebagai hutan konservasi, pelindung pesisir, habitat flora dan fauna, serta kawasan ekowisata. Berbagai kegiatan penanaman mangrove terus dilakukan di pulau ini.
Selain menikmati suasana pulau yang lebih tenang, traveler dapat mengenal ekosistem mangrove dan aktivitas konservasi yang berlangsung di dalamnya. Pemerintah Kepulauan Seribu juga menjadikan Pulau Tidung Kecil sebagai bagian dari upaya pengembangan pusat informasi, konservasi, rehabilitasi, dan edukasi ekosistem pesisir.











































Komentar Terbanyak
Aturan Bagasi Baru Garuda Indonesia Diprotes
Pemerintah Thailand Panggil Dubes Israel, Ingatkan Warganya untuk Jaga Perilaku
5 Bayi Orang Utan 'Nyasar' Sejauh 3.600 Km di Hutan India