Rumah Rengasdengklok, Saksi Bisu Detik-Detik Menuju Proklamasi, Itu Masih Ada

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Rumah Rengasdengklok, Saksi Bisu Detik-Detik Menuju Proklamasi, Itu Masih Ada

Vicky Fadly Ardana Putra - detikTravel
Jumat, 14 Agu 2026 09:32 WIB
loading...
Vicky Fadly Ardana Putra
Rumah pengasingan Sukarno di Rengasdengklok (Vicky Fadly Ardana Putra)
Foto rumah pengasingan Sukarno di Rengasdengklok (Vicky Fadly Ardana Putra)
Bilik kamar Sukarno di rumah pengasingan Rengasdengklok (Vicky Fadly Ardana Putra)
Foto Djiaw Kie Siong pemilik rumah pengasingan Rengasdengklok (Vicky Fadly Ardana Putra)
Rumah pengasingan Sukarno di Rengasdengklok (Vicky Fadly Ardana Putra)
Rumah Rengasdengklok, Saksi Bisu Detik-Detik Menuju Proklamasi, Itu Masih Ada
Rumah Rengasdengklok, Saksi Bisu Detik-Detik Menuju Proklamasi, Itu Masih Ada
Rumah Rengasdengklok, Saksi Bisu Detik-Detik Menuju Proklamasi, Itu Masih Ada
Rumah Rengasdengklok, Saksi Bisu Detik-Detik Menuju Proklamasi, Itu Masih Ada
Rumah Rengasdengklok, Saksi Bisu Detik-Detik Menuju Proklamasi, Itu Masih Ada
Karawang -

Di balik rumah sederhana milik petani keturunan Tionghoa, sejarah kemerdekaan Indonesia ditentukan. Rumah Djiaw Kie Siong di Rengasdengklok, Karawang, menjadi saksi ketika golongan muda membawa Soekarno-Hatta ke sana pada 16 Agustus 1945, sehari sebelum Proklamasi Kemerdekaan.

Peristiwa itu melibatkan sejumlah tokoh pemuda, di antaranya Sukarni, Wikana, dan Chaerul Saleh, yang mendesak Soekarno-Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan setelah Jepang menyerah kepada Sekutu. Mereka membawa Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok agar keduanya jauh dari pengaruh Jepang dan dapat mengambil keputusan mengenai proklamasi.

Di Rengasdengklok, Soekarno-Hatta ditempatkan di rumah Djiaw Kie Siong, seorang petani keturunan Tionghoa. Rumah sederhana tersebut menjadi tempat singgah keduanya selama kurang dari 24 jam. Barulah kemudian mereka kembali ke Jakarta setelah tercapai kesepakatan mengenai pelaksanaan proklamasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kini, rumah Djiaw Kie Siong dikenang sebagai salah satu jejak penting menuju Proklamasi 17 Agustus 1945. Di balik bangunannya yang sederhana, tersimpan kisah tentang ketegangan antara golongan muda dan golongan tua serta desakan agar kemerdekaan Indonesia segera diproklamasikan.

Sejarah Rumah DjiawKieSiong

Keturunan generasi ketiga dari keluarga Djiaw Kie Siong, Lani, menceritakan rumah itu dibangun kakeknya pada 1920. Artinya, Rumah Djiaw Kie Siong berdiri sekitar 25 tahun sebelum peristiwa Rengasdengklok terjadi.

ADVERTISEMENT

"Ini rumah dibangun tahun 1920. Yang bangun kakek saya, Djiaw Kie Siong," kata Lani saat ditemui detikTravel pada Rabu (12/08/2026).

Rumah Dipindah Tanpa Mengubah Bentuk Aslinya

Destinasi yang ramai dikunjungi wisatawan itu telah dipindah dari lokasi aslinya, yakni di dekat Sungai Citarum. Lokasi lama Rumah Djiaw Kie Siong berada berjarak sekitar 200 meter dari bangunan sekarang.

Rumah Djiaw Kie Siong dipindah setelah kawasan tersebut terkena banjir dan abrasi. Lani menceritakan tentang pemindahan rumah yang dilakukan dengan membongkar di setiap bagian rumah, kemudian dipasang kembali di lokasi yang sekarang.

"Karena dulu di pinggir (sungai) Citarum sering kena banjir. Jadi pas kena banjir besar rumahnya dipindah ke sini," kata Lani.

Meskipun berpindah lokasi, bentuk rumah masih sama seperti aslinya. Bentuk rumah, tiang-tiang penyangga, altar, kursi semata, atap rumah, bilik kamar, hingga pintu persis seperti karakter rumah lama.

Rumah Djiaw Kie Siong sangat unik, ada perpaduan bangunan Jawa-Cina. Perpaduan itu terlihat dari atap bangunan seperti rumah joglo khas Jawa, namun di dalamnya terdapat ornamen khas Cina.

Wisatawan yang berkunjung dapat melihat tiga ruangan di Rumah Djiaw Kie Siong. Ruangan itu meliputi ruang tengah yang menjadi tempat perumusan naskah Proklamasi, kamar Bung Karno, dan kamar Bung Hatta.

Pengunjung dapat melihat ruangan yang dipakai istirahat Sukarno dan Hatta saat merumuskan naskah Proklamasi. Di dalam kamar itu, masih ada tempat tidur dan lemari asli berusia sekitar 80 tahun.

"Kalau yang sebelah kiri, itu kamarnya Bung Hatta. Kalau yang ini (sebelah kanan) dipakai Bung Karno," kata Lani sambil menunjukkan ruangan di dalam Rumah Djiaw Kie Siong.

Bukan Museum, Rumah Masih Ditempati Keluarga

Beda dengan banyak bangunan bersejarah yang dijadikan museum, Rumah Djiaw Kie Siong justru masih ditempati oleh keluarga. Keturunan Djiaw Kie Siong masih menempati dan merawat rumah itu sampai sekarang.

"Ini masih rumah keluarga, kami masih tinggal di sini dan masih dirawat," kata Lani.

Rumah. itu menjadi bagian penting dalam sejarah Indonesia karena tempat Sukarno dan rombongan diculik golongan muda dari Jakarta ke Rengasdengklok. Bangunan bersejarah ini bisa dikunjungi siapapun setiap harinya, dari pukul 08.00 hingga 16.00 WIB.

Tak ada biaya tiket masuk, pemilik rumah hanya menyediakan kotak donasi yang bisa diisi secara sukarela.

Pemilihan Rumah DjiawKieSiongRengasdengklok

Rumah Djiaw Kie Siong dipilih untuk mempersiapkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di zaman penjajahan tentara Jepang. Sukarno-Hatta dibawa oleh golongan muda ke lokasi terpencil untuk menghindari pengaruh dari tentara Jepang.

Keturunan keluarga Djiaw Kie Siong, Lani, menceritakan bahwa luas rumah Rengasdengklok paling luas di antara rumah lainnya. Lokasinya sekitar 20 kilometer dari pusat Karawang, dekat Sungai Citarum.

Travel Highlights
Kumpulan artikel pilihan oleh redaksi detikTravel
Kisah Naskah Proklamasi
Kisah Naskah Proklamasi
9 Konten
Penyusunan naskah proklamasi kemerdekaan RI memiliki alur yang berliku. Jejaknya tersimpan di tiga lokasi, di rumah pengasingan Rengasdengklok, kediaman Laksamana Tadashi Maeda, juga drumah bung Karno yang kini jadi Taman Tugu Proklamasi.
Artikel Selanjutnya
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads