Tak banyak yang tahu, naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ternyata diketik menggunakan mesin tik pinjaman. Mesin sederhana itu menjadi saksi penting lahirnya salah satu dokumen paling bersejarah bagi bangsa Indonesia.
Naskah Proklamasi yang dibaca oleh Soekarno pada 17 Agustus 1945 tak lepas dari peran Sayuti Melik. Dialah yang mengetik ulang naskah tersebut hingga menjadi teks yang kemudian dibacakan dalam momen bersejarah kemerdekaan Indonesia.
Dia mengetik naskah itu di kediaman Laksamana Tadashi Maeda, perwira Angkatan Laut Jepang yang saat itu menjabat sebagai Kepala Penghubung Angkatan Laut dan Angkatan Darat Jepang di Jakarta, di Jalan Imam Bonjol No. 1, Menteng. Kini, rumah itu menjadi Museum Naskah Proklamasi (Munasprok).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada malam menjelang pembacaan naskah proklamasi kemerdekaan, Soekarno, Mohammad Hatta, Ahmad Soebardjo, dan sejumlah tokoh lainnya berkumpul di rumah tersebut untuk merumuskan teks Proklamasi di sana. Di rumah itu ada mesin tik. Saat hendak mengetik naskah proklamasi, disadari bahwa mesin tik itu tidak familiar, mesin tik itu menggunakan huruf kanji.
Jenis huruf mesin tik tidak seperti keypad di HP atau keyboard di laptop yang gampang diubah settingan jenis hurufnya. Mesin tik umumnya hanya menyajikan satu jenis huruf.
detikTravel menelusuri kisahnya melalui keterangan Fajar Sunandar, seorang edukator di Museum Perumusan Naskah Proklamasi (Munasprok), melalui wawancara pada Selasa 912/8/2026).
Misi Meminjam Mesin Tik dari Jerman
Mesin tik di rumah Maeda menggunakan huruf kanji, diperlukan mesin tik dengan huruf Latin. Dari sinilah kisah peminjaman mesin tik bermula. Mesin tik yang digunakan Sayuti Melik disebut dipinjam dari kantor militer Angkatan Laut Jerman.
Saat itu kantor tersebut dipimpin Mayor Hermann Kandeler. Maeda meminta Satsuki Mishima untuk meminjam mesin tik dengan huruf alfabet Latin tersebut.
Satsuki merupakan asisten Maeda sekaligus sekretaris pribadi yang membantu urusan rumah tangga Maeda. Mesin tik itu kemudian digunakan untuk mengetik naskah Proklamasi.
Menariknya, pemilik mesin tik tersebut disebut tidak mengetahui bahwa barangnya digunakan untuk mengetik naskah bersejarah tersebut.
Mesin Tik Aslinya Masih Jadi Misteri
Fajar menjelaskan bahwa keberadaan mesin tik asli tersebut hingga kini belum diketahui. Bahkan, Jerman maupun Indonesia sama-sama tidak mengetahui keberadaannya.
"Hingga sekarang kita juga tidak tahu mesin ketiknya itu yang mana gitu yang dulu digunakan untuk mengetik naskah proklamasi intinya sih pihak Jerman juga tidak tahu kemudian kita juga sama tidak tahu jadi kalaupun misalkan mesin ketiknya saat ini masih ada di Jerman sana kita juga akan kesulitan ya mengidentifikasi mesin ketik," ujar Fajar.
Karena mesin tik aslinya tidak diketahui keberadaannya, pengelola museum kemudian mencari mesin tik yang setipe dan berasal dari zaman yang sama. Ciri-cirinya disesuaikan dengan mesin yang digunakan Angkatan Laut Jerman saat itu.
SatsukiMishima, Sosok Peminjam Mesin Tik Satsuki
Mishima merupakan salah satu staf yang bekerja di kediaman Laksamana Tadashi Maeda di Jakarta. Dia berada di rumah tersebut pada malam menjelang Proklamasi ketika para tokoh pergerakan berkumpul untuk merumuskan naskah kemerdekaan Indonesia.
Mishima bukan bagian dari tokoh yang merumuskan isi Proklamasi. Namun, keberadaannya sebagai staf di kediaman Maeda membuatnya mengetahui suasana rumah tersebut pada malam bersejarah itu.
Pada 1985, ia juga pernah diwawancarai tim kajian pendirian Museum Perumusan Naskah Proklamasi untuk memberikan kesaksian mengenai kondisi rumah Maeda saat itu.
Sayuti Melik, Wartawan dan Aktivis Pergerakan
Sebelum namanya lekat dengan Proklamasi, Sayuti Melik dikenal sebagai wartawan sekaligus aktivis pergerakan. Pria bernama lengkap Mohamad Ibnu Sayuti itu lahir di Sleman, Yogyakarta, pada 22 November 1908.
Kiprahnya di dunia jurnalistik membuatnya aktif menyuarakan gagasan kebangsaan dan beberapa kali berhadapan dengan pemerintah kolonial.
Sayuti juga dikenal melalui aktivitasnya di dunia pers dan keterlibatannya dalam pergerakan nasional. Dia pernah dipenjara karena delik pers pada masa kolonial. Pengalaman panjang sebagai wartawan dan aktivis kemudian membawanya berada dalam rangkaian peristiwa menjelang kemerdekaan Indonesia pada Agustus 1945.
Mesin tik itu mungkin telah berganti tangan dan hilang tanpa jejak. Namun dari ketikan yang dihasilkannya, lahir sebuah teks yang mengubah sejarah Indonesia dan tetap hidup setiap 17 Agustus.











































Komentar Terbanyak
Bandara Supadio Kacau, Penumpang Gelar Demo dan Nginap Masal
Jembatan Cirahong Bersolek, Cagar Budaya Peninggalan 1893 Kembali Dipercantik
Rumah Trump Dijaga Ketat, FAA Batasi Penerbangan di Langit Palm Beach