Jakarta memang selalu punya tempat-tempat unik untuk dieksplor, salah satunya Mie Sop Amanda. Pemiliknya, Dumaria Simbolon, membeberkan alasan kedai itu muncul di tengah toko buku.
Rumah makan itu menyajikan beragam menu mie khas Sumatera Utara. Namun Mie Sop Amanda bukan sekadar tempat untuk mengisi perut. Begitu masuk ke dalamnya, pengunjung akan menemukan rak-rak buku tinggi yang memenuhi ruangan.
Buku-buku tersebut bisa dibaca sambil makan. Bahkan kalau ada yang menarik hati, pengunjung juga bisa membelinya. detikTravel mencoba langsung pengalaman makan di Mie Sop Amanda pada Sabtu (22/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di balik tempat makan yang kini ramai diperbincangkan itu, ternyata tersimpan cerita dari sang pemilik, Dumaria Simbolon.
Sayang Anak Sampai Jadi Nama Usaha dan Tanggal Buka
Nama Mie Sop Amanda ternyata punya cerita personal bagi Dumaria. Amanda merupakan nama anak pertamanya. Tak hanya nama usaha yang terinspirasi dari sang anak.
Selain itu, Mie Sop Amanda pertama kali buka buat pelanggan juga sengaja dipilih berdasarkan tanggal lahir Amanda. Mie Sop Amanda resmi berdiri pada 12 Mei 2025. Angka 12 tersebut diambil dari tanggal lahir Amanda yang jatuh pada 12 Januari.
"Kenapa namanya Mie Sop Amanda? Karena nama anak pertamaku itu Amanda. Tanggal berdirinya ini sesuai anakku juga. Kan lahirnya 12 Januari, jadi ku samain lah 12 Mei. Aku juga merasa 12 Mei 2025 bagus juga nih tanggalnya," kata Dumaria.
Lika-liku Usaha Mie Sop Perjalanan
Mie Sop Amanda ternyata tak selalu mulus. Pada bulan pertama dan kedua setelah buka, tempat tersebut masih cukup ramai. Namun, Dumaria menyebut sebagian besar pengunjung saat itu merupakan teman-temannya.
"Bulan pertama itu masih banyak temanku dari gereja dan gym. Bulan kedua juga masih ada. Bulan ketiga kosong," ujarnya.
Memasuki bulan ketiga, kondisi berubah drastis. Pengunjung mulai sepi dan pendapatan bahkan pernah hanya menyentuh Rp 75 ribu.
Kondisi tersebut membuat karyawan Dumaria sempat berpikir untuk mundur. Mereka merasa tidak enak jika tetap menerima gaji sementara pemasukan rumah makan sedang minim.
"Pernah karyawan mau mundur. Nggak enak masa digaji padahal pendapatan cuma Rp 75.000. Langsung saya bilang nggak usah pikirin gaji," kata Dumaria.
Alih-alih menyerah, Dumaria memilih terus menjalankan usahanya. Dia percaya Mie Sop Amanda masih punya kesempatan untuk berkembang.
Berawal dari Mimpi Mau Viral
Dumaria sebenarnya sudah lama mencoba peruntungan di media sosial. Ia aktif membuat konten, salah satunya pernah melakukan siaran langsung sambil mukbang. Namun usahanya untuk viral tidak langsung membuahkan hasil.
"Dulu aku belajar gimana biar viral. Aku live apa aja, mukbang lah tapi belum pernah tuh viral," kata dia.
Dia kemudian mulai mengajak teman-teman yang datang untuk berfoto dan mengunggah pengalaman mereka di media sosial. Banyak orang yang ikut mendoakan agar Mie Sop Amanda suatu hari bisa viral.
"Tiap temenku datang ku ajak foto terus upload. Banyak yang ngaminin dan doain semoga viral, ya. Eh sekarang beneran. Pada bilang hebat kau ya," kata Dumaria.
Kini harapan tersebut perlahan menjadi kenyataan. Mie Sop Amanda semakin dikenal setelah banyak pengunjung ikut membagikan pengalaman mereka di media sosial. Dumaria pun semakin aktif meramaikan media sosial untuk memperkenalkan usahanya.
Tanggung Jawab dengan yang Udah Ada
Meski media sosial ikut membantu memperkenalkan Mie Sop Amanda, Dumaria tak mau hanya mengandalkan momen viral. Menurutnya, pelanggan yang datang karena melihat konten di media sosial tetap harus mendapatkan pengalaman yang sesuai dengan ekspektasi mereka.
Karena itu, ia memilih fokus pada tiga hal yakni pelayanan, tempat, dan cita rasa. Dumaria bahkan tidak berniat menambah banyak menu. Baginya, lebih baik memperkuat menu yang sudah ada daripada menawarkan terlalu banyak pilihan tetapi belum bisa dipertanggungjawabkan.
"Kayanya nggak (nambah menu), karena ini aja udah mantap asal bisa aku tanggung jawab," ujarnya.
Prinsip tersebut menjadi salah satu cara Dumaria menjaga kepercayaan pengunjung yang datang setelah melihat Mie Sop Amanda di media sosial.
Kritik adalah Bahan Evaluasi
Popularitas di media sosial tentu membawa beragam respons. Tak semuanya berupa pujian. Ibu Dumaria mengaku pernah menerima kritik dari pengunjung yang menilai ada bagian dari tempatnya yang masih perlu dirapikan. Namun, kritik tersebut tak dianggap sebagai serangan. Ia memilih menjadikannya sebuah bahan evaluasi.
"Ada yang fotoin dikirim ke saya, 'Kak tolong bikin agak rapi'. Saya balas mohon doanya biar bisa kita lebih bagus," katanya.
Dumaria juga mengajarkan karyawannya untuk pintar melihat situasi dan menjaga cara berbicara kepada pelanggan. Baginya, komentar negatif merupakan bagian dari perjalanan sebuah usaha. Yang penting adalah bagaimana kritik tersebut disikapi.
Ini Pengalaman Unik, Bukan Nyebelin
Di balik perjalanan panjang Mie Sop Amanda, Dumaria juga menyimpan sejumlah pengalaman unik bersama pelanggan. Salah satunya ketika ada pembeli yang merasa pesanannya terlalu lama. Padahal saat itu makanan sudah hampir selesai disiapkan.
Pesanan bahkan sudah dibungkus dan hanya tinggal ditambahkan kuah. Namun, pelanggan tersebut justru pergi meninggalkan pesanannya.
"Ada pembeli ngambek karena lama. Padahal udah dibungkus tinggal kuahnya tapi malah ditinggalin gak bayar," kata Dumaria.











































Komentar Terbanyak
Whoosh Belum Bikin Untung dari Tiket, tapi Benarkah Indonesia Rugi?
Pemerintah Thailand Panggil Dubes Israel, Ingatkan Warganya untuk Jaga Perilaku
5 Bayi Orang Utan 'Nyasar' Sejauh 3.600 Km di Hutan India