Sumur Lubang Buaya dan Jejak Peristiwa 1965 yang Masih Dipertahankan

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Sumur Lubang Buaya dan Jejak Peristiwa 1965 yang Masih Dipertahankan

Vicky Fadly Ardana Putra - detikTravel
Rabu, 30 Sep 2026 20:37 WIB
loading...
Vicky Fadly Ardana Putra
Diorama di rumah penyiksaan Lubang Buaya di Monumen Pancasila Sakti (Vicky Fadly)
Sumur Maut Lubang Buaya di Monumen Pancasila Sakti (Vicky Fadly)
Monumen Pancasila Sakti (Vicky Fadly)
Sumur Lubang Buaya dan Jejak Peristiwa 1965 yang Masih Dipertahankan
Sumur Lubang Buaya dan Jejak Peristiwa 1965 yang Masih Dipertahankan
Sumur Lubang Buaya dan Jejak Peristiwa 1965 yang Masih Dipertahankan
Jakarta -

Di tengah kompleks Monumen Pancasila Sakti, ada sebuah sumur tua yang tampak sederhana. Namun, tempat inilah yang menjadi salah satu titik penting dalam sejarah Indonesia pada 1965.

Sumur tersebut menjadi lokasi ditemukannya jenazah tujuh perwira TNI AD yang kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi. Peristiwa yang terjadi pada akhir September hingga awal Oktober 1965 itu dikenal sebagai Gerakan 30 September (G30S) dan menjadi salah satu peristiwa paling penting sekaligus kontroversial dalam sejarah Indonesia.

Dalam narasi sejarah yang berkembang pada masa Orde Baru, gerakan tersebut dikaitkan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan kemudian populer dengan sebutan G30S/PKI.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

DN Aidit, yang saat itu merupakan Ketua CC PKI, juga kerap disebut dalam pembahasan mengenai keterlibatan PKI dalam peristiwa tersebut. Namun, mengenai aktor dan tingkat keterlibatan masing-masing pihak dalam G30S, terdapat berbagai penafsiran di kalangan sejarawan

Sumur Lubang Buaya masih asli

Sumur tersebut kini berada di dalam kompleks Monumen Pancasila Sakti. Bentuknya masih dipertahankan di lokasi yang sama seperti dahulu, meski bagian tepinya kini diperkuat dengan semen agar tidak longsor.

ADVERTISEMENT

"Sumur ini masih aslinya dan memang lubangnya di situ. Adapun ada semen di situ, memang dulunya tidak ada semennya, hanya tanah bolong seperti sumur. Namun, untuk menjaga biar sumur ini tidak longsor, maka diberi semen," kata Kasubsi Koleksi Monumen Pancasila Sakti, Mayor Marinir Masnen kepada detikTravel, Kamis (24/9/2026).

Masnen menjelaskan sebelum peristiwa 1965 terjadi, sumur itu bukan satu-satunya sumber air yang digunakan warga sekitar kawasan Lubang Buaya. Kala itu, warga lebih sering memanfaatkan Sungai Sunter yang berada tidak jauh dari permukiman.

"Masyarakat sini saat itu banyak yang tidak menggunakan fasilitas sumur. Hanya membuat (sumur) untuk cadangan apabila musim kering. Rata-rata menggunakan fasilitasnya adalah Sungai Sunter. Dulu sungai yang besar, airnya juga jernih," kata dia.

Sumur tersebut menjadi salah satu titik yang paling dikenal wisatawan ketika berkunjung ke Monumen Pancasila Sakti.Namun, cerita di kawasan itu tidak hanya berhenti pada lubang sumur tempat jenazah korban perwira TNI AD ditemukan.

Tempat itu menjadi saksi bisu peristiwa G30S/PKI. Sumur tua tersebut dipakai untuk membuang 7 Pahlawan Revolusi bangsa Indonesia, yakni Letjen Ahmad Yani, Mayjen R Soeprapto, Mayjen MT Haryono, Mayjen S Parman, Brigjen Sutoyo Siswomiharjo, Brigjen DI Pandjaitan, dan Lettu Pierre Tendean.

Perkembangan kawasan Lubang Buaya

Sebelum menjadi kompleks monumen, kawasan itu dulunya permukiman seluas 5 hektare yang dikelilingi kebun karet. Kala itu, terdapat 13 rumah yang dihuni oleh 13 kepala keluarga.

Setelah Monumen Pancasila Sakti diresmikan, 10 rumah dihilangkan dan hanya tersisa tiga bangunan. Ketiga rumah yang tersisa adalah rumah penyiksaan, rumah pos komando, dan rumah dapur umum.

Masnen menyebut tak semua rumah tersebut memiliki kondisi keaslian yang sama. Rumah pos komando dan rumah dapur umum masih berdiri kokoh sebagai bangunan asli.

Sementara rumah penyiksaan pernah diratakan dan dibangun kembali menyerupai aslinya. Di ketiga bangunan tersebut, pengunjung dapat melihat sejumlah perabotan yang masih asli dipertahankan. Ia juga menyebut sekitar 80 persen dari isi perabotan di dalam rumah merupakan benda asli.

"Perabotan yang ada di dalamnya 80 persen seluruhnya asli. Namun ada beberapa yang sudah replika, karena hilang," kata Masnen.

Upaya mempertahankan suasana lama juga terlihat dari bagian bangunan. Saat genteng mengalami kerusakan, pengelola monumen tidak sekadar menggantinya dengan genteng baru.

Masnen mengatakan pengelola mencari gentang yang dibuat pada periode yang sama dari kawasan Halim. Cara itu dilakukan agar material pengganti tetap memiliki karakter yang sama dan mendekati benda aslinya.

"Masih aslinya semua genteng ini... Cuma memang kita kalau mencari ada yang pecah, memang kita mencari di kompleks Halim yang dibangun sama dengan tahunnya persis. Jadi kita ambil genteng-genteng yang serupa. Namun dia buatannya sama di tahun itu. Bukan pesan baru," kata dia.

Di area monumen, perawatan juga dilakukan secara berkala. Ketika ada bagian rumah yang mulai rusak, seperti bilik atau plafon, pengelola segera memperbaikinya dengan tetap berusaha mempertahankan bentuk asli bangunan saksi bisu peristiwa 1965.

Selain menyimpan jejak tragedi, rumah-rumah tersebut juga menyimpan cerita kehidupan masyarakat Lubang Buaya sebelum kawasan itu menjadi kompleks sejarah. Salah satunya adalah rumah pos komando, dulunya milik Haji Sueb.

Bapak Sueb merupakan seorang pedagang kelapa yang tidak terlibat dalam kegiatan PKI. Sementara rumah dapur umum dulunya merupakan rumah milik Ibu Amroh.

Dia adalah seorang warga lokal yang bekerja sebagai pedagang pakaian keliling. Ada pula rumah penyiksaan yang sebelumnya aktif digunakan sebagai sekolah rakyat. Jejaknya masih dapat dikenali dari keberadaan papan tulis dan bangku di dalamnya.

Kawasan yang dulu hanya berupa permukiman kecil, kini berubah menjadi tempat untuk mengenang salah satu tragedi penting dalam sejarah Indonesia. Sumur tua, rumah-rumah lama, serta benda-benda yang masih dipertahankan membuat pengunjung dapat melihat jejak masa lalu tidak hanya lewat diorama dan museum.

Berkunjung ke Sumur Lubang Buaya bukan sekadar melihat sebuah lubang sumur berusia tua. Di tempat ini, traveler dapat menyaksikan bagaimana sebuah kawasan yang pernah menjadi permukiman warga dipertahankan sebagai tempat untuk mengenang sejarah, lengkap dengan bangunan dan benda yang masih dirawat hingga sekarang.

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads