Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 02 Mei 2013 13:24 WIB

DESTINATIONS

Inilah Makam Paling Sakral di Yogyakarta

detikTravel
Pintu masuk menuju kompleks makam raja-raja dari Sri Susuhunan Pakubuwono I-XII dari Kasunanan Surakarta (Bagus/detikTravel)
Jakarta - Letaknya di perbukitan memberi kesan tersendiri. Komplek yang cantik membuat wisatawan tergoda dengan panoramanya. Inilah Makam Imogiri, komplek pemakaman yang paling sakral di Yogyakarta.

Makam Imogiri di Bantul merupakan komplek makam bagi raja-raja dinasti Mataram Islam. Makam Imogiri terletak di Dusun Pajimatan Desa Giriloyo Kecamatan Imogiri, Yogyakarta.

Makam yang terletak di perbukitan itu berada sekitar 12 kilometer arah selatan Kota Yogyakarta. Untuk menuju komplek makam ini sangatlah mudah. Bila kita menggunakan kendaraan bermotor, kita bisa melewati Jl Imogiri Timur atau dari selatan Terminal Penumpang Yogyakarta (TPY) Giwangan, langsung berjalan lurus hingga masuk wilayah Imogiri. Sekitar 20 menit dari tempat itu, sudah sampailah ke komplek makam raja-raja di Imogiri.

Makam Imogiri didirikan oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma sekitar tahun 1632-1640. Sultan Agung dikenal sebagai salah satu raja dinasti Mataram keturunan ketiga dari Panembahan Senopati yang melawan VOC di Batavia. Saat Sultan Agung wafat juga dimakamkan di tempat ini. Beliau juga memutuskan makam Imogiri menjadi makam dinasti Mataram hingga raja-raja keturunan Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.

Makam Imogiri terbagi tiga bagian. Bagian tengah merupakan kompleks makam yang pertama kali dibangun oleh Sultan Agung. Sedangkan bangunan kedua dan ketiga merupakan kompleks makam untuk keturunan Kasunanan Surakarta dan Kasultan Ngayogyakarto Hadiningrat.

Komplek makam Kasunanan berada di sebelah kanan atau barat dari komplek makam Sultan Agung. Sedangkan Komplek makam Kasultanan berada di sebelah kiri atau timur makam Sultan Agung.

Untuk menuju komplek makam yang berada di perbukitan, dari tempat parkir kendaraan bisa langsung berjalan kaki menuju makam. Setelah melewati Masjid Pajimatan, naiki saja tangga makam yang berjumlah sekitar 400 anak tangga.

Setelah tiba di tangga teratas dekat gapura sapit urang, wisatawan bisa berjalan lurus menuju komplek makam Sultan Agung. Apabila ke kiri, menuju komplek makam Kasunanan Surakarta, sedang ke kanan menuju komplek makam Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Bangunan komplek makam Sultan Agung terbuat dari batu bata tanpa semen sehingga bentuk atau tekstur bata bata lama terlihat dan terkesan artistik. Model pintu gerbang mirip model pintu gerbang padurasa yakni perpaduan antara gaya Jawa Timur dengan Bali.

Sedangkan bangunan komplek makam Kasultanan dan Kasunanan juga menggunakan batu bata. Namun hampir semua tembok bangunan sudah disemen dan dicat. Di sekitar tempat itu banyak pohon-pohon langka yang masih terpelihara di antaranya pohon kantil, nogosari, cengkeh, mahoni, jati dan lain-lain sehingga tempat itu tampak sejuk karena tertutup oleh rindangnya pepohonan.

Komplek makam Sultan Agung mulai buka sejak pukul 08.00-16.00 WIB dan malam hari mulai pukul 20.00 WIB. Pintu utama makam Sultan Agung selalu tertutup dan dijaga 24 jam penuh oleh para abdi dalem. Untuk memasuki komplek makam baik makam Sultan Agung maupun Kasultanan dan Kasunanan peziarah harus mengenakan pakaian adat Jawa baik gaya Yogyakarta atau Surakarta.

Tak perlu bingung saat tidak membawa pakaian adat. Di sekitar tempat itu ada banyak warga atau pemilik warung makan yang menyewakan pakaian adat sebagai salah satu syarat utama masuk makam.

Di komplek makam Sultan Agung, para peziarah yang tidak mengenakan pakaian adat hanya diperbolehkan sampai pendopo tempat para abdi dalem berjaga. Di komplek itu dijaga 2 abdi dalem yakni abdi dalem Kasultanan dan abdi dalem Kasunanan.

Di kanan-kiri pintu masuk makam Sultan Agung terdapat 4 buah gentong besar yang disebut Kong Enceh yang berfungsi sebagai tempat membersihkan kaki. Dua buah Kong di sisi timur dinamai Kyai Mendung dari Ngerum (Romawi-red) dan Nyai Siyem dari Siam Thailand. Sedangkan di sebelah barat ada Kyai Danumaya dan Nyai Danumurti.

Pada hari Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon minggu pertama bulan Syura atau Suro berdasarkan Kalender penanggalan Jawa, selalu diadakan ritual nguras/membersihkan kong enceh tersebut. Makam Sultan Agung ramai dikunjungi para peziarah setiap malam Selasa Kliwon dan malam Jumat Kliwon. Sedangkan pada hari-hari biasa tidak terlalu ramai pengunjung.

Di komplek makam tersebut, nama Sultan Agung Hanyokrokusumo telah ditetapkan menjadi pahlawan nasional. Selain makam Sultan Agung, di sebelah timur terdapat komplek makam raja-raja Kasultanan Yogyakarta.

Saat detikTravel berkunjung di makam Sultan Agung ada sekitar 50 warga Pati Jawa Tengah yang tengah menggelar doa bersama di satu pendopo depan makam. Selama lebih kurang 1 jam, para peziarah memanjatkan doa bersama.

"Kami sengaja ziarah ke makam Sultan Agung karena beliau sebagai raja Jawa yang berani melawan Balanda. Perang dengan VOC di Batavia," kata salah satu peziarah Suharyoso.

Di tempat itu dimakamkan Sri Sultan Hamengku Buwono I hingga Sri Sultan Hamengku Buwono IX, kecuali Sri Sultan Hamengku Buwono II. Beliau dimakamkan di selatan kompleks makam Kotagede Yogyakarta.

Di komplek makam Kasultanan juga terpasang papan nama yang menyebutkan Sri Sultan Hamengku Buwono I dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai pahlawan nasional.

Sedangkan komplek makam Kasunanan Surakarta berada di sebelah barat makam Sultan Agung. Di komplek itu dimakamkan Sri Susuhunan Paku Buwono I-XII. Di depan kompleks makam keluarga PB X juga terdapat papan nama yang menyebutkan PB X sebagai pahlawan nasional.

(sst/sst)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA