Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau


Senin, 30 Jan 2017 16:35 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Tak Hanya Tongkonan, Makam Juga Jadi Penanda Status Sosial Orang Toraja

Bona
Redaksi Travel
Makam bangsawan Toraja (Bonauli/detikTravel)
Makam bangsawan Toraja (Bonauli/detikTravel)
Tana Toraja - Masyarakat Toraja punya cara berbeda dalam menyatakan status sosial. Bukan cuma lewat tongkonan, makam pun jadi cara orang Toraja menyatakan status sosialnya.

detikTravel mendapat kesempatan dari Kementerian Pariwisata, Senin (30/1/2017) untuk berkunjung ke Kete Kesu di Toraja. Kete Kesu merupakan desa adat yang masih aktif sampai sekarang.

Salah satu obyek wisata yang jadi incaran adalah kubur tebing yang ada di belakang desa. Traveler akan melihat perbedaan kubur tergantung dari derajatnya.

Kubur paling pertama yang akan traveler lihat adalah kubur para bangsawan. Makam para bangsawan dibuat terpisah dalam bentuk rumah. Masyarakat menyebutnya Patane' atau Banua Tame Rambo.

Patane' memiliki arti kubur modern, Sedangkan Banua Tame Rambo adalah rumah yang tak berasap. Rumah yang tak berasap adalah lambang bahwa tempat tersebut tidak memiliki kehidupan.

Makam milik bangsawan (Bonauli/detikTravel)Makam milik bangsawan (Bonauli/detikTravel)
Dulu orang Toraja menguburkan para bangsawan di tebing dengan letak yang lebih tinggi dari masyarakat non bangsawan. Tapi karena sudah sangat sulit mencapainya akhirnya dibuatlah Patane'.

Di depan pintu Patane' akan ada boneka kayu pahatan orang tua yang menjadi lambang dari leluhur keluarga. Peti berbentuk bulat pun terlihat dikunci dari luar. Inilah perbedaan status sosial bangsawan, peti yang berbentuk bulat.

Saat ini Kete Kesu masih memiliki 5 keluarga bangsawan. Mereka adalah Ne Reba, Sule Datu, Bubung Batu, Pong Panimba dan Ne Sonto.

Makam leluhur dengan peti seperti rumah tongkonan (Bonauli/detikTravel)Makam leluhur dengan peti seperti rumah tongkonan (Bonauli/detikTravel)
Naik ke atas tebing, traveler akan melihat peti dengan atap seperti tongkonan digantung di pinggir tebing. Peti-peti yang digantung adalah makam milik para leluhur. Mereka masih menganut agama Aluk To Dolo atau animisme.

Tengkorak-tengkorak leluhur pun di jejerkan dia atas peti. Sedangkan tulang-tulangnya dimasukkan ke dalam peti. Beberapa batang rokok terselip di bawah tengkorak.

"Itu seperti tanda permisi dari turis yang lewat atau mau foto. Kalau tidak kasih juga tidak apa-apa, asalkan bilang tabe yang artinya permisi," Ujar Sandy Todingan, seorang guide di Gua Malilin.

Di tengah perjalanan akan ada sekumpulan boneka kayu yang dimasukkan ke dalam gua dan diberi pagar. Ini adalah boneka-boneka peninggalan leluhur yang jadi incaran para kolektor barang antik.

Tengkorak yang berderet di atas peti (Bonauli/detikTravel)Tengkorak yang berderet di atas peti (Bonauli/detikTravel)


Boneka kayu yang diberi pagar supaya tidak dicuri (Bonauli/detikTravel)Boneka kayu yang diberi pagar supaya tidak dicuri (Bonauli/detikTravel)
Boneka-boneka ini tadinya diletakkan di depan peti sebagai tanda bahwa itu adalah kubur miliknya. Dan hanya para bangsawan yang boleh memiliki boneka ini. Harganya juga tak main-main, Satu boneka bisa dihargai Rp 10-25 juta lho!

Di paling atas, traveler akan menemukan Gua Malilin. Mulut gua menjadi tempat pemakaman masyarakat Kete Kesu setelah menganut agama. Ada yang digantung di atas mulut gua, ada juga yang diletakkan di ruangan yang dibuat khusus untuk satu keturunan.

Di makam ini traveler bisa lihat barang-barang milik keluarga yang ikut dikuburkan bersama mayat. Ini menjadi kewajiban ketika seseorang meninggal. Masyarakat lokal percaya ketika seseorang meninggal dan barang pribadinya tidak dikuburkan bersama maka orang tersebut akan terus datang ke dalam mimpi sanak saudaranya. (bnl/krn)
BERITA TERKAIT
Load Komentar ...
NEWS FEED
Tapal Batas

Potret Masjid Terjauh di Indonesia

Senin, 29 Mei 2017 07:52 WIB

Inilah masjid Al Aqsha di Merauke, Papua. Masjid yang punya arti terjauh, punya makna memang masjid ini cukup jauh dari mana-mana dan di ujung timur Indonesia.