Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 30 Mar 2017 14:30 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Lukisan Purba di Gua Maros Ini Berusia 40.000 Tahun?

Afif Farhan
Redaksi Travel
Cap tangan di dinding gua (Naryani Soepandi/dtraveler)
Cap tangan di dinding gua (Naryani Soepandi/d'traveler)
Maros - Ini adalah salah satu keajaiban di Indonesia bagian tengah. Tepatnya di Maros, Sulawesi Selatan terdapat lukisan purba yang diperkiran berumur 40.000 tahun!

Taman Prasejarah Leang-leang, merupakan salah satu destinasi wisata di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Gua Pettae dan Pettae Kere, adalah gua-gua di sana yang memiliki lukisan purba. Lokasinya di sisi jalan Poros Leang-Leang, waktu tempuhnya sekitar 1 jam dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar.

Pallab Ghosh, seorang wartawan sains dari BBC pernah mengulas tentang lukisan purba tersebut. Seperti dilihat detikTravel, Kamis (30/3/2017) Para ilmuwan dari Australia dan Indonesia meneliti lapisan stalaktit di gua itu yang menutupi lukisan-lukisan tersebut.

Dr Maxime Aubert, dari Universitas Griffith di Queensland, Australia, yang meneliti umur lukisan itu menerangkan bahwa salah satu di antaranya kemungkinan lukisan sejenis yang paling kuno. "Usia lukisan ini adalah 39.900 tahun, dan merupakan lukisan stensil tangan tertua di dunia," katanya.

Kawasan Leang-leang (Naryani Soepandi/d'traveller)Lukisan cap tangan di dalam gua (Dok ACI/Oke Hastiawan)
Lukisan purbanya berupa cap tangan, gambar matahari, gambar pohon kelapa, gambar binatang ternak seperti sapi, kuda. Diyakini, lukisannya dibuat oleh suku Muna yang mendiami kawasan setempat.

Jika diamati, lukisan-lukisan itu menggambarkan cara hidup masyarakat suku Muna mulai dari bercocok tanam, beternak, berburu, sampai peperangan. Para 'seniman purba' membuat lukisan itu dengan menempelkan cat dengan tangan ke dinding dan langit-langit gua.

Usut punya usut, lukisan dua di Leang-leang lebih tua dibanding lukisan purba di Gua Chauvet, di Prancis sana. Awal penelitian di Leang-leang sudah dimulai pada tahun 1950 oleh dua arkeolog Belanda, Van Heekeren dan Heeren Palm.

Kawasan Leang-leang (Naryani Soepandi/d'traveller)Kawasan Leang-leang (Naryani Soepandi/d'traveller)
Dr Adam Brumm, salah seorang pemimpin peneliti di Sulawesi mengatakan pada BBC banyak tempat di Asia dan juga Australia, memiliki karya seni yang sangat tua namun belum secara akurat diteliti usianya.

Sementara itu, Dr Muhammad Ramli, pakar arkeologi, mengatakan lukisan di Maros ini terkikis polusi akibat industri lokal. "Pada awal tahun 1980an, banyak lukisan gua di situs ini dalam bentuk stensil tangan, seperti yang Anda lihat sekarang. Dan banyak yang rusak," kata Muhammad.

"Perlu dilakukan studi konservasi untuk mencari cara terbaik dalam menjaga situs-situs ini sehingga lukisan yang ada tetap bertahan," tambahnya.

Tiket masuk ke Leang-leang sendiri sekitar Rp 10 ribu. Mari datang ke sana dan lihat lukisan purbanya. Jangan sampai dirusak ya!

Salah satu lukisan di dalam guanya (Endah RH/d'Traveler)Salah satu lukisan di dalam guanya (Endah RH/d'Traveler)
(bnl/bnl)
BERITA TERKAIT
Load Komentar ...
NEWS FEED