Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Kamis, 01 Agu 2013 15:29 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Bum! Festival Meriam Karbit Ramaikan Lebaran di Pontianak

Festival Meriam Karbit di Pontianak (skyscrapercity.com)
Pontianak - Tiap malam sebelum Lebaran, puluhan meriam karbit dalam kayu besar berjejer di bantaran Sungai Kapuas. Saat meriam ditembakkan, dentumannya terdengar sampai 5 Km jauhnya. Inilah Festival Meriam Karbit yang rutin digelar di Pontianak.

Tradisi Meriam Karbit digelar selama 3 malam, dari hari sebelum Lebaran sampai hari setelah Lebaran. Puluhan kelompok warga, masing-masing mewakili gang atau RT, berkumpul di kedua sisi Sungai Kapuas. Masing-masing kelompok punya lima sampai belasan meriam karbit.

Meriam pun ditembakkan menjelang adzan maghrib, menandai waktunya buka puasa. Dentumannya sangat keras, terdengar hingga radius 5 Km jauhnya. Namun masyarakat Pontianak menyambutnya dengan sukacita. Dentuman puluhan meriam membahana dari kedua sisi Sungai Kapuas.

Festival Meriam Karbit digelar rutin setiap tahun. Ini merupakan salah satu tradisi masyarakat Pontianak yang tak lepas dari asal usul sejarah kota tersebut.

"Ada 2 versi sejarah, dua-duanya awalnya sama, mulai dari Sultan Syarif Abdurrahman membuat Kota Pontianak," tutur Fitri (26), traveler domisili Pontianak yang bekerja di Jakarta.

Saat dihubungi detikTravel, Kamis (1/8/2013), Fitri menjelaskan dua versi hadirnya Festival Meriam Karbit. Pertama, meriam itu ditembakkan oleh Sultan pertama dari Kesultanan Pontianak, Syarif Abdurrahman untuk menentukan di mana ia akan membangun Kota Pontianak.

"Versi kedua, untuk mengusir kuntilanak yang katanya mengganggu pasukan Sultan saat sedang membangun kota," tambah Fitri.

Versi kedua adalah yang paling terkenal. Waktu pertama tiba di wilayah tersebut, sang Sultan menyusuri Sungai Kapuas bersama pasukannya. Pohon-pohon kemudian ditebang untuk membuat kota tempat tinggal. Tapi konon, para pasukannya diganggu oleh kuntilanak.

Singkat cerita, Sultan Syarif Abdurrahman menembakkan meriam ke arah hutan untuk mengusir para kuntilanak itu. Dari situlah tradisi Meriam Karbit digelar. Ada masa di mana meriam ditembakkan untuk memberitahu waktu adzan maghrib, karena waktu itu masjid-masjid belum punya alat pengeras suara.

Namun sekarang, Festival Meriam Karbit menjadi penanda buka puasa di bulan Ramadan sekaligus hari-hari Idul Fitri. Ini adalah festival yang paling ditunggu-tunggu masyarakat Pontianak dan sekitarnya. Festival Meriam Karbit bahkan menarik minat wisatawan dari luar Pulau Kalimantan.

"Sauranya kenceng banget. Rumah saya di tengah kota dan suaranya masih terdengar. Biasanya rumah-rumah di sekitar Sungai Kapuas kacanya pasti bergetar tiap meriam karbit ditembakkan," tutur Fitri.

Tahun 2007, Festival Meriam Karbit di Kota Pontianak telah memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) dengan jumlah 150 meriam. Rekor tersebut kembali dipecahkan oleh Festival Meriam Karbit yang digelar tahun 2009, dengan dentuman 198 meriam sepanjang malam!

(shf/shf)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA