Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 06 Okt 2015 19:30 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Balada Jalan Buruk Rupa di Pedalaman Sulawesi, Motor Pun Dimodifikasi

Silvia Galikano
detikTravel
Padalaman di Kecamatan Pipikoro (Silvia/detikTravel)
Sigi -

Menjelajah pedalaman Indonesia di Sulawesi, adalah campuran petualangan sekaligus prihatin. Jalanan buruk menyusahkan masyarakat. Tapi mereka tak kehabisan akal.

Desa Porelea di Kecamatan Pipikoro, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah berada di lereng dengan tingkat kemiringan rata-rata di atas 30 persen. detikTravel bertualang ke sana pekan lalu.

Akses ke desa ini adalah jalan setapak sempit diapit bukit dan jurang, hanya muat satu sepeda motor. Jika berpapasan dengan sepeda motor di arah berlawanan, salah satu harus menepi dulu.



Jalan setapak yang sempit dan berbatu itu pun punya tikungan. Istilah orang sini adalah 'sikungan', mengacu pada siku tangan ketika ditekuk. Jika tikungan adalah kelokan yang lebar, sikungan adalah tikungan tajam nyaris 170 derajat. Bahkan tak jarang menyikung itu sekaligus menanjak atau menurun.

Belum lagi kalau musim hujan. Jalan sempit itu bagai arena off-road. Tampilan sepeda motor, pemotor, dan penumpangnya, begitu sampai tujuan seperti baru selesai berkubang. Penuh lumpur.

Menghadapi medan yang ekstrem begini, semua sepeda motor di Porelea serta Kecamatan Pipikoro hampir dipastikan sudah dimodifikasi, apa lagi yang dijadikan ojek. Sepeda motor bebek standar pabrik tak akan bertahan satu kali perjalanan Gimpu-Porelea yang jaraknya 24 km, ditempuh dalam 2 jam. Dijamin bakal rontok di jalan dan Gimpu adalah wilayah terakhir yang dapat dilewati kendaraan roda 4.



Sepeda motor standar terlebih dahulu dibawa ke bengkel di Gimpu untuk dimodifikasi yang menghabiskan lebih dari Rp 2 juta. Tak terkecuali sepeda motor milik Camat Pipikoro, Smar, yang bagai kantor berjalan karena menyimpan macam-macam alat kerja, dari stempel sampai laptop.

Smar lebih banyak menghabiskan waktu mengunjungi desa-desa yang jadi wilayahnya ketimbang duduk manis di kantor camat. Baju ganti beberapa helai wajib ada sebab tak jarang dia menginap di rumah penduduk. Mari tengok modifikasi apa saja yang sudah dilakukan untuk motornya:



1. Setir dinaikkan.
2. Rasio gear dari 13-38 diubah jadi 13-45.
3. Ban diganti yang besar dan bergigi.
4. Shockbreaker diganti yang tinggi.
5. Knalpot diganti knalpot racing biar pendek.
6. Busi dibungkus karet agar tak kena air.
7. Injakan kaki ditelanjangi tinggal besi saja, agar tidak kandas di jalan yang cekung. Di sepeda motor lain, malah ada yang dibuang, sehingga kaki pemotor nangkring di mesin, agak ke belakang.
8. Rem belakang dicopot untuk mencegah kandas di jalan yang cekung atau tersangkut akar pohon.
9. Klakson dicopot karena tak ada yang sempat memencet klakson. Konsentrasi sudah habis untuk memperhatikan jalan dan mempertahankan keseimbangan motor.

Wow, ada-ada saja. Sungguh balada menjelajah pedalaman Indonesia.

(fay/fay)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA