Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 30 Sep 2017 18:25 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Saksi Bisu Lahirnya Jenderal Ahmad Yani

Rinto Heksantoro
detikTravel
Rumah Jenderal TNI Ahmad Yani (Rinto Heksantoro/detikTravel)
Rumah Jenderal TNI Ahmad Yani (Rinto Heksantoro/detikTravel)
Purworejo - Sang Pahlawan Revolusi Jenderal TNI Ahmad Yani dibesarkan di Kabupaten Purworejo. Sebuah rumah dengan desain Belanda menjadi saksi bisunya.

Rumahnya terletak di Desa Rendeng RT 01 RW 02, Kecamatan Gebang, Kabupaten Purworejo Jawa Tengah. Dengan luas 1000 meter persegi inilah Yani lahir dan kini ditempati oleh kerabatnya.

"Dibuat sekitar tahun 1930-an, sampai sekarang kami yang menempati sekalian merawat rumah sejarah peninggalan simbah ini," kata Aprilia kepada detikTravel, Sabtu (30/9/2017).

"Setiap setahun sekali kan keluarga besar Pak Yani pasti kumpul di sini terutama saat lebaran. Ini kan juga sebagai pesanggrahan keluarga. Jadi kalau mau diminta pemerintah ya kami nggak boleh," lanjutnya.

Saksi Bisu Lahirnya Jenderal Ahmad YaniRuang keluarga (Rinto Heksantoro/detikTravel)


Sempat beberapa kali direnovasi, namun keaslian bangunan yang dibuat sekitar tahun 1930-an itu masih tampak jelas. Yani sendiri ahir di Purworejo, 19 Juni 1922. Ia pernah merenovasi rumah itu pada tahun 1962 – 1963. Meski menjadi rumah sejarah, namun pihak keluarga tidak mengizinkan pemerintah memintanya agar menjadi aset cagar wisata yang dimiliki pemerintah.

Yani merupakan anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Sardjo Wongsorejo (Alm) dan Murtini Wongsorejo (Almh). Kini, rumah yang dibangun oleh orang tuanya itu ditempati oleh Aprilia Judianti (47), keponakan Sang Pahlawan Revolusi bersama suami, Bambang Purnawanto (48) dan anaknya, Devina Aulia Marselli (16)

Kata suami Aprilia, meskipun tidak diizinkan untuk dimiliki pemerintah bukan berarti warga tidak bisa berwisata di rumah sejarah tersebut. Siapa pun yang hadir akan diterima dengan baik dan dipersilahkan belajar sejarah di rumah itu.

Tempat tidur yang masih asliTempat tidur yang masih asli (Rinto Heksantoro/detikTravel)


"Silakan kalau mau datang siapa saja kami terima. Pelajar-pelajar dan anak-anak malah yang sering ke sini mas, biasanya pas ada pelajaran sejarah atau bahasa, mereka biasanya belajar di sini dan kami berikan informasi atau pengetahuan terkait sejarah Pak Yani," jelas Bambang.

Di mata keluarga, sosok jenderal bintang dua itu merupakan sosok yang pemberani, baik, disiplin, berwibawa dan mengayomi keluarga. Keluarga merasa sangat kehilangan ketika pahlawan yang jadi panutan keluarga itu harus wafat di usia muda karena menjadi korban dalam serangan G 30 S/PKI tahun 1965 silam.

"Pak Yani adalah sosok yang baik, disiplin, dan menjadi panutan keluarga. Meskipun harus wafat di usia muda tapi kami bangga menjadi anggota keluarga beliau," pungkasnya.

Hingga kini, rumah dengan cat warna putih dan kombinasi abu-abu di beberapa sudutnya itu terawat dengan baik. Kondisi ruangannya pun tertata apik, bahkan kamar tidur milik sang jenderal itu pun tidak dirubah sama sekali.

Yuk belajar sejarah ke sana. (msl/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA